Survei Terbaru: Mayoritas Warga AS Tak Paham Tujuan Trump Perangi Iran
Mayoritas warga Amerika Serikat disebut masih bingung terhadap tujuan Presiden Donald Trump membawa negaranya terlibat dalam perang melawan Iran.
Survei terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan dukungan publik terhadap Trump masih menghadapi tekanan besar di tengah konflik berkepanjangan yang memicu lonjakan harga energi dan membebani ekonomi rumah tangga warga Amerika.
Perang yang dimulai melalui kampanye pengeboman gabungan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu juga disebut mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat AS, termasuk meningkatnya biaya bahan bakar hingga ancaman pembatalan liburan musim panas.
Hasil survei Reuters/Ipsos yang selesai pada Senin (11/5/2026) menunjukkan sekitar 66 persen responden menilai Trump belum menjelaskan secara jelas alasan keterlibatan militer AS di Iran.
Dalam survei empat hari tersebut, satu dari tiga pemilih Partai Republik dan hampir seluruh pemilih Demokrat mengaku tidak memahami tujuan perang yang dijalankan pemerintahan Trump.
Konflik yang berlangsung lebih dari dua bulan itu juga disebut berdampak besar terhadap harga energi global setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang biasa dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Akibatnya, harga bensin di AS melonjak sekitar 50 persen secara nasional.
Baca Juga: Iran Diam-diam Dihantam UEA? Teluk Terancam Meledak
Harga Bensin Jadi Ancaman Politik bagi Trump
Survei Reuters/Ipsos juga menunjukkan mayoritas warga AS mulai mengaitkan kenaikan harga bahan bakar dengan kebijakan pemerintahan Trump.
Sebanyak 63 persen responden mengaku kondisi keuangan rumah tangga mereka terdampak akibat lonjakan harga bensin.
Angka itu meningkat dibanding survei Reuters/Ipsos pada Maret lalu yang mencatat 55 persen warga mengalami tekanan ekonomi serupa.
Meski tingkat persetujuan terhadap Trump sedikit membaik menjadi 36 persen, angka tersebut masih lebih rendah dibanding level dukungan sebelum perang dimulai.
Saat memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025, Trump sempat mencatat tingkat kepuasan publik sebesar 47 persen.
Survei juga menunjukkan sekitar tiga perempat warga AS, termasuk separuh pemilih Partai Republik, menilai pemerintahan Trump memiliki tanggung jawab besar terhadap kenaikan harga bensin.
Ketika ditanya partai mana yang paling bertanggung jawab atas situasi tersebut, sebanyak 65 persen responden menyebut Partai Republik, sedangkan hanya 27 persen yang menyalahkan Partai Demokrat.
Kekhawatiran terhadap mahalnya harga energi disebut berpotensi memengaruhi pemilu sela Kongres AS pada November mendatang, ketika Partai Republik tengah berupaya mempertahankan mayoritas tipis di DPR dan Senat.
Di sisi lain, belum ada tanda-tanda kesepakatan damai antara Washington dan Teheran akan segera tercapai.
Sekitar tiga dari 10 warga AS bahkan mengaku kemungkinan akan mengurangi atau membatalkan rencana liburan musim panas apabila harga bensin tetap tinggi.
Trump sendiri berulang kali menjanjikan harga bahan bakar akan turun setelah perang berakhir.
Baca Juga: Iran Mau Digempur Trump Lagi, Perang Kian Tak Terkendali
Namun, sejumlah analis menilai penurunan harga energi tidak akan terjadi secara cepat meski konflik mulai mereda.
Survei Reuters/Ipsos juga menunjukkan publik AS belum melihat pihak yang benar-benar unggul dalam perang tersebut.
Hanya satu dari tiga warga AS yang percaya negaranya berada di atas angin dalam konflik melawan Iran, sementara sebagian besar lainnya mengaku tidak yakin siapa yang lebih unggul.
Survei itu dilakukan secara daring terhadap 1.254 responden dewasa di seluruh AS dengan margin kesalahan sekitar tiga poin persentase.
