Proyek Gas Rp352 T RI Segera Dibangun, Siapa Pemiliknya?
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyampaikan perkembangan terbaru proyek gas raksasa Blok Masela yang dioperatori Inpex Corporation. Proyek yang berlokasi di Maluku ini disebut segera memasuki tahap lanjutan setelah dokumen lingkungan hampir rampung.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) akan segera diserahkan Kementerian Lingkungan Hidup kepada SKK Migas sehingga proyek bisa masuk tahap awal pembangunan fisik.
“Untuk Inpex, insya allah besok akan diserahkan AMDAL kepada Pak Menteri Lingkungan, kepada SKK migas, itu nanti bisa berproduksi insya allah di 2030 atau lebih cepat,” jelas Djoko dalam RDP bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (12/2/2026).
Baca Juga: Siap Terbang ke AS, Prabowo Rapat Perdana hingga Teken Tarif Trump
Investasi Rp 352 Triliun dan Target Produksi
Djoko mengungkapkan, proyek Blok Masela diperkirakan membutuhkan investasi hampir 21 miliar dollar AS atau sekitar Rp 352 triliun. Kapasitas produksinya ditargetkan mencapai 1.600 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Dari total produksi tersebut, sebanyak 150 MMSCFD akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sementara sisanya ditujukan untuk ekspor LNG. Selain gas, proyek ini juga akan menghasilkan kondensat sekitar 35.000 barel per hari.
“Itu mudah-mudahan ini bisa groundbreaking juga sebelum lebaran. Sekarang sedang persiapan untuk ground breaking di lapangan,” ujar Djoko.
Lapangan Abadi di Blok Masela dikenal sebagai lapangan gas laut dalam dengan cadangan terbesar di Indonesia. Lokasinya sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura, dengan kedalaman 400–800 meter. Potensi gasnya diperkirakan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF).
Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) Masela yang diteken pada 1998 dan telah diperpanjang hingga 2055 itu berpotensi menghasilkan 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA), 150 MMSCFD gas pipa, serta 35.000 barel per hari kondensat.
Baca Juga: Danantara Bakal Pangkas BUMN Jadi 300, Siap-siap!
Tantangan Pengembangan dan Potensi Tenaga Kerja
Pengembangan Lapangan Abadi mengusung konsep green field atau lapangan migas baru dengan kompleksitas tinggi dan risiko besar. Proyek ini mencakup pengeboran deepwater, pembangunan fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), hingga onshore LNG plant.
Selain menjadi tantangan teknis, proyek ini juga dinilai sebagai peluang besar bagi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan mitra-mitranya untuk merealisasikan salah satu proyek gas terbesar di Indonesia. Pengembangannya diperkirakan mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.
Blok Masela juga dirancang menghasilkan clean LNG melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) guna mendukung pengurangan emisi karbon dan keberlanjutan di era transisi energi. Penerapan CCS telah disetujui pemerintah pada 28 November 2023 melalui Revisi 2 PoD-I, sebelum dilanjutkan ke tahap tender Front End Engineering Design (FEED). Pada 9 April 2025, Inpex resmi meluncurkan FEED untuk proyek onshore LNG (OLNG).
Baca Juga: Danantara Kini Jadi 10 Besar Perusahaan Dunia, Bukan Main!
Perubahan Pemegang Saham dan Jejak Proyek
Inpex Masela Ltd menjadi pemegang hak partisipasi (Participating Interest/PI) terbesar di Blok Masela dengan porsi 65 persen. Sebelumnya, Inpex bermitra dengan Shell Upstream Overseas Services yang memegang 35 persen saham. Namun, Shell memutuskan hengkang dari proyek tersebut.
Sebanyak 35 persen saham Shell kemudian diambil alih oleh PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) sebesar 20 persen dan Petronas sebesar 15 persen. Perjanjian jual beli ditandatangani pada 25 Juli 2023 dan persetujuan Menteri ESDM atas pengalihan hak partisipasi diperoleh pada 4 Oktober 2023.
Secara historis, kontrak bagi hasil Blok Masela ditandatangani pada 1998. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2000, Inpex menemukan cadangan gas jumbo di wilayah tersebut. Pemerintah Indonesia baru memberikan persetujuan Rencana Pengembangan pertama (PoD-I) pada 2019 untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas pipa, dan 35.000 barel per hari kondensat.
Pada 2023, setelah masuknya Pertamina dan Petronas, pemerintah juga menyetujui Revisi 2 PoD-I yang memasukkan fasilitas CCS. Kemudian pada 2025, FEED OLNG resmi diluncurkan sebagai bagian dari tahapan menuju realisasi penuh proyek Lapangan Abadi di Blok Masela.

[…] Proyek Gas Rp352 T RI Segera Dibangun, Siapa Pemiliknya? […]