Prediksi Balik Modal Whoosh Butuh Waktu Hingga 100 Tahun
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh kembali menjadi sorotan setelah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkap adanya potensi kerugian keuangan yang dialami PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) sebesar Rp 2,27 triliun.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menilai proyek tersebut perlu diawasi secara ketat melalui monitoring dan evaluasi menyeluruh untuk mencegah potensi penyimpangan.
“Menurut saya semua proyek pengadaan fisik berpotensi menimbulkan korupsi, tidak hanya Whoosh, tetapi juga jalan tol, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan lain-lain,” katanya saat dihubungi pada Senin (23/2/2026).
Baca Juga: Purbaya Sindir WNI Eks LPDP, Sebut 2046 Nyesel Ekonomi RI Baik
Menurut Esther, pengawasan dapat dilakukan dengan cara sederhana, yakni membandingkan kualitas barang atau hasil pekerjaan dengan harga pasar yang berlaku. Cara tersebut bisa menjadi indikator awal untuk mendeteksi adanya dugaan penyimpangan.
“Mudah ngeceknya, bandingkan saja dengan kualitas barang yang diterima dengan harga pasar yang ada,” lanjutnya.
Soroti Pengawasan dan Beban Utang
Esther menegaskan bahwa strategi utama untuk meminimalkan potensi korupsi adalah melalui monitoring dan evaluasi proyek secara konsisten. Jika ditemukan kejanggalan, maka harus ditindaklanjuti dengan penegakan hukum.
“Strategi untuk meminimalkan korupsi, iya harus monitoring dan evaluasi proyek. Jika ditemukan kejanggalan maka penegakan hukum,” tegasnya.
Selain aspek tata kelola, ia juga menyoroti sisi pembiayaan proyek Whoosh. Menurutnya, terdapat kesenjangan yang cukup besar antara jumlah utang yang ditanggung pemerintah dan potensi penerimaan dari operasional kereta cepat tersebut.
“Jumlah utang yang ditanggung pemerintah untuk Whoosh dan potensi penerimaan dari Whoosh ini gap-nya sangat besar,” ucap Esther.
Baca Juga: Dalam Sepekan, Bea cukai Segel 2 Merek Toko Emas Ternama
Ia menambahkan, kondisi tersebut berdampak pada lamanya periode pengembalian investasi (payback period). Berdasarkan perhitungannya, dengan tingkat okupansi Whoosh saat ini, waktu yang dibutuhkan untuk balik modal sangat panjang.
“Ini mengakibatkan tingkat pengembalian (payback period) proyek Whoosh sangat lama. Saya pernah menghitung sekitar lebih 100 tahun lebih dengan tingkat okupansi Whoosh seperti sekarang,” pungkas dia.
