Houthi Putus Jalur Pasokan, Operasi Yaman Terhambat
Upaya pemerintah Yaman merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok Houthi menghadapi hambatan serius. Sejumlah jalur logistik strategis terputus akibat serangan Houthi, sehingga mengganggu pergerakan pasukan serta distribusi bahan bakar, amunisi, dan kebutuhan pokok.
Di tengah situasi tersebut, Houthi terus melancarkan serangan rudal dan memperluas kendali atas sejumlah wilayah, termasuk kawasan strategis di sekitar Taiz.
Pada Kamis (15/10/2026), serangan rudal Houthi menewaskan sedikitnya lima orang di dekat Istana Kepresidenan al-Maashiq, Aden. Perdana Menteri Yaman Shaya al-Zindani dilaporkan berada di dalam kompleks istana ketika serangan berlangsung, tetapi berhasil selamat.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan serangan itu diarahkan ke markas operasional pasukan yang mendapat dukungan Arab Saudi.
Baca Juga : Puluhan Toko Dijarah Imbas Demo Ricuh di Prancis
Peristiwa tersebut menambah tekanan terhadap operasi militer pemerintah yang dikenal sebagai “Fajar Yaman”. Operasi itu bertujuan merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk ibu kota Sanaa yang telah berada di bawah kendali kelompok tersebut sejak 2014.
Houthi Ganggu Jalur Logistik Pemerintah Yaman
Dilansir Al Jazeera pada Sabtu (17/10/2026), Houthi berhasil menguasai sejumlah kawasan penting dalam beberapa bulan terakhir. Pada awal September, kelompok tersebut merebut Mocha, kota pelabuhan di pesisir Laut Merah yang berperan sebagai titik distribusi pasokan bagi pasukan pemerintah di sebelah barat Taiz.
Pasukan pemerintah sempat melancarkan serangan balasan dan mengambil alih kembali sebagian wilayah pesisir. Namun, Mocha masih berada di bawah kendali Houthi.
Kondisi di Taiz semakin sulit setelah Houthi memutus akses jalan utama yang menghubungkan kota tersebut dengan Aden, pusat pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Jalur pengganti yang melintasi kawasan pegunungan juga mengalami gangguan, membuat Taiz berada dalam kepungan.
Terhambatnya distribusi logistik memicu kelangkaan bahan bakar. Harga bensin di Taiz dilaporkan melonjak hingga tiga kali lipat pada pekan lalu. Selain menyulitkan aktivitas masyarakat, situasi tersebut juga berisiko menghambat pengiriman amunisi, pasukan tambahan, dan kebutuhan dasar bagi tentara pemerintah.
Meski menghadapi kendala, Kolonel Wadah al-Dubaish, juru bicara Pasukan Gabungan pro-pemerintah di pesisir barat Yaman, menegaskan bahwa operasi militer tetap berjalan.
“Kelompok Houthi terus berupaya memutus jalur pasokan bagi pasukan pemerintah, tetapi mereka tidak berhasil menghentikan aliran pasokan tersebut. Oleh karena itu, operasi militer terhadap Houthi akan terus berlanjut,” katanya.
Al-Dubaish menjelaskan bahwa pengiriman logistik masih bisa dilakukan melalui jalur udara, darat, dan laut. Namun, gangguan keamanan yang ditimbulkan Houthi membuat biaya distribusi meningkat.
Pemerintah Yaman Cari Jalur Alternatif
Untuk menjaga kelangsungan operasi militer, pemerintah Yaman mulai mengandalkan sistem distribusi logistik yang lebih tersebar. Wakil Menteri Kehakiman Yaman Faisal al-Majidi mengatakan, pemerintah menerapkan pola logistik terdesentralisasi dengan membagi distribusi ke sejumlah sektor semiotonom.
Pusat-pusat pasokan ditempatkan di Shabwa, Marib, kawasan Taiz yang tidak dikuasai Houthi, serta sejumlah wilayah di bagian selatan Yaman.
Selain mengatur ulang distribusi, pemerintah berupaya mengamankan dataran tinggi di sekitar jalur utama agar pengiriman logistik tidak mudah diserang. Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah distrik pegunungan al-Waziiya di Taiz.
Wilayah tersebut memiliki nilai strategis karena menghadap ke pesisir Laut Merah. Penguasaan kawasan ini dinilai berpotensi membuka akses dari arah barat dan membantu mengurangi tekanan pengepungan terhadap Taiz.
Meski demikian, upaya menguasai wilayah tersebut belum selesai. Pertempuran antara pasukan pemerintah dan Houthi masih berlangsung di kawasan al-Waziiya.
Arab Saudi Perkuat Dukungan Militer
Di tengah kesulitan yang dihadapi pemerintah Yaman, Arab Saudi meningkatkan dukungan militernya sejak operasi “Fajar Yaman” diluncurkan. Riyadh bahkan mengakui telah melancarkan serangan udara terhadap posisi Houthi untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata pada 2022.
Baca Juga : Houthi Klaim Tembak Jatuh Helikopter Saudi Tewaskan 2 Pilot
Koalisi pimpinan Arab Saudi mengklaim telah menghancurkan ratusan sasaran strategis melalui serangan udara sejak awal Oktober.
Menurut al-Dubaish, dukungan Saudi diperlukan untuk menghadapi kekuatan militer Houthi, termasuk kemampuan rudal dan jumlah personel tempur kelompok tersebut.
Senada dengan itu, al-Majidi menilai dukungan udara dari Arab Saudi berperan sebagai penyeimbang strategis. Bantuan tersebut dinilai dapat memberikan perlindungan bagi pasukan darat pemerintah sekaligus menghambat pergerakan bala bantuan Houthi.
Arab Saudi sebelumnya pernah mengirimkan senjata dan amunisi melalui jalur udara untuk membantu pasukan pro-pemerintah ketika Taiz dikepung pada tahap awal perang Yaman.
Namun, belum ada laporan mengenai pengiriman bantuan serupa sejak pengepungan terbaru di Taiz dimulai pada Oktober 2026. Ketidakpastian tersebut menambah tantangan bagi pemerintah Yaman dalam mempertahankan pasokan dan melanjutkan operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
