Hizbullah Sebut Perundingan Damai Lebanon-Israel Tak Ada Gunanya
Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menolak rencana perundingan langsung antara Lebanon dan Israel yang difasilitasi Amerika Serikat.
Penolakan tersebut disampaikan Qassem pada Senin (27/4/2026), menyusul adanya pertemuan antara perwakilan Lebanon dan Israel di Washington dalam beberapa pekan terakhir. Pertemuan itu menjadi yang pertama dalam beberapa dekade, mengingat kedua pihak secara resmi masih berada dalam status perang sejak 1948.
Baca Juga: Menlu Iran Bongkar Aib Besar Trump di Hadapan Putin
Hizbullah Tolak Negosiasi Langsung
Qassem menilai perundingan langsung dengan Israel sebagai langkah yang berbahaya bagi stabilitas Lebanon.
“Kami menolak negosiasi langsung dengan Israel. Mereka yang berkuasa harus tahu bahwa tindakan mereka tidak akan menguntungkan Lebanon maupun diri mereka sendiri,” ujar Qassem, seperti yang dilansir dari AFP.
Ia juga mendesak pemerintah Lebanon untuk membatalkan rencana tersebut, karena dinilai mengabaikan kepentingan nasional dan membuka ruang bagi pihak yang dianggap sebagai musuh.
“Pemerintah Lebanon tidak dapat terus berjalan sambil mengabaikan hak-hak Lebanon, menyerahkan tanah, dan mengkonfrontasi rakyatnya yang melakukan perlawanan,” tambah dia.
Qassem menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan mengakui hasil dari perundingan tersebut dan tetap melanjutkan perlawanan.
“Negosiasi langsung ini beserta hasilnya bagi kami seolah-olah tidak ada, dan tidak menarik perhatian kami sedikit pun. Kami akan melanjutkan perlawanan defensif untuk Lebanon dan rakyatnya,” tegas dia
Ia juga memastikan kelompoknya tidak akan melucuti senjata dalam kondisi apa pun.
“Tidak peduli seberapa banyak musuh mengancam, kami tidak akan mundur, kami tidak akan tunduk, dan kami tidak akan dikalahkan. Kami tidak akan menyerahkan senjata kami dan musuh Israel tidak akan tetap berada di satu inci pun tanah kami yang diduduki,” terang dia.
Baca Juga: Negosiasi Buntu, Iran Nilai Tuntutan AS Terlalu Berlebihan
Ketegangan Internal dan Eskalasi Konflik
Di sisi lain, pemerintah Lebanon menyatakan bahwa negosiasi yang disponsori Amerika Serikat tersebut bertujuan untuk mengakhiri konflik dan mengembalikan stabilitas nasional.
Namun, muncul ketegangan internal setelah dokumen gencatan senjata yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri AS memuat klausul yang memungkinkan Israel tetap melakukan serangan terhadap Hizbullah dalam kondisi tertentu.
Qassem pun mempertanyakan sikap pemerintah Lebanon terkait hal tersebut.
“Apakah pemerintah telah memutuskan untuk bekerja sama dengan musuh Israel melawan rakyatnya sendiri?” tanya Qassem.
Konflik terbuka antara Israel dan Lebanon sendiri bermula pada awal Maret, ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai respons atas serangan sebelumnya. Sejak saat itu, serangan balasan terus terjadi dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak pertengahan April, situasi di lapangan masih belum sepenuhnya kondusif, dengan kedua pihak saling melancarkan serangan di wilayah perbatasan.

[…] Hizbullah Sebut Perundingan Damai Lebanon-Israel Tak Ada Gunanya […]
[…] Hizbullah Sebut Perundingan Damai Lebanon-Israel Tak Ada Gunanya […]
[…] Baca Juga: Perundingan Damai Lebanon-Israel Tak Punya Manfaat, Ungkap Hizbullah […]