BI Naikkan Suku Bunga, Investor Asing Dapat Insentif
Bank Indonesia (BI) mengambil langkah baru untuk meningkatkan minat investor asing masuk ke pasar keuangan domestik. Upaya tersebut dilakukan dengan memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai atau hedging swap bagi investor asing.
Kebijakan ini bertujuan meningkatkan imbal hasil investasi sekaligus memberikan kompensasi atas berbagai kewajiban yang selama ini ditanggung investor asing ketika menanamkan modal di Indonesia.
Baca Juga : Kantin Sekolah Dikaji untuk Alternatif Dapur MBG di Wilayah 3T
“Pemberian insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10% (sepuluh persen),” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam siaran pers, Selasa (9/6/2026).
BI Fasilitasi Lindung Nilai Investasi Asing
Perry menjelaskan bahwa selama ini Bank Indonesia telah menyediakan fasilitas swap lindung nilai bagi aliran investasi asing yang masuk melalui perbankan nasional. Selanjutnya, fasilitas tersebut diteruskan kepada Bank Indonesia sebagai bagian dari mekanisme pengelolaan risiko nilai tukar.
Melalui insentif baru ini, biaya lindung nilai bagi investor asing menjadi lebih rendah sehingga diharapkan dapat meningkatkan daya tarik investasi di tengah dinamika pasar keuangan global.
Meski demikian, Perry menegaskan bahwa penentuan tingkat swap reguler tetap mengikuti mekanisme pasar yang berlaku.
“Sementara itu, penentuan tingkat swap yang reguler (reguler swap) tetap terus diberikan Bank Indonesia sesuai mekanisme pasar yang berlaku.”
Selain memberikan insentif kepada investor asing, Bank Indonesia juga memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan.
Baca Juga : Trump Percepat Adopsi AI untuk Perkuat Keamanan AS
Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan Bank Indonesia yang digelar pada 9 Juni 2026.
Dalam rapat tersebut, BI menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,50 persen dan suku bunga Lending Facility meningkat menjadi 6,25 persen.
