Tarif Fantastis Kapal Melewati Selat Hormuz, Segini Angkanya
Langkah Iran yang secara de facto membatasi akses di Selat Hormuz sebagai respons terhadap konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, telah memicu salah satu krisis energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Para analis memperingatkan kondisi ini berpotensi menyeret ekonomi dunia menuju resesi.
Sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026, pemerintah di Tehran terus mempertahankan pembatasan lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut. Padahal, wilayah ini biasanya menjadi jalur distribusi sekitar 20 juta barel minyak setiap harinya.
Selat Hormuz memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas ekonomi global. Gangguan di jalur ini dinilai berpotensi mendorong lonjakan inflasi, serta mengganggu pasokan energi bagi negara-negara yang sangat bergantung pada jalur tersebut.
Baca Juga : IMF Siaga Bantuan Darurat Bagi Negara Terdampak Perang Timteng
Mengutip laporan Al Jazeera, sekitar 2.000 kapal dilaporkan tertahan di sekitar selat sempit yang memisahkan Iran di sisi utara dengan Oman, serta Uni Emirat Arab di bagian selatan.
Pada Kamis (26/3/2026), sejumlah media Iran melaporkan bahwa parlemen negara tersebut tengah menyusun rancangan undang-undang yang memungkinkan penerapan biaya tol bagi kapal yang melintasi jalur tersebut.
“Menurut rencana ini, Iran harus memungut biaya untuk memastikan keamanan kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz,” kata seorang pejabat seperti dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (28/3/2026).
“Hal ini sepenuhnya wajar. Sama seperti di koridor lain, ketika barang melewati suatu negara, bea masuk dibayarkan. Selat Hormuz juga merupakan koridor. Kami memastikan keamanannya, dan wajar jika kapal dan tanker membayar bea masuk kepada kami,” tambahnya.
Harga Minyak Melonjak di Atas US$100 per Barel
Pembatasan akses di Selat Hormuz menyebabkan dampak langsung terhadap pasar energi global. Harga minyak mentah dilaporkan menembus angka di atas US$100 per barel, meningkat sekitar 40 persen dibandingkan kondisi sebelum konflik pecah.
Lonjakan tersebut memaksa sejumlah negara, terutama di kawasan Asia, mengambil langkah darurat seperti penjatahan bahan bakar, serta pengurangan kapasitas produksi industri untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Negara-negara yang terdampak juga dilaporkan melakukan lobi kepada Iran agar kembali membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan satu-satunya akses utama ekspor minyak dan gas bagi sebagian besar negara produsen energi di kawasan Teluk.
Iran sendiri menuntut pengakuan internasional atas haknya dalam mengelola otoritas di Selat Hormuz sebagai salah satu syarat untuk menghentikan konflik.
Baca Juga : 6 Kapal dari Negara Ini Diizinkan Lewat Selat Hormuz, Bagaimana dengan RI?
Iran Mulai Kenakan Biaya Transit Kapal
Pada Minggu (29/3/2026), anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, menyampaikan bahwa beberapa kapal telah dikenakan biaya transit untuk dapat melintas di selat tersebut.
Ia mengungkapkan hal tersebut dalam wawancara dengan saluran televisi berbahasa Persia berbasis di Inggris, Iran International.
“Sekarang, karena perang memiliki biaya, tentu saja, kita harus melakukan ini dan memungut biaya transit dari kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal International Maritime Organization (IMO), Arsenio Dominguez, menyatakan bahwa ribuan kapal saat ini masih menunggu di kedua sisi selat untuk memperoleh izin berlayar.
Selain itu, perusahaan intelijen maritim Windward menilai kondisi antrian kapal tersebut menunjukkan banyak operator memilih bertahan di luar Selat Hormuz, daripada mengambil rute alternatif yang lebih jauh dan mahal.
