Media Israel Kritik Netanyahu, Bisa Perang dengan Turki
Keputusan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melancarkan serangan ke wilayah Suriah mendapat sorotan tajam dari media Israel, Haaretz. Surat kabar tersebut menilai eskalasi militer Israel justru berisiko membuka konflik baru yang tidak perlu dengan Turki.
Dalam editorial yang terbit pada Minggu (23/8/2026), Haaretz menyoroti keputusan Netanyahu membuka front baru di Suriah ketika sejumlah negara justru sedang berupaya membantu menstabilkan kondisi negara tersebut.
“Ketika kami bertanya-tanya apakah, menjelang pemilu, Benjamin Netanyahu akan memilih untuk berperang di Gaza atau Lebanon, atau mungkin memicu Tepi Barat, dia memutuskan untuk melakukan langkah di Suriah utara, memperluas front dengan Turki,” tulis Haaretz.
Menurut Haaretz, retorika Israel yang semakin keras terhadap Turki dalam beberapa bulan terakhir kini berkembang menjadi tindakan militer. Hal itu terlihat setelah pesawat Israel menyerang Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah utara, pada Selasa (18/8/2026).
Baca Juga : AS-Turkiye Murka Israel Serang Suriah Lagi
Serangan tersebut terdiri dari delapan hantaman terhadap landasan pacu dan menyebabkan kerusakan pada infrastruktur pangkalan militer.
Alasan Israel Serang Pangkalan Suriah Dipertanyakan
Haaretz menghubungkan serangan tersebut dengan pernyataan Netanyahu yang menyebut operasi dilakukan untuk mencegah perluasan kehadiran militer Turki di Suriah.
Namun, klaim tersebut mendapat bantahan dari Ankara maupun Washington. Keduanya mempertanyakan alasan Israel menyerang pangkalan tersebut dan mengaitkannya dengan situasi politik menjelang pemilu Israel.
Keraguan semakin menguat setelah sumber dari Kementerian Pertahanan Turki mengonfirmasi bahwa tidak terdapat misi militer Turki di Pangkalan Udara Abu al-Duhur, baik sebelum maupun ketika serangan Israel berlangsung.
Kondisi tersebut menjadi penting karena Netanyahu sebelumnya menjadikan dugaan peningkatan kehadiran militer Turki sebagai alasan utama serangan.
Haaretz juga mengutip pernyataan Thomas Barrack, Duta Besar AS untuk Turki sekaligus utusan khusus AS untuk Suriah dan Irak. Barrack memperingatkan bahwa tindakan Israel berpotensi berkembang menjadi konflik langsung antara Israel dan Turki.
“Dapat meningkat menjadi konfrontasi militer langsung” antara Israel dan Turki, ujar Barrack.
Meski demikian, Barrack menegaskan Turki “tidak memiliki niat untuk menyerang Israel atau terlibat dalam konfrontasi militer dengannya.”
Ia juga memperingatkan bahwa Israel mungkin “bertindak secara irasional” karena tengah memasuki periode pemilu.
Haaretz Soroti Risiko Perang Baru
Menurut Haaretz, serangan Israel dilakukan ketika berbagai kekuatan internasional tengah berusaha menciptakan stabilitas di Suriah. Namun, tindakan militer Netanyahu justru dinilai berlawanan dengan upaya tersebut.
“Israel bertindak dengan cara yang bertentangan dengan logika ini,” tulis Haaretz. “Karena itu, Israel tidak hanya menjauhkan Suriah, tetapi juga semua pemain lain yang terlibat di sana, terutama AS.”
Media Israel tersebut menilai perkembangan geopolitik di Timur Tengah kini semakin kompleks. Aliansi dan kerja sama baru mulai terbentuk, sementara Israel dinilai berisiko semakin terisolasi apabila terus mengandalkan pendekatan militer.
“Ketika Netanyahu membual tentang operasi yang sangat terarah di Suriah utara, yang berbahaya dan tidak ada gunanya, aliansi-aliansi baru sedang terbentuk di bawah hidungnya, dan Israel bukan bagian dari aliansi tersebut,” tulis Haaretz.
Haaretz juga mempertanyakan efektivitas pendekatan keamanan yang terlalu mengandalkan serangan militer.
“Seseorang tidak dapat menciptakan keamanan dan menggagalkan ancaman hanya dengan melakukan pengeboman. Ini bukan pengganti diplomasi dan kebijakan yang dipikirkan dengan matang, sesuatu yang pada era Netanyahu telah kehilangan maknanya,” tulis surat kabar tersebut.
Karena itu, Haaretz mendesak pemerintah Israel mempertimbangkan peringatan dari Washington agar tidak terjebak dalam konflik terbuka dengan Turki.
“Israel harus mendengarkan peringatan yang disampaikan utusan Barrack dan berhati-hati agar tidak terjerat konflik dengan Turki,” tulis Haaretz.
Suriah Bawa Serangan Israel ke PBB
Setelah serangan terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur, pemerintah Suriah juga menyampaikan keberatan melalui jalur diplomatik internasional.
Baca Juga : Israel Ultimatum, Turkiye Dilarang Masuk Suriah?
Damaskus mengirimkan dua surat identik kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan PBB. Dalam surat tersebut, Suriah menilai serangkaian tindakan Israel, termasuk serangan udara, penyusupan, dan penculikan, semakin menghambat proses stabilisasi negara.
Suriah menyatakan tindakan tersebut “menghambat upaya stabilisasi dan mengancam kawasan dengan ketegangan lebih lanjut.”
Pemerintah Suriah menilai eskalasi tersebut terjadi ketika proses pemulihan dan stabilisasi negara masih berlangsung.
Sementara itu, Israel terus meningkatkan aktivitas militernya di berbagai wilayah Suriah sejak pemerintahan Bashar al-Assad digulingkan pada Desember 2024. Kondisi tersebut kini semakin rumit karena muncul persaingan kepentingan antara Israel, Turki, Suriah, dan Amerika Serikat.

[…] Media Israel Kritik Netanyahu, Bisa Perang dengan Turki […]