Dua Pilot Saudi Tewas dalam Insiden Helikopter Jatuh di Najran
Dua pilot militer tewas setelah sebuah helikopter milik Arab Saudi jatuh di wilayah Najran, dekat perbatasan Yaman. Koalisi pimpinan Saudi menyebut kecelakaan tersebut disebabkan gangguan teknis, sementara kelompok Houthi mengklaim telah menembak jatuh helikopter militer Saudi di lokasi yang sama.
Juru bicara koalisi Saudi, Turki Al-Malki, mengatakan helikopter yang jatuh merupakan jenis AH-6i milik Kementerian Garda Nasional Arab Saudi.
“Helikopter pengintai AH-6i milik Kementerian Garda Nasional jatuh di wilayah Arab Saudi, di wilayah Najran, akibat gangguan teknis,” kata Al-Malki pada Minggu (18/10/2026), yang dikutip AFP.
“Kecelakaan tersebut mengakibatkan gugurnya awak pesawat, yang terdiri dari dua perwira,” lanjutnya.
Baca Juga : Ukraina Tuduh AS Bantu Rusia, Starlink Jadi Sorotan
Sementara itu, juru bicara Houthi, Yahya Saree, pada Sabtu (17/10/2026) malam mengklaim bahwa kelompoknya berhasil menembak jatuh helikopter Apache milik Arab Saudi di wilayah yang sama. Hingga kini, terdapat perbedaan keterangan antara pihak koalisi Saudi dan Houthi mengenai penyebab jatuhnya helikopter tersebut.
Serangan Houthi ke Arab Saudi Kian Intensif
Insiden ini menjadi kematian pertama personel militer koalisi sejak perang melawan Houthi kembali berkobar pada Juli. Jatuhnya helikopter tersebut terjadi sekitar sepekan setelah serangan kelompok yang didukung Iran itu menewaskan 13 orang di Bandara Internasional Riyadh.
Serangan di bandara tersebut disebut sebagai insiden paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade. Konflik Yaman kembali meningkat setelah gencatan senjata yang berlangsung selama empat tahun mengalami kemunduran. Ketegangan bertambah ketika Houthi merebut wilayah strategis di sepanjang pesisir Laut Merah pada bulan lalu.
Dalam beberapa waktu terakhir, Houthi melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi. Targetnya mencakup kapal tanker di Laut Merah, fasilitas minyak, hingga Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Sebagai balasan, koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional terus melancarkan serangan udara ke wilayah yang dikuasai Houthi.
Pada Minggu, koalisi menyatakan telah mencegat dua drone di wilayah Riyadh dan satu drone lainnya di Provinsi Timur, kawasan yang kaya akan minyak. Sebelumnya, otoritas Arab Saudi juga mengeluarkan peringatan terkait ancaman keamanan di ibu kota.
Koalisi turut melaporkan keberhasilan mencegat dua rudal balistik yang diluncurkan Houthi menuju Khamis Mushait, di wilayah selatan Arab Saudi.
Di sisi lain, Houthi pada Sabtu melaporkan bahwa serangan udara Saudi menewaskan 12 orang di Yaman, termasuk tiga anak-anak.
Kelompok tersebut juga mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan merebut wilayah di sekitar Selat Bab El-Mandeb. Selat ini merupakan jalur strategis di Laut Merah sekaligus salah satu rute penting bagi ekspor minyak Arab Saudi, terutama setelah Iran memblokade Selat Hormuz di kawasan Teluk.
Mesir Siapkan Dukungan Pertahanan untuk Arab Saudi
Di tengah meningkatnya serangan, Mesir membuka kemungkinan memberikan dukungan pertahanan kepada Arab Saudi. Parlemen Mesir dijadwalkan menggelar sidang darurat pada Minggu setelah Presiden Abdel Fattah El-Sisi meminta anggota parlemen memberikan otorisasi untuk membantu melindungi Saudi dari serangan Houthi.
Baca Juga : MSCI Buka Konsultasi, Bursa Saham RI Terancam Turun!
Sisi menyatakan kesiapannya mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi Arab Saudi apabila diminta oleh para pemimpin negara tersebut.
“Saya tidak berbicara tentang memerangi siapa pun atau menyerang siapa pun,” kata Sisi pada Sabtu.
“Kami hanya berbicara tentang pertahanan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dukungan yang dibicarakan Mesir berfokus pada pertahanan Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan regional.
