Warga AS Tolak Rp154 Juta demi Hentikan Proyek AI
Warga Hazle Township, Pennsylvania, Amerika Serikat, menolak tawaran uang tunai sebesar US$10.000 atau sekitar Rp154 juta untuk setiap rumah tangga sebagai imbalan atas persetujuan pembangunan pusat data berskala besar di wilayah mereka.
Keputusan tersebut menjadi pukulan bagi NorthPoint Development, pengembang Project Hazelnut yang direncanakan menempati lahan lebih dari 1.300 hektare.
Untuk mendapatkan dukungan masyarakat, pengembang menawarkan sejumlah keuntungan ekonomi. Selain pembayaran tunai kepada setiap rumah tangga, perusahaan menjanjikan dana komunitas senilai Rp231 miliar untuk mendukung pendidikan dan fasilitas publik.
Proyek tersebut juga diklaim berpotensi menciptakan lebih dari 2.000 lapangan kerja sekaligus mempertahankan sekitar 1.100 hektare kawasan hutan.
Baca Juga : Macron Ancam Bakal Larang Demonstrasi, Kerusuhan Prancis Diwaspadai
Meski sebagian warga Hazle Township menghadapi kesulitan ekonomi, tawaran tersebut tidak berhasil mengubah sikap mereka. Sejumlah penduduk bahkan menilai pemberian uang itu sebagai upaya menyuap masyarakat agar menyetujui proyek yang berpotensi mengubah lingkungan tempat tinggal mereka.
“Uang itu setetes air di lautan dibanding kerugian yang akan kita tanggung,” ujar Ed Negra, seorang warga sekaligus pemilik usaha kecil. Ia menilai pembangunan tersebut dapat menekan harga properti secara signifikan. “Nilai properti kita akan jatuh drastis. Jika ini bukan suap, saya tidak tahu apa namanya lagi.”
Penolakan serupa disampaikan Brian Malloy, warga setempat yang menegaskan bahwa masyarakat tidak ingin mengorbankan lingkungan mereka demi keuntungan finansial. “Kami tidak menjual lingkungan tempat tinggal kami,” katanya.
Sikap warga Hazle Township juga dipengaruhi pengalaman dari wilayah lain di Pennsylvania. Di Archbald, kota kecil yang berada tidak jauh dari sana, rencana pembangunan enam kompleks pusat data telah memicu gelombang protes masyarakat.
Keberadaan fasilitas tersebut diperkirakan mencakup hingga 14% wilayah kota. Warga mempersoalkan besarnya kebutuhan listrik, potensi kenaikan tarif energi, serta suara bising dari peralatan pusat data yang beroperasi sepanjang waktu. Penolakan masyarakat bahkan berujung pada tergulingnya anggota dewan kota yang sebelumnya mendukung rencana pembangunan tersebut.
Berbekal pengalaman itu, warga Hazle Township mengkhawatirkan berbagai dampak yang mungkin timbul apabila Project Hazelnut tetap dilaksanakan. Konsumsi listrik dalam jumlah besar dikhawatirkan membebani jaringan energi dan meningkatkan biaya listrik yang harus ditanggung masyarakat.
Selain persoalan energi, sistem pendingin yang bekerja selama 24 jam berpotensi menghasilkan kebisingan berkepanjangan. Penggunaan air dalam jumlah besar untuk kebutuhan pendinginan juga memunculkan kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan air bagi penduduk. Di sisi lain, kedekatan kawasan permukiman dengan fasilitas industri dikhawatirkan menurunkan nilai jual properti.
Baca Juga : Trump Ingin Ganti Nama Samudera Atlantik, Tapi Ditolak Google!
Kontroversi semakin menguat setelah proses perizinan proyek tersebut dipercepat. Gubernur Pennsylvania, Josh Shapiro, memasukkan pembangunan itu ke dalam program jalur cepat yang memungkinkan proses persetujuan berjalan lebih singkat.
Menurut laporan Reuters, sebanyak 75 proyek pusat data menghadapi penolakan masyarakat yang terorganisasi pada kuartal pertama 2026. Nilai investasi dari berbagai proyek yang terancam tersebut diperkirakan mencapai US$130 miliar atau sekitar Rp2.000 triliun.
Situasi ini menunjukkan bahwa ketersediaan modal dan kebutuhan teknologi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan pusat data. Dukungan masyarakat, dampak terhadap lingkungan, serta konsekuensi bagi biaya hidup penduduk setempat juga menjadi pertimbangan penting bagi investor.

[…] Warga AS Tolak Rp154 Juta demi Hentikan Proyek AI […]