Defisit Anggaran AS Bengkak Jadi Rp 35.820 Triliun pada 2026
Defisit anggaran Amerika Serikat (AS) mencapai 1,99 triliun dollar AS atau sekitar Rp 35.820 triliun pada tahun fiskal yang berakhir 30 September 2026.
Dikutip dari Reuters, Minggu (18/10/2026), angka tersebut meningkat 217 miliar dollar AS dibandingkan defisit pada tahun fiskal 2025 yang sebesar 1,78 triliun dollar AS.
Defisit pada 2026 menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir sekaligus terbesar ketiga sepanjang sejarah AS.
Baca Juga: BEI Turunkan Batas ARB Saham Jadi 7 Persen hingga Akhir 2026
Rekor defisit tertinggi terjadi pada tahun fiskal 2021, ketika nilainya mencapai 2,77 triliun dollar AS akibat pengeluaran untuk penanganan pandemi Covid-19.
Berdasarkan data Departemen Keuangan AS, pelebaran defisit kali ini dipengaruhi oleh pengembalian bea masuk, meningkatnya biaya pembayaran utang negara, serta kenaikan belanja program tunjangan sosial dan pertahanan.
Meski penerimaan pemerintah mencetak rekor, kenaikan pengeluaran yang lebih besar membuat defisit anggaran semakin melebar.
Pengeluaran Pemerintah AS Melampaui Penerimaan
Penerimaan pemerintah AS pada tahun fiskal 2026 mencapai rekor 5,40 triliun dollar AS, meningkat 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,24 triliun dollar AS.
Namun, pengeluaran pemerintah naik lebih tinggi, yakni 6 persen menjadi 7,40 triliun dollar AS dari 7,01 triliun dollar AS pada tahun fiskal 2025.
Salah satu komponen pengeluaran terbesar berasal dari pembayaran bunga utang yang mencapai rekor 1,36 triliun dollar AS.
Nilai tersebut meningkat 144 miliar dollar AS atau 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Total utang AS juga telah menembus 40 triliun dollar AS sekitar dua bulan sebelum laporan defisit tersebut dirilis.
Selain biaya utang, pengeluaran untuk pertahanan meningkat 6 persen menjadi 917 miliar dollar AS pada tahun fiskal 2026.
Seorang pejabat Departemen Keuangan AS belum menjelaskan secara terperinci berapa besar kenaikan belanja pertahanan yang berkaitan dengan perang yang dimulai Presiden Donald Trump dan Israel terhadap Iran pada awal tahun ini.
Departemen Keuangan AS memperkirakan rasio defisit anggaran terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 6,2 persen pada tahun fiskal 2026.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rasio defisit terhadap PDB aktual pada tahun fiskal 2025 yang sebesar 5,8 persen.
Namun, pejabat Departemen Keuangan menolak menyebutkan proyeksi PDB yang digunakan sebagai dasar perhitungan tersebut.
Defisit anggaran Amerika Serikat (AS) mencapai 1,99 triliun dollar AS atau sekitar Rp 35.820 triliun pada tahun fiskal yang berakhir 30 September 2026.
Dikutip dari Reuters, Minggu (18/10/2026), angka tersebut meningkat 217 miliar dollar AS dibandingkan defisit pada tahun fiskal 2025 yang sebesar 1,78 triliun dollar AS.
Defisit pada 2026 menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir sekaligus terbesar ketiga sepanjang sejarah AS.
Rekor defisit tertinggi terjadi pada tahun fiskal 2021, ketika nilainya mencapai 2,77 triliun dollar AS akibat pengeluaran untuk penanganan pandemi Covid-19.
Berdasarkan data Departemen Keuangan AS, pelebaran defisit kali ini dipengaruhi oleh pengembalian bea masuk, meningkatnya biaya pembayaran utang negara, serta kenaikan belanja program tunjangan sosial dan pertahanan.
