Perang AS-Iran Pecah, Rusia Jadi Pihak yang Diuntungkan, Kok Bisa?
Sejumlah analis menilai minyak dari Rusia menjadi pihak yang paling diuntungkan dari konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.
Kondisi ini dipicu meningkatnya persaingan untuk menyewa kapal tanker minyak setelah Presiden AS, Donald Trump, memutuskan untuk sementara, melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia. Kebijakan tersebut muncul setelah percakapan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada 10 Maret 2026.
Trump menyampaikan, bahwa Amerika Serikat akan mencabut sebagian sanksi terkait ekspor minyak Rusia ke sejumlah negara. Langkah tersebut diambil untuk mengatasi potensi kekurangan pasokan minyak global, setelah Iran menutup jalur vital pengiriman energi.
Baca Juga : Ratusan Gerai Mixue Ditutup Masal, Indonesia Terkena Dampak?
Berdasarkan laporan Al Jazeera pada 20 April 2026, data dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menunjukkan Rusia memperoleh tambahan pendapatan sebesar 672 juta euro atau sekitar Rp13,5 triliun hanya dalam dua minggu pertama konflik Iran.
Penutupan Selat Hormuz Ganggu Pasokan Minyak Global
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran disebut sebagai faktor utama yang mengganggu distribusi energi global.
Penutupan jalur tersebut menyebabkan sekitar 20 juta barel minyak dari kawasan Teluk tidak dapat disalurkan setiap harinya. Kondisi ini mendorong Amerika Serikat untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap ekspor minyak Rusia untuk meredam krisis energi yang berpotensi terjadi.
“Rusia telah muncul sebagai penerima manfaat utama dari konflik Timur Tengah karena kekosongan pasokan besar-besaran yang tercipta akibat penutupan Selat Hormuz,” kata George Voloshin.
“Kilang-kilang global sangat membutuhkan alternatif minyak mentah medium-sour, kebutuhan yang secara khusus dipenuhi oleh jenis minyak mentah Urals Rusia,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa kebijakan Amerika Serikat yang memberikan penangguhan sementara terhadap sanksi ekspor minyak Rusia, memberikan peluang besar bagi Moskow untuk meningkatkan volume ekspor sekaligus pendapatan dari sektor energi.
India, China, dan Turki Jadi Pembeli Utama
Menurut Voloshin, negara-negara utama yang saat ini membeli minyak Rusia masih didominasi oleh India dan China, yang secara bersama menyumbang sebagian besar ekspor minyak Rusia melalui jalur laut.
“Pembeli utama minyak Rusia tetaplah India dan China, yang bersama-sama kini menyumbang sebagian besar ekspor minyak Rusia melalui jalur laut,” ujar Voloshin.
Selain kedua negara tersebut, Turki juga disebut sebagai pelanggan penting. Negara itu memanfaatkan pasokan minyak Rusia untuk menjaga stabilitas pasar domestiknya di tengah kekurangan gas yang dipicu oleh serangan Israel di ladang South Pars.
Voloshin juga menyoroti peran armada tanker tua yang dikenal sebagai “shadow fleet”. Armada ini digunakan untuk mengirim minyak Rusia ke kilang-kilang kecil yang regulasinya lebih longgar di wilayah Asia Tenggara dan Timur Tengah.
Baca Juga : Negosiasi Berhenti, Iran Sebut Tuntutan AS Berlebihan!
“Selain itu, armada bayangan kapal tanker tua terus mengangkut minyak Rusia ke kilang-kilang yang lebih kecil dan kurang diatur di seluruh Asia Tenggara dan Timur Tengah,” tambahnya.
Ia menyebutkan bahwa penggunaan armada tersebut memungkinkan distribusi minyak Rusia tetap berjalan di wilayah-wilayah yang persaingannya tinggi, sekaligus membuka peluang munculnya pembeli baru di masa mendatang.
