Ekonomi RI 2026 Diproyeksi Tumbuh 5,1%, IMF Ingatkan Risiko Ini
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5% pada 2025 dan meningkat tipis menjadi 5,1% pada 2026. Di saat yang sama, laju inflasi diperkirakan tetap berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia, meskipun tekanan dari kondisi global masih berlanjut.
Dalam laporan Article IV Consultation 2025 yang dirilis pada 21 Januari 2026, Dewan Eksekutif IMF menilai Indonesia masih menjadi salah satu titik terang perekonomian global. Penilaian tersebut didukung oleh kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai relatif tepat dalam menjaga stabilitas.
“Ekonomi Indonesia telah menunjukkan ketahanan di tengah guncangan yang merugikan. Pertumbuhan diperkirakan akan tetap stabil di angka 5% pada tahun 2025 dan 5,1% pada tahun 2026, meskipun lingkungan eksternal menantang,” tulis IMF dalam laporannya tersebut, Kamis (22/1/2026).
Baca Juga : Mengapa Indonesia Ikut Dewan Perdamaian Gaza, Ini Kata Kemenlu
“Inflasi utama terkendali dengan baik dan diproyeksikan akan mendekati titik tengah kisaran target. Defisit transaksi berjalan akan tetap terkendali dengan baik pada tahun 2025-2026, dengan cadangan yang memadai,” sambungnya.
Meski prospek pertumbuhan dinilai solid, IMF mengingatkan bahwa risiko eksternal masih condong ke arah negatif. Tekanan tersebut terutama berasal dari meningkatnya ketegangan perdagangan global, ketidakpastian ekonomi yang berkepanjangan, serta volatilitas di pasar keuangan internasional. Dari sisi domestik, perubahan kebijakan besar tanpa mitigasi yang memadai juga berpotensi meningkatkan kerentanan ekonomi.
Di bidang moneter, IMF menilai kebijakan pelonggaran hingga 2025 masih diperlukan untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Ke depan, arah kebijakan moneter diharapkan tetap berbasis data dan sejalan dengan kebijakan fiskal.
Nilai tukar rupiah juga diharapkan terus berfungsi sebagai peredam guncangan eksternal, dengan intervensi pasar valuta asing yang dilakukan secara terbatas dan terukur.
“Dalam jangka menengah, pengurangan bertahap kehadiran Bank Indonesia di pasar utang pemerintah dapat membantu meningkatkan partisipasi sektor swasta dan likuiditas serta kedalaman pasar,” tulis IMF.
Sementara itu, dari sisi fiskal, IMF mendukung komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin anggaran melalui penerapan aturan fiskal yang kredibel.
Namun, lembaga tersebut menekankan perlunya pembatasan aktivitas kuasi-fiskal serta penguatan tata kelola BPI Danantara guna mencegah akumulasi kewajiban kontinjensi di masa depan.
IMF juga mendorong percepatan reformasi struktural, termasuk deregulasi dan peningkatan keterbukaan perdagangan, guna memperbaiki iklim usaha, meningkatkan produktivitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang dipimpin oleh sektor swasta. Langkah ini dinilai penting untuk mencapai target Indonesia sebagai negara berpendapatan tinggi pada 2045.
“Secara khusus, peralihan dari langkah-langkah perdagangan non-tarif akan sangat penting untuk lebih meningkatkan integrasi ekonomi global. Industri harus menargetkan kegagalan pasar, sambil meminimalkan distorsi perdagangan dan investasi. Melanjutkan kemajuan dalam agenda iklim juga akan penting,” pungkas IMF.
Baca Juga : Trump Berikan Undangan ke China untuk Bergabung di “PBB Baru”
Tanggapan Bank Indonesia
Menanggapi laporan tersebut, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyatakan pihaknya menyambut positif asesmen IMF terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Menurutnya, proyeksi tersebut sejalan dengan pandangan Bank Indonesia yang menilai perekonomian nasional akan tetap tumbuh solid, didukung percepatan reformasi struktural.
“Bank Indonesia bersama Pemerintah dan otoritas terkait akan terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter, menjaga stabilitas makroekonomi dan sektor keuangan, mempercepat reformasi struktural strategis, serta mempererat koordinasi kebijakan sebagai landasan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan akseleratif.”