Meski penerimaan pemerintah mencetak rekor, kenaikan pengeluaran yang lebih besar membuat defisit anggaran semakin melebar.
Pengeluaran Pemerintah AS Melampaui Penerimaan
Penerimaan pemerintah AS pada tahun fiskal 2026 mencapai rekor 5,40 triliun dollar AS, meningkat 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,24 triliun dollar AS.
Namun, pengeluaran pemerintah naik lebih tinggi, yakni 6 persen menjadi 7,40 triliun dollar AS dari 7,01 triliun dollar AS pada tahun fiskal 2025.
Salah satu komponen pengeluaran terbesar berasal dari pembayaran bunga utang yang mencapai rekor 1,36 triliun dollar AS.
Nilai tersebut meningkat 144 miliar dollar AS atau 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Total utang AS juga telah menembus 40 triliun dollar AS sekitar dua bulan sebelum laporan defisit tersebut dirilis.
Selain biaya utang, pengeluaran untuk pertahanan meningkat 6 persen menjadi 917 miliar dollar AS pada tahun fiskal 2026.
Seorang pejabat Departemen Keuangan AS belum menjelaskan secara terperinci berapa besar kenaikan belanja pertahanan yang berkaitan dengan perang yang dimulai Presiden Donald Trump dan Israel terhadap Iran pada awal tahun ini.
Departemen Keuangan AS memperkirakan rasio defisit anggaran terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 6,2 persen pada tahun fiskal 2026.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rasio defisit terhadap PDB aktual pada tahun fiskal 2025 yang sebesar 5,8 persen.
Namun, pejabat Departemen Keuangan menolak menyebutkan proyeksi PDB yang digunakan sebagai dasar perhitungan tersebut.
Pengembalian Tarif Impor Ikut Memperlebar Defisit
Faktor lain yang memperbesar defisit anggaran AS adalah penurunan penerimaan tarif bersih setelah Mahkamah Agung membatalkan sebagian besar tarif yang diberlakukan Trump selama tahun pertamanya menjabat.
Putusan tersebut memicu pengembalian dana tarif sebesar 145 miliar dollar AS sepanjang tahun fiskal 2026.
Akibatnya, penerimaan tarif bersih turun 22 miliar dollar AS atau sekitar 11 persen menjadi 173 miliar dollar AS.
Pengembalian dana tersebut mengurangi pendapatan pemerintah dari tarif impor di tengah meningkatnya kebutuhan belanja negara.
Sementara itu, pada September 2026, bulan terakhir tahun fiskal tersebut, pemerintah AS mencatat defisit anggaran sebesar 27 miliar dollar AS.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan September tahun sebelumnya, ketika pemerintah AS membukukan surplus anggaran sebesar 198 miliar dollar AS.
Baca Juga: BEI Turunkan Batas ARB Saham Jadi 7 Persen hingga Akhir 2026
Pengembalian Tarif Impor Ikut Memperlebar Defisit
Faktor lain yang memperbesar defisit anggaran AS adalah penurunan penerimaan tarif bersih setelah Mahkamah Agung membatalkan sebagian besar tarif yang diberlakukan Trump selama tahun pertamanya menjabat.
Putusan tersebut memicu pengembalian dana tarif sebesar 145 miliar dollar AS sepanjang tahun fiskal 2026.
Akibatnya, penerimaan tarif bersih turun 22 miliar dollar AS atau sekitar 11 persen menjadi 173 miliar dollar AS.
Pengembalian dana tersebut mengurangi pendapatan pemerintah dari tarif impor di tengah meningkatnya kebutuhan belanja negara.
Sementara itu, pada September 2026, bulan terakhir tahun fiskal tersebut, pemerintah AS mencatat defisit anggaran sebesar 27 miliar dollar AS.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan September tahun sebelumnya, ketika pemerintah AS membukukan surplus anggaran sebesar 198 miliar dollar AS.
