Apa Saja Opsi Militer AS jika Memutuskan Serang Iran?
Amerika Serikat masih menimbang berbagai opsi militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, meski Presiden AS Donald Trump menunjukkan sikap yang berubah-ubah soal kemungkinan serangan langsung.
Selama hampir dua pekan terakhir, Trump beberapa kali menyatakan keraguan untuk menyerang Iran, meski sebelumnya menjanjikan “tindakan yang sangat keras” terhadap Republik Islam di tengah penindasan brutal terhadap demonstran anti-rezim.
Namun, pada Rabu (14/01/2026) pekan lalu, Trump menarik kembali ancaman tersebut setelah mengklaim menerima informasi dari “sumber-sumber yang sangat penting di pihak seberang” bahwa “pembunuhan di Iran mulai berhenti”.
Di saat bersamaan, kapal induk AS dilaporkan bergerak menuju Timur Tengah, personel militer ditarik dari sejumlah pangkalan strategis, serta wilayah udara Iran sempat ditutup sementara, memunculkan spekulasi bahwa serangan tetap mungkin terjadi.
Baca Juga: China Diundang Trump Gabung Dewan Perdamaian Gaza
Serangan Terbatas Jadi Opsi Utama
Menurut mantan Kolonel Korps Marinir AS Mark Cancian, opsi militer sangat bergantung pada tujuan serangan. “Serangan militer tidak akan mampu menghentikan pembunuhan para demonstran oleh otoritas Iran. Namun, Amerika Serikat bisa menyerang pasukan keamanan, kemungkinan Garda Revolusi, untuk menghukum Iran dan menunjukkan kepada aparat keamanan bahwa mereka rentan,” ujar Cancian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Ashok Swain dari Universitas Uppsala menilai keterlibatan militer harus bersifat terbatas dan memiliki tujuan jelas, seperti melindungi pasukan AS atau sekutunya.
“Biasanya ini mengarah pada postur penangkalan regional, pertahanan udara dan rudal, perlindungan laut, serta garis merah yang tegas,” kata dia.
Senjata Canggih Dinilai Tak Relevan
Kedua pakar sepakat bahwa penggunaan pembom siluman B-2 atau skenario seperti Operasi Midnight Hammer terhadap fasilitas nuklir Iran tidak relevan dalam konteks saat ini.
“Bisa saja dikerahkan, tetapi tidak diperlukan,” kata Cancian, seraya menambahkan bahwa rudal jarak jauh seperti Tomahawk dinilai lebih efektif.
Swain mengingatkan bahwa serangan berskala besar berisiko tinggi.
“Serangan semacam itu adalah peristiwa berisiko tinggi dan menentukan secara politik, sulit dibatasi, mudah disalahartikan, dan sangat mungkin memicu pembalasan,” tutur dia.
Baca Juga: Waga Diingatkan PM Greenland Soal Ancaman Invasi AS
Risiko Eskalasi Regional
Pakar hubungan internasional Mohammad Eslami memperingatkan bahwa setiap aksi militer AS berpotensi memperburuk stabilitas kawasan.
“Setiap aksi militer AS kemungkinan hanya menghasilkan keuntungan strategis minimal, tetapi secara dramatis meningkatkan ketidakstabilan kawasan,” jelas dia.
Swain menambahkan bahwa eskalasi yang melampaui serangan terbatas akan memperkuat kelompok garis keras dan membebani warga sipil. Cancian menilai misi terbatas kemungkinan menjadi satu-satunya opsi realistis, dengan target berupa markas pasukan keamanan, bukan lokasi demonstrasi.
Opsi Non-Militer Dinilai Lebih Efektif
Para pakar menilai langkah non-militer justru bisa lebih berdampak. Swain menyebut tekanan finansial, pertahanan regional, serta diplomasi sebagai opsi yang jarang dibahas. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan terselubung terhadap masyarakat sipil Iran.
Cancian menilai pemulihan akses internet yang diblokir bisa menjadi langkah paling membantu bagi demonstran.
Sementara Eslami menegaskan, “Satu-satunya opsi berkelanjutan adalah kembali pada hukum internasional, diplomasi, dan institusi multilateral,” seraya memperingatkan bahwa intervensi sepihak justru berisiko menciptakan ketidakamanan jangka panjang.
Baca Juga: Kapal Tanker Ketujuh DIsita, Konflik AS-Venezuela Memanas

[…] Baca Juga: Opsi Militer AS jika Memutuskan Serang Iran, Apa Saja? […]