Breaking News: Rusia-AS Akhiri Perjanjian Nuklir
Rusia menyatakan tidak lagi terikat oleh batasan jumlah hulu ledak nuklir setelah perjanjian pengendalian senjata terakhir dengan Amerika Serikat, New START, resmi berakhir pada Kamis (5/2/2026).
Berakhirnya perjanjian tersebut membuat Moskow dan Washington bebas dari seluruh pembatasan arsenal nuklir strategis yang telah berlaku selama lebih dari satu dekade, menyusul tidak adanya kesepakatan lanjutan antara kedua negara.
Baca Juga: Di Tengah Ultimatum Trump, Iran Siap Negosiasi Nuklir
Rusia Nyatakan Tak Lagi Terikat, AS Belum Beri Tanggapan
Kementerian Luar Negeri Rusia menyampaikan bahwa dengan berakhirnya New START, para pihak tidak lagi memiliki kewajiban hukum maupun deklaratif terkait pembatasan senjata nuklir strategis.
“Kami berasumsi bahwa para pihak dalam perjanjian New START tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam konteks perjanjian tersebut,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia yang dimuat AFP.
Meski demikian, Rusia menegaskan akan tetap bertindak secara bertanggung jawab dan bijaksana. Namun, Moskow juga memberi peringatan bahwa mereka siap mengambil tindakan balasan yang tegas apabila keamanan nasional Rusia terancam.
Sebelumnya, pada September tahun lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin sempat menyatakan kesediaannya untuk tetap mematuhi batasan hulu ledak nuklir selama satu tahun. Akan tetapi, Rusia mengklaim tawaran tersebut tidak mendapatkan tanggapan formal dari Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump kala itu menyebut usulan tersebut sebagai ide yang baik, tetapi tidak ada negosiasi lanjutan yang dilakukan setelah pernyataan tersebut. Seorang pembantu Kremlin menyebut Moskow sejatinya masih terbuka untuk dialog mengenai pengendalian senjata nuklir.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa Trump akan menangani isu ini di masa mendatang. Rubio menegaskan posisi Amerika Serikat yang menginginkan keterlibatan China dalam setiap kesepakatan pengendalian senjata global.
“Presiden telah menyatakan dengan jelas di masa lalu bahwa untuk memiliki pengendalian senjata yang sejati di abad ke-21, tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak menyertakan China, karena stok mereka yang besar dan berkembang pesat,” ujar Rubio.
Baca Juga: Negosiasi Nuklir Iran-AS Di Oman, Ancaman Perang Mereda?
Kekhawatiran Global atas Potensi Perlombaan Senjata Nuklir
Secara historis, perjanjian New START ditandatangani pada 2010 oleh Presiden Rusia saat itu Dmitry Medvedev dan Presiden AS Barack Obama. Perjanjian tersebut membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis masing-masing negara hingga 1.550 unit.
Pada 2021, Presiden AS Joe Biden sempat memperpanjang perjanjian itu selama lima tahun. Namun, hubungan kedua negara memburuk setelah konflik Rusia-Ukraina, yang kemudian membuat Rusia membekukan partisipasinya dalam New START pada 2023, meski tetap menyatakan akan mematuhi batasan secara sukarela.
Runtuhnya perjanjian tersebut memicu kekhawatiran dari berbagai pihak internasional. Paus Leo XIV, dalam audiensi mingguan, mendesak Rusia dan Amerika Serikat agar tidak meninggalkan perjanjian pengendalian senjata tanpa adanya tindak lanjut yang konkret.
“Saya mendesak Anda untuk tidak meninggalkan instrumen ini tanpa mencari jaminan bahwa itu ditindaklanjuti secara nyata dan efektif,” kata Paus.
Peringatan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Kampanye Internasional untuk Menghapuskan Senjata Nuklir (ICAN), Melissa Parke. Ia menilai berakhirnya New START berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir baru.
“Tanpa New START, terdapat bahaya nyata berupa peningkatan jumlah hulu ledak, sistem pengiriman, dan latihan militer yang akan menekan negara nuklir lain untuk mengikuti langkah serupa,” ujarnya.

[…] Breaking News: Rusia-AS Akhiri Perjanjian Nuklir […]
[…] Baca Juga: Rusia-AS Akhiri Perjanjian Nuklir, Breaking News […]