Iran Sindir Macron soal Demo Perancis: Terlambat Salahkan Perang
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyindir Presiden Perancis Emmanuel Macron yang mengaitkan kenaikan harga energi akibat perang Iran dengan gelombang demonstrasi di negaranya.
Araghchi menilai Macron harus menerima konsekuensi dari sikapnya yang mendukung tindakan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.
Dalam unggahan di akun X pada Senin (19/10/2026), Araghchi juga meminta Macron mendengarkan tuntutan masyarakat Perancis yang turun ke jalan untuk memprotes tingginya biaya hidup.
Baca Juga: BI Dorong Transaksi Mata Uang Lokal untuk Ekonomi
“Pak Macron telah menuai apa yang ia tanam sendiri saat ia meyakinkan Presiden AS bahwa ia mendukung kekejaman terhadap Iran,” tulis Araghchi, seperti dilansir Mehr News Agency.
Araghchi kemudian menilai Macron terlambat menyalahkan perang atas gejolak sosial yang terjadi di Perancis.
“Rakyat Perancis menuntut perubahan menyeluruh, termasuk kebebasan berkumpul.”
Ia juga mendesak Macron untuk mendengarkan aspirasi masyarakatnya.
“Dengarkan masa depan Perancis, Pak Macron,” tambahnya.
Macron Sebut Perang Iran Picu Kenaikan Biaya Hidup
Pernyataan Araghchi muncul setelah Macron mengaitkan perang Iran dengan gelombang demonstrasi yang berlangsung pada Sabtu (17/10/2026) di sejumlah kota di Perancis.
Macron mengatakan perang Iran telah mendorong kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara dan turut memperburuk tekanan biaya hidup yang dirasakan masyarakat Perancis.
Ia menegaskan bahwa Perancis tidak terlibat dalam perang tersebut, tetapi tetap harus menanggung dampak ekonominya.
“Perancis tidak ikut serta dalam perang itu. Namun, kami yang menanggung kosekuensinya. Kami memahami kekhawatiran mereka,” kata Macron dalam pidato yang disiarkan dari Istana Elysee pada Minggu (18/10/2026), sebagaimana dikutip The Telegraph.
Macron juga mengakui bahwa masyarakat memiliki alasan yang sah untuk mengeluhkan tingginya biaya hidup dan harga bahan bakar.
Meski demikian, ia mengecam aksi kekerasan yang terjadi selama demonstrasi dan berjanji menindak para pelaku pembakaran serta penjarahan.
Untuk mengatasi kenaikan harga energi, pemerintahan Macron berupaya mencari tambahan pasokan dari sejumlah negara di Timur Tengah.
Menurut laporan International Business Times, Macron dijadwalkan mengunjungi Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Qatar pada 19-21 Oktober 2026.
Baca Juga: Defisit Anggaran AS Bengkak Jadi Rp 35.820 Triliun pada 2026
Iran Kritik Macron soal Daya Tangkal Nuklir
Sindiran Araghchi terhadap Macron juga muncul di tengah ketegangan terkait pernyataan Presiden Perancis tersebut mengenai kekuatan dan daya tangkal nuklir.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menuding Macron menerapkan standar ganda dalam isu pencegahan nuklir.
Baghaei menyoroti pernyataan Macron bahwa suatu negara harus ditakuti agar dapat merdeka, sementara untuk ditakuti, negara tersebut harus memiliki kekuatan.
Pernyataan Macron itu disampaikan dalam konteks pembahasan mengenai kekuatan militer dan daya tangkal nuklir Perancis.
Iran mengkritik pernyataan tersebut karena menilai sikap Macron tidak konsisten dalam menyikapi kekuatan militer dan persoalan nuklir.
Teheran juga menyoroti sikap Perancis yang selama ini vokal menentang pengayaan uranium oleh Iran.

[…] Iran Sindir Macron soal Demo Perancis: Terlambat Salahkan Perang […]