Konflik AS-Venezuela Memanas, Kapal Tanker Ketujuh Disita
Militer Amerika Serikat kembali menyita sebuah kapal tanker di sekitar perairan Venezuela pada Selasa (20/1). Kapal tersebut menjadi tanker ketujuh yang diamankan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menekan Venezuela agar menghentikan penggunaan armada kapal yang dikenai sanksi, serta memperketat pengawasan terhadap perdagangan minyaknya.
Komando Selatan AS (US Southern Command) melalui unggahannya di media sosial X, Kapal Motor (MV) Sagitta diamankan di kawasan Laut Karibia tanpa perlawanan.
Komando yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di kawasan itu menyatakan, bahwa kapal tersebut melanggar ketentuan Washington terkait larangan penggunaan kapal yang masuk daftar sanksi.
Baca Juga : Tolak Undangan Trump, Macron Diancam Tarif 200%
Menurut pernyataan resmi, penyitaan kapal tanker yang kembali beroperasi di luar ketentuan kebijakan karantina kapal sanksi di Karibia mencerminkan ketegasan pemerintah AS. Otoritas militer AS menegaskan bahwa hanya minyak Venezuela yang diekspor melalui mekanisme yang sah, dan terkoordinasi secara hukum yang diizinkan keluar dari negara tersebut.
Penyitaan MV Sagitta menambah daftar kapal yang diamankan AS sejak awal Desember lalu. Sejumlah operasi penyitaan dilakukan baik sebelum maupun sesudah pasukan AS menggulingkan mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dalam sebuah operasi militer terkoordinasi yang mencakup serangan udara di Caracas.
Pemerintahan Trump sebelumnya telah berkomitmen untuk bertindak tegas terhadap praktik Venezuela yang terus menggunakan kapal-kapal sanksi. Armada tersebut kerap memanfaatkan berbagai taktik pengelabuan, mulai dari manipulasi sinyal GPS, penggunaan bendera palsu, hingga metode penyamaran lainnya guna mengekspor minyak dan komoditas secara ilegal.
Langkah penyitaan ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan Washington terhadap sektor energi Venezuela. Pada awal bulan, Presiden Trump bahkan menyatakan bahwa Venezuela pada akhirnya akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat.
Baca Juga : Tuai Kritik Dunia, Rencana Trump Bentuk Dewan Perdamaian untuk Gaza
