PM Greenland: Kami Memilih Denmark daripada Bergabung dengan AS
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menegaskan bahwa wilayah otonom tersebut tidak berminat bergabung dengan Amerika Serikat dan memilih tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya tekanan geopolitik akibat sikap Presiden AS Donald Trump yang kembali menyuarakan keinginan untuk mengambil alih pulau Arktik tersebut.
Pernyataan Nielsen disampaikan dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen di Kopenhagen. Ia menegaskan bahwa Greenland telah menentukan sikapnya secara jelas dalam menghadapi dinamika global yang semakin tidak menentu.
Baca Juga: Negara yang Berbisnis dengan Iran Diancam Tarif Trump 25%
PM Greenland Tegaskan Pilihan Tetap Bersama Denmark
Dalam konferensi pers tersebut, Nielsen menyebut situasi geopolitik saat ini menuntut kejelasan sikap, terutama ketika muncul tekanan dari negara besar seperti Amerika Serikat.
“Kita sekarang menghadapi krisis geopolitik, dan jika kita harus memilih antara Amerika Serikat dan Denmark di sini dan sekarang, kita memilih Denmark,” ujar Nielsen.
Pernyataan itu disampaikan sehari setelah pemerintah Greenland secara resmi menolak ancaman Presiden Trump yang kembali menyatakan keinginannya untuk menguasai wilayah tersebut. Pemerintah koalisi Greenland menegaskan bahwa sikap AS tersebut tidak dapat diterima dalam kondisi apa pun.
“Amerika Serikat sekali lagi menegaskan keinginannya untuk mengambil alih Greenland. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima oleh koalisi pemerintahan di Greenland dalam keadaan apa pun,” bunyi pernyataan resmi pemerintah setempat.
Pemerintah Greenland juga menegaskan bahwa status keamanan wilayah tersebut berada dalam kerangka NATO. “Sebagai bagian dari Persemakmuran Denmark, Greenland adalah anggota NATO, dan oleh karena itu pertahanan Greenland harus melalui NATO,” lanjut pernyataan tersebut.
Baca Juga: Pernyataan Trump tentang Minyak di Venezuela Dibantah Rusia
Ancaman Trump Picu Ketegangan NATO dan Reaksi Eropa
Sikap tegas Greenland dan Denmark muncul sebagai respons atas pernyataan Trump yang bersikeras bahwa AS akan merebut Greenland dan bahkan mengancam wilayah itu akan berada di bawah kendali Amerika Serikat “dengan cara apa pun”.
Ancaman tersebut memicu ketegangan serius di internal NATO dan menimbulkan kemarahan di kalangan sekutu Eropa. Sejumlah negara memperingatkan bahwa upaya pengambilalihan Greenland dapat berdampak buruk terhadap hubungan transatlantik antara Amerika Serikat dan Eropa.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyebut tekanan dari Washington sebagai sesuatu yang sulit diterima. Ia mengecam apa yang disebutnya sebagai “tekanan yang sama sekali tidak dapat diterima dari sekutu terdekat kami”.
Dalam upaya meredakan ketegangan, Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dijadwalkan bertemu dengan para pejabat Denmark dan Greenland di Gedung Putih. Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan pertemuan tersebut diminta untuk membuka dialog langsung.
“Alasan kami meminta pertemuan yang telah diberikan kepada kami sekarang adalah untuk memindahkan seluruh diskusi ini ke ruang pertemuan di mana kami dapat saling bertatap muka dan membicarakan hal-hal ini,” ujar Rasmussen.
Sementara itu, Aaja Chemnitz, politikus Greenland di parlemen Denmark, menegaskan bahwa mayoritas penduduk Greenland menolak gagasan bergabung dengan AS.
“Greenland tidak untuk dijual, dan Greenland tidak akan pernah untuk dijual,” tegas Chemnitz.
“Itu adalah identitas kami, bahasa kami, budaya kami, dan bukan sesuatu yang diinginkan mayoritas penduduk Greenland,” pungkas dia.
Baca Juga: Menlu Iran Sebut Iran Siap Berperang dengan Trump
