Trump vs Netanyahu Memanas, Damai Iran Terancam Gagal
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan terlibat perbedaan pandangan terkait upaya mengakhiri perang dengan Iran. Situasi ini berbanding terbalik dengan kondisi beberapa bulan sebelumnya ketika kedua pemimpin terlihat sejalan dalam mendukung operasi militer terhadap Teheran.
Menurut laporan Wall Street Journal, perbedaan sikap tersebut muncul saat Washington mulai mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik, sementara Israel tetap mempertahankan pendekatan militer terhadap ancaman di kawasan.
Iran Jadikan Lebanon sebagai Syarat Negosiasi
Teheran disebut menjadikan penghentian konflik antara Israel dan Hizbullah sebagai syarat utama untuk melanjutkan pembicaraan yang lebih luas dengan Washington.
Baca Juga : Bandara Kuwait Diserang Drone, Banyak Korban Luka-luka
Serangkaian pertemuan intensif akhirnya menghasilkan kesepakatan sementara. Hizbullah dikabarkan bersedia menghentikan serangan ke wilayah Israel, sementara Israel menahan diri untuk tidak melancarkan serangan ke Beirut, ibu kota Lebanon.
Meski demikian, bentrokan di sejumlah wilayah lain di Lebanon dilaporkan masih berlangsung hingga Selasa (2/6/2026).
Panggilan Telepon Trump-Netanyahu Berlangsung Panas
Ketegangan antara kedua pemimpin memuncak setelah Trump menggelar rapat bersama para pejabat senior Gedung Putih pada Jumat (29/5/2026). Dalam pertemuan tersebut dibahas proposal perdamaian terbaru dari Iran yang mencakup jaminan terkait program nuklir Teheran.
Di saat yang sama, Netanyahu tengah meningkatkan operasi militer terhadap Hizbullah di Lebanon menyusul serangan drone yang menewaskan sejumlah personel Israel.
Para pejabat AS kemudian memperingatkan bahwa eskalasi tersebut berpotensi menggagalkan proses diplomasi dengan Iran.
Pada Senin (1/6/2026), Trump dan Netanyahu melakukan dua kali percakapan telepon yang dilaporkan berlangsung tegang. Trump mendesak Israel membatalkan rencana serangan ke Beirut, sementara Netanyahu tetap bersikeras melanjutkan operasi militernya.
Dalam percakapan kedua, suasana disebut semakin memanas. Trump dikabarkan meninggikan suara dan menekan Netanyahu agar mengikuti arah kebijakan Washington.
Bukan Pertama Kali Hubungan Keduanya Tegang
Ketegangan antara Trump dan Netanyahu sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, kedua tokoh juga dilaporkan memiliki perbedaan pandangan terkait strategi militer Israel di kawasan Timur Tengah.
“Saya rasa ada kesenjangan besar,” kata Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel dan peneliti senior Institute for National Security Studies di Tel Aviv.
“Trump ingin menguras semua upaya dan tidak ingin ada pihak yang merusak proses itu,” lanjutnya.
Tekanan Politik Berbeda di AS dan Israel
Trump dan Netanyahu sama-sama menghadapi tekanan politik menjelang agenda politik penting di negara masing-masing. Namun, tekanan yang mereka hadapi justru bergerak ke arah berbeda.
Di AS, Trump menghadapi desakan untuk segera mengakhiri konflik yang dianggap berdampak pada kenaikan harga energi dan memicu perpecahan di kalangan pendukungnya. Sejumlah tokoh konservatif mulai mempertanyakan dukungan Washington terhadap Israel.
Sementara itu, Netanyahu menghadapi tekanan dari publik Israel yang menginginkan tindakan lebih tegas terhadap Hizbullah setelah serangkaian serangan drone yang menimbulkan korban jiwa dan gangguan keamanan di wilayah utara Israel.
Iran Manfaatkan Perbedaan Sikap AS dan Israel
Iran bergerak cepat memanfaatkan perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv. Pemerintah Iran mengancam keluar dari proses negosiasi jika Israel memperluas operasi militernya ke wilayah yang menjadi basis Hizbullah di Beirut selatan.
Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington berupaya memisahkan pembahasan konflik Lebanon-Israel dari negosiasi terkait Iran.
“Kami berusaha memandang pembicaraan Lebanon-Israel sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari Iran. Yang Iran inginkan adalah mencampurkan semuanya,” ujar Rubio.
Kesepakatan Lebanon Masih Rapuh
Pada akhirnya, Israel dilaporkan menyetujui untuk tidak menyerang Beirut dengan syarat Hizbullah menghentikan serangan terhadap kota-kota Israel.
Baca Juga : Danantara Sedang Siapkan Obligasi Dolar AS
Meski begitu, kesepakatan tersebut dinilai masih sangat rapuh. Pernyataan pejabat Israel maupun Lebanon mengindikasikan bahwa wilayah Lebanon selatan tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut, sehingga operasi militer masih terus berlangsung.
Perbedaan pandangan antara Trump dan Netanyahu mencerminkan perubahan prioritas yang mulai muncul dalam penanganan konflik Iran. Jika sebelumnya keduanya fokus pada tekanan militer, kini Washington lebih menekankan penyelesaian diplomatik untuk menjaga stabilitas kawasan dan mengurangi dampak ekonomi global.
“Ini pertunjukan Trump. Bukan pertunjukan Netanyahu,” kata Citrinowicz.
