Warga AS Tanggung Biaya Perang Iran Rp 35 Juta, Trump: Harga Murah
Perang Iran diperkirakan telah membebani rata-rata rumah tangga di Amerika Serikat (AS) hampir 2.000 dollar AS atau sekitar Rp 35 juta selama delapan bulan terakhir.
Kepala ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, memperkirakan total dampak ekonomi perang terhadap rumah tangga AS mencapai 265 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.754 triliun secara nasional.
“Hampir 2.000 dollar AS. Berdasarkan perhitungan saya, itulah biaya yang harus ditanggung oleh rata-rata rumah tangga di Amerika akibat perang Iran sejak dimulai hampir delapan bulan lalu. Secara nasional, jumlahnya mencapai 265 miliar dollar AS,” tulis Zandi di media sosial, seperti dikutip Newsweek, Selasa (13/10/2026).
Perhitungan tersebut mencakup dampak perang terhadap harga energi, suku bunga, dan biaya militer yang turut menambah beban pengeluaran masyarakat.
Baca Juga: MSCI Buka Konsultasi, Bursa RI Terancam Turun ke Standalone Market
Harga Energi dan Kenaikan Suku Bunga Bebani Warga AS
Kenaikan harga bensin dan solar menjadi penyumbang terbesar terhadap tambahan biaya yang harus ditanggung masyarakat AS akibat perang Iran.
Zandi mengatakan, harga bensin reguler telah mencapai sekitar 4,37 dollar AS atau Rp 78.398 per galon, naik dari kurang dari 3 dollar AS atau Rp 53.820 sebelum perang.
Harga solar juga berada di atas 6 dollar AS atau Rp 107.640 per galon, sedangkan harga bahan bakar pesawat hampir dua kali lipat.
Berdasarkan data American Automobile Association (AAA), pada Selasa (13/10/2026) pagi, harga rata-rata bensin nasional mencapai 4,34 dollar AS atau sekitar Rp 77.860 per galon, sementara solar mencapai 6,28 dollar AS atau Rp 112.663 per galon.
Sebelum perang dimulai, harga rata-rata bensin nasional masih berada di 2,98 dollar AS atau sekitar Rp 53.461 per galon, sedangkan solar dijual di bawah 4 dollar AS atau Rp 71.760 per galon.
Menurut perhitungan Zandi, kenaikan harga bensin, solar, dan biaya pemanas rumah membuat rata-rata rumah tangga AS mengeluarkan tambahan sekitar 1.100 dollar AS atau Rp 19 juta sejak perang dimulai.
Peneliti Watson School of International and Public Affairs di Brown University juga menghitung tambahan biaya konsumen akibat kenaikan harga bahan bakar mencapai 133,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.391 triliun sejak 28 Februari.
Dari jumlah tersebut, kenaikan harga bensin menyumbang 73,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.318 triliun, sedangkan solar mencapai 59,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.072 triliun.
Jika dibagi rata, tambahan pengeluaran tersebut setara dengan 1.017,76 dollar AS atau sekitar Rp 18 juta per rumah tangga AS.
Selain harga energi, perang juga berdampak pada suku bunga dan biaya kredit pemilikan rumah (KPR).
Inflasi yang terutama didorong kenaikan harga bensin turut berkontribusi terhadap keputusan Federal Reserve pada September untuk menaikkan suku bunga acuannya untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dari 3,5 persen menjadi 3,75 persen.
Kenaikan tersebut kemudian ikut mendorong suku bunga KPR. Berdasarkan data Freddie Mac, rata-rata suku bunga KPR tetap 30 tahun pada pekan yang berakhir 8 Oktober mencapai 7,40 persen, naik dari 6,30 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Zandi memperkirakan kenaikan suku bunga menambah biaya sekitar 540 dollar AS atau Rp 9,6 juta per rumah tangga.
Baca Juga: Perang Iran Bebani Rumah Tangga AS sampai Rp 35 Juta
Trump Sebut Biaya Perang sebagai Harga Murah
Selain kenaikan harga energi dan suku bunga, biaya militer juga menambah beban ekonomi akibat perang Iran.
Zandi memperkirakan biaya militer menambah sekitar 360 dollar AS atau Rp 6,4 juta per rumah tangga berdasarkan angka yang diumumkan Pentagon.
Namun, sejumlah pakar menilai biaya sebenarnya berpotensi lebih besar karena perang juga membutuhkan anggaran untuk perbaikan, pemeliharaan, dan penggantian peralatan militer yang tidak tercakup dalam biaya awal.
Pakar anggaran perang sekaligus dosen kebijakan publik di Harvard Kennedy School, Linda Bilmes, memperkirakan total biaya perang dapat mencapai angka yang jauh lebih tinggi.
“Saya yakin kita akan mencapai 1 triliun dollar AS (sekitar Rp 17 kuadriliun) untuk perang Iran. Mungkin kita bahkan sudah mencapai jumlah tersebut,” kata Bilmes.
Zandi menilai, total biaya perang yang ditanggung rumah tangga AS telah menggerus sekitar separuh kenaikan pendapatan rata-rata masyarakat selama delapan bulan terakhir.
Menurutnya, kondisi tersebut turut menjelaskan mengapa perang Iran tidak populer di kalangan masyarakat Amerika.
Survei terbaru Pew Research Center menunjukkan, 65 persen warga AS tidak menyetujui cara Presiden Donald Trump menangani konflik Iran, sedangkan 33 persen menyetujuinya.
Angka ketidaksetujuan tersebut meningkat dibandingkan hasil survei pada Maret yang mencapai 61 persen.
Di tengah kritik terhadap kenaikan harga energi, Trump berulang kali membela perang dengan alasan biaya yang ditanggung masyarakat merupakan harga yang kecil demi memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Dalam kampanye di Grand Island, Nebraska, pekan lalu, Trump mengakui harga bensin memang “naik sedikit”. Namun, dia menyebut kenaikan tersebut sebagai pengorbanan yang murah dan mengatakan perang akan segera berakhir.
“Ini harga yang sangat murah untuk menjaga dunia tetap aman, menjaga negara kita tetap aman,” kata Trump.

[…] Warga AS Tanggung Biaya Perang Iran Rp 35 Juta, Trump: Harga Murah […]