Presiden Iran Minta Perang Diakhiri, Ekonomi Tertekan
Sejumlah elite politik Iran mulai mendorong agar konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel segera dihentikan. Mereka meminta pemerintah mengalihkan fokus untuk memulihkan kondisi ekonomi yang semakin tertekan akibat perang berkepanjangan.
Dorongan tersebut disampaikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Sikap keduanya berbeda dengan kelompok garis keras Iran yang masih mendorong keberlanjutan konflik.
“Perang ini pada akhirnya harus berakhir,” ujar Pezeshkian pada Jumat (21/8/2026), dikutip dari The Wall Street Journal.
Baca Juga: Dugaan Jual Beli Pengampunan Trump Disorot Kongres AS
Pezeshkian mengatakan Iran perlu menunjukkan kekuatan dan martabat dengan mengakhiri perang dari posisi yang dianggap sebagai kemenangan.
“Lebih baik kita menunjukkan kekuatan dan martabat kita hari ini serta menyatakan kepada dunia bahwa kita telah menang dan sedang mengakhiri perang ini,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul setelah konflik yang berlangsung selama enam bulan memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Iran.
Nilai mata uang Iran terus melemah, sementara masyarakat menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Para pemimpin Iran yang lebih moderat khawatir tekanan ekonomi yang semakin besar dapat mengganggu stabilitas dalam negeri.
Sementara itu, Ghalibaf tidak secara langsung menyerukan penghentian perang. Namun, ia menekankan pentingnya memperbaiki kondisi ekonomi karena kekuatan militer tidak cukup untuk menjaga keamanan negara tanpa dukungan ekonomi yang kuat.
“Betapapun besarnya kekuatan militer yang kita miliki, jika rakyat kita hidup dalam kesulitan serta negara kekurangan sirkulasi keuangan dan pertumbuhan ekonomi, kita tidak akan mencapai kemajuan,” ujar Ghalibaf.
“Sebagai seseorang yang pernah mengalami perang, kami memahami nilai sejati dari perdamaian,” tambahnya.
Kelompok Garis Keras Masih Ingin Melanjutkan Perlawanan
Meski sejumlah tokoh politik mulai mendorong penghentian perang, kelompok garis keras Iran masih mempertahankan sikap konfrontatif terhadap AS.
Kelompok tersebut masih menunjukkan ketidakpercayaan terhadap pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Mereka juga memanfaatkan masa jeda konflik untuk mempersiapkan kemungkinan terjadinya pertempuran lanjutan.
Di sisi lain, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui sanksi ekonomi dan pembatasan terhadap aktivitas perdagangan negara tersebut.
Baca Juga: Panglima Pakistan ke Iran, Teheran Disebut Diundang Pakta Mekkah
Trump sebelumnya beberapa kali menyatakan keinginannya untuk mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri perang.
Namun, nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni lalu gagal dilanjutkan setelah muncul perselisihan terkait pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Perundingan terbaru juga kembali mengalami kebuntuan setelah AS menolak kesepakatan yang tidak memberikan jaminan kebebasan pelayaran melalui jalur strategis tersebut.
Sejumlah analis menilai pernyataan Pezeshkian dan Ghalibaf menunjukkan besarnya tekanan ekonomi yang sedang dihadapi Iran.
Namun, peluang berakhirnya konflik dalam waktu dekat masih dinilai kecil karena kedua pihak belum menemukan titik temu mengenai syarat penyelesaian perang.
Analis Iran Hamidreza Azizi mengatakan Presiden AS Donald Trump kemungkinan berusaha memanfaatkan tekanan ekonomi terhadap Iran untuk mendapatkan konsesi yang lebih besar.
Menurutnya, kondisi tersebut justru membuat Iran semakin sulit mengambil langkah mundur karena dapat dianggap sebagai bentuk kelemahan.
Danny Citrinowicz, mantan kepala divisi Iran pada badan intelijen pertahanan Israel, juga menilai kedua pihak belum siap memberikan kompromi yang dibutuhkan untuk mencapai kesepakatan.
“Untuk alasan itu, terlepas dari sinyal yang datang dari Qalibaf dan Pezeshkian, kemungkinan eskalasi saat ini justru meningkat, bukan menurun,” tulis Citrinowicz di media sosial.
