5 Masalah Besar yang Bayangi Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 akan segera digelar dengan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai tuan rumah bersama. Namun di tengah antusiasme publik dunia menyambut turnamen sepak bola terbesar tersebut, sejumlah persoalan serius justru mulai mencuat bahkan sebelum kompetisi dimulai.
Mulai dari isu politik FIFA, kebijakan imigrasi Amerika Serikat, harga tiket yang dinilai tidak masuk akal, hingga kekhawatiran soal dampak lingkungan menjadi sorotan tajam jelang perhelatan akbar tersebut.
Dilansir dari DW, berikut lima persoalan utama yang membayangi Piala Dunia 2026.
1. FIFA Dinilai Kehilangan Netralitas Politik
Kedekatan Presiden FIFA Gianni Infantino dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi salah satu isu yang paling banyak disorot.
Baca Juga : Mentan Bongkar Anomali Harga Sawit, Ini Akar Masalahnya
Infantino terlihat duduk di panggung mengenakan topi bertuliskan “USA” dalam acara Board of Peace yang dipimpin Trump. Ia juga memberikan penghargaan bertajuk “FIFA Peace Prize” kepada Trump saat undian Piala Dunia berlangsung.
Padahal, FIFA dalam statuta organisasinya menegaskan harus bersikap netral secara politik. Kedekatan tersebut memicu kritik karena dinilai mencampuradukkan kepentingan olahraga dengan politik negara tertentu.
Situasi semakin sensitif karena Amerika Serikat saat ini tengah terlibat konflik dengan Iran, yang juga menjadi salah satu peserta Piala Dunia 2026. Ini menjadi pertama kalinya dalam sejarah turnamen ketika negara tuan rumah berada dalam kondisi konflik dengan negara peserta.
2. Banyak Suporter Terancam Tak Bisa Masuk AS
Kebijakan imigrasi Amerika Serikat juga menjadi persoalan besar menjelang turnamen berlangsung.
Pengetatan aturan visa membuat banyak pendukung tim nasional dari sejumlah negara peserta terancam tidak bisa hadir langsung ke stadion.
Suporter asal Iran dan Haiti disebut terkena larangan masuk penuh, sementara hanya pemain dan staf resmi yang diperbolehkan masuk ke AS.
Kondisi serupa juga dialami pendukung dari Senegal dan Pantai Gading. Pemerintah AS sebelumnya bahkan sempat menerapkan kebijakan uang jaminan hingga 15.000 dollar AS bagi pengunjung dari negara tertentu.
Meski aturan itu akhirnya dicabut untuk sebagian pemegang tiket, kekhawatiran masih muncul terkait potensi pemeriksaan atau penangkapan oleh petugas imigrasi di sekitar stadion pertandingan.
3. Harga Tiket Dinilai Tak Masuk Akal
Persoalan lain yang menuai kritik keras adalah harga tiket Piala Dunia 2026 yang dianggap terlalu mahal dan tidak transparan.
FIFA menerapkan sistem harga dinamis, yang membuat harga tiket berubah sesuai tingkat permintaan pasar. Akibatnya, dua orang pembeli bisa mendapatkan harga berbeda untuk kursi yang sama.
Tiket final termurah dilaporkan masih dijual seharga 8.625 dollar AS atau sekitar Rp155 juta. Bahkan satu kursi premium di dekat lapangan dipasarkan hingga 690.000 dollar AS atau sekitar Rp12 miliar.
Organisasi suporter dan lembaga perlindungan konsumen di Eropa telah mengajukan protes resmi terkait praktik penjualan tiket tersebut. Jaksa Agung di New Jersey dan New York juga mulai melakukan penyelidikan terhadap sistem penjualan FIFA.
4. Format 48 Tim Dipertanyakan
Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama dengan format 48 peserta, meningkat dari sebelumnya 32 tim.
Jumlah pertandingan otomatis melonjak dari 64 menjadi 104 laga. Namun perubahan ini justru memunculkan kekhawatiran terkait kualitas kompetisi.
Kini tidak hanya dua tim terbaik grup yang lolos ke fase gugur, tetapi juga delapan tim peringkat tiga terbaik dari seluruh grup.
Sejumlah pengamat menilai penambahan peserta lebih bermuatan politis dibanding kebutuhan kompetisi sepak bola itu sendiri. FIFA dinilai ingin memperluas basis dukungan dari negara-negara anggota kecil yang mendapat keuntungan dari tambahan slot peserta.
5. Isu Lingkungan Jadi Sorotan
Komitmen FIFA terhadap isu lingkungan juga dipertanyakan menjelang Piala Dunia 2026.
Beberapa studi memperkirakan turnamen ini akan menghasilkan lebih dari sembilan juta ton karbon dioksida akibat tingginya mobilitas penerbangan dan jauhnya jarak antar kota tuan rumah.
Baca Juga : BI Naikkan Suku Bunga, Investor Asing dapat “Hadiah”!
Banyak stadion juga berada di wilayah pinggiran kota dengan akses transportasi umum yang terbatas.
Harga transportasi menuju stadion bahkan sempat menuai protes. Tarif kereta menuju MetLife Stadium dari New York awalnya dipatok 150 dollar AS sebelum akhirnya diturunkan setelah mendapat kecaman dari suporter.
Selain itu, biaya parkir kendaraan pribadi di sejumlah venue pertandingan disebut mencapai 75 hingga 300 dollar AS per laga.
Kondisi tersebut membuat banyak pihak menilai janji ramah lingkungan FIFA hanya sebatas slogan, sementara kenyataannya para pendukung tetap dipaksa melakukan perjalanan panjang dengan biaya tinggi dan emisi besar.
