IMF: Perdamaian AS-Iran Belum Akhiri Dampak Ekonomi Globa
Dana Moneter Internasional (IMF) menyambut baik kesepakatan damai yang dicapai Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, IMF menilai berakhirnya perang tidak serta-merta menghilangkan dampak ekonomi yang telah ditimbulkan selama berbulan-bulan terakhir.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan pemulihan pasokan energi global masih membutuhkan waktu karena kerusakan infrastruktur yang ditinggalkan perang cukup besar.
“Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, banyak hal bergantung pada durasi dan intensitas guncangan pasokan energi,” tulis Georgieva dalam unggahan di situs IMF, Senin (15/6/2026).
“Semakin cepat hal itu diselesaikan, semakin baik, terutama karena pasokan akan membutuhkan waktu untuk pulih mengingat kerusakan infrastruktur yang signifikan, dan pengumuman gencatan senjata pada Minggu disambut baik,” lanjutnya.
Sebelumnya, AS dan Iran pada Minggu (14/6/2026) mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri perang yang berlangsung di berbagai wilayah Timur Tengah.
Kedua negara juga sepakat membuka kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia.
Kesepakatan tersebut memunculkan harapan baru bagi pemulihan ekonomi global setelah berbulan-bulan ketidakpastian akibat konflik.
Baca Juga: Sanksi Iran Siap Dicabut Eropa usai Kesepakatan Damai
Risiko Ekonomi Global Masih Membayangi
Georgieva menegaskan bahwa berakhirnya perang tidak berarti seluruh risiko terhadap ekonomi dunia ikut hilang.
Menurut dia, masih terdapat ancaman terhadap pertumbuhan global yang perlu diwaspadai oleh banyak negara.
Ia juga menyoroti adanya perbedaan dampak yang cukup besar antarnegera akibat konflik tersebut.
“Negara-negara yang menggabungkan ketergantungan besar pada impor energi dengan ruang kebijakan yang terbatas menjadi yang paling terpukul,” kata Georgieva.
Ia menyebut sejumlah negara di Afrika mengalami tekanan yang cukup berat akibat lonjakan harga energi dan gangguan pasokan.
Kelangkaan bahan bakar, misalnya, terjadi di Ethiopia, Malawi, dan Zambia.
Sementara itu, tingginya harga bahan bakar turut membebani masyarakat di Lesotho, Rwanda, dan Tanzania.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, IMF telah mempercepat akses pendanaan bagi Ethiopia, Gambia, dan Burkina Faso.
Lembaga tersebut juga tengah membahas kemungkinan program bantuan keuangan baru untuk Malawi.
Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka Kembali, Trump Umumkan Damai dengan Iran
Harga Energi Masih Jadi Ancaman
Menurut Georgieva, dampak perang juga dirasakan negara-negara berkembang di Asia.
Ia mengungkapkan harga bensin di kawasan tersebut telah meningkat hingga 40 persen sejak konflik dimulai.
IMF sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April karena ketidakpastian terkait durasi dan intensitas perang.
Dalam salah satu skenario terburuk yang disusun IMF, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan turun hingga dua persen, sementara inflasi dapat melampaui enam persen.
Georgieva mengatakan IMF akan merilis pembaruan WEO terbaru pada 8 Juli mendatang yang akan memuat proyeksi pertumbuhan dan inflasi global terkini.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, IMF menyatakan siap memberikan dukungan kepada negara-negara anggota yang membutuhkan bantuan.
Namun, menurut Georgieva, sebagian besar pemerintah sejauh ini lebih banyak meminta panduan kebijakan dibandingkan bantuan dana langsung.
Selain negara-negara pengimpor energi, tekanan ekonomi juga dirasakan oleh negara-negara pengekspor minyak di kawasan Teluk.
Georgieva mengatakan pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut turut tertekan sepanjang tahun ini, bahkan lima dari delapan negara mengalami kontraksi ekonomi secara langsung akibat dampak perang.

[…] IMF: Perdamaian AS-Iran Belum Akhiri Dampak Ekonomi Globa […]
[…] IMF: Perdamaian AS-Iran Belum Akhiri Dampak Ekonomi Globa […]