Netanyahu Klaim Perang Iran Berhasil Meski Ada Kesepakatan Damai AS-Iran
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya memberikan tanggapan resmi setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak Februari 2026.
Dalam konferensi pers yang digelar Senin (15/6/2026), Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer yang dilakukan Israel bersama Amerika Serikat telah berhasil mencapai sasaran utama, yakni mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Meski demikian, ia mengakui belum mengetahui secara rinci isi perjanjian yang disepakati Washington dan Teheran.
Menurut Netanyahu, Iran tidak akan mampu memiliki senjata nuklir baik saat ini maupun di masa mendatang selama dirinya masih menjabat sebagai perdana menteri Israel. Ia bahkan menyebut upaya mencegah program senjata nuklir Iran sebagai salah satu misi terpenting dalam hidupnya.
Baca Juga : Iran Sebut Perdamaian Lebanon Jadi Poin Utama Kesepakatan dengan AS
Netanyahu juga mengklaim bahwa ancaman nuklir yang selama ini dianggap membahayakan Israel berhasil dihilangkan melalui operasi militer gabungan dengan Amerika Serikat.
Ia menyebut serangan tersebut sebagai operasi ofensif terbesar dalam sejarah Israel.
Pria berusia 76 tahun itu kemudian memaparkan sejumlah capaian yang menurutnya berhasil diraih selama perang berlangsung. Mulai dari penargetan ilmuwan nuklir, penghancuran fasilitas strategis, pelemahan kemampuan produksi rudal, hingga kerusakan terhadap berbagai infrastruktur militer Iran.
Selain itu, Netanyahu menilai operasi tersebut turut memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Iran.
Namun di sisi lain, laporan media Israel menyebut pemerintah Israel tidak terlibat secara langsung dalam proses negosiasi damai yang dilakukan Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan tersebut dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss setelah sebelumnya dilakukan penandatanganan digital.
Netanyahu Bantah Perang Gagal
Dalam sesi tanya jawab bersama wartawan, Netanyahu mendapat pertanyaan terkait tujuan awal perang yang disebut-sebut untuk menghilangkan ancaman dari rezim Iran.
Baca Juga : Media Iran Sebut AS akan Lepas Aset Teheran?
Pertanyaan itu muncul karena pemerintahan Iran tetap bertahan setelah konflik berakhir dan tidak mengalami perubahan kekuasaan sebagaimana banyak diperkirakan sebelumnya.
Menanggapi hal tersebut, Netanyahu menolak anggapan bahwa operasi militer yang dijalankan Israel gagal mencapai target.
Ia menjelaskan bahwa tujuan resmi yang ditetapkan pemerintah dan kabinet Israel bukanlah menjatuhkan rezim Iran, melainkan menghilangkan ancaman eksistensial yang berasal dari program nuklir dan rudal balistik negara tersebut.
Menurut Netanyahu, kedua target utama tersebut telah berhasil dicapai.
Meski begitu, ia mengakui tidak dapat memastikan kapan perubahan politik di Iran akan terjadi. Ia hanya menilai bahwa tekanan ekonomi, kerusakan infrastruktur, dan kondisi internal pemerintahan Iran saat ini berpotensi menciptakan peluang perubahan di masa mendatang.
Netanyahu juga menyebut terdapat tanda-tanda keretakan dalam pemerintahan Iran, meskipun belum dapat dipastikan kapan atau apakah kondisi tersebut akan berujung pada pergantian rezim.
Netanyahu Tolak Anggapan Israel Kehilangan Kendali
Netanyahu juga membantah tudingan bahwa Israel kehilangan pengaruh dalam pengambilan keputusan strategis setelah perang dihentikan dan tidak dilibatkan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Ia menegaskan hubungan antara dirinya dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjalan sebagai kemitraan yang setara.
Menurut Netanyahu, terdapat banyak kesempatan ketika kedua negara memiliki pandangan yang sama, namun ada pula situasi ketika masing-masing pihak memiliki perbedaan sikap.
Ia mengakui Israel tetap mempertimbangkan posisi Amerika Serikat dalam berbagai keputusan karena Washington telah memberikan dukungan militer yang signifikan selama konflik berlangsung.
Meski demikian, Netanyahu menegaskan Israel tetap memiliki kebebasan dalam menentukan langkah-langkah strategisnya sendiri.
Ia juga menyatakan bahwa Israel telah membuktikan kemampuannya dalam mengambil inisiatif, melaksanakan operasi besar, serta mencapai berbagai keberhasilan militer selama perang berlangsung.
Oposisi Israel Serang Pernyataan Netanyahu
Pernyataan Netanyahu langsung memicu kritik dari sejumlah tokoh oposisi Israel yang menilai klaim kemenangan tersebut tidak sesuai dengan realitas di lapangan.
Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menilai pemerintahan Netanyahu justru meninggalkan serangkaian kegagalan besar, termasuk dalam menghadapi Iran.
Menurut Bennett, masa kepemimpinan Netanyahu diawali oleh konflik internal yang tajam dan kini berakhir dengan kegagalan strategis dalam menghadapi ancaman dari Teheran.
Kritik juga disampaikan pemimpin Partai Yashar, Gadi Eisenkot. Ia berpendapat Netanyahu seharusnya mengakui bahwa sebagian target yang sebelumnya disampaikan kepada publik tidak berhasil diwujudkan.
Menurut Eisenkot, pengakuan atas kesalahan justru akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya.
Baca Juga : Netanyahu Dikritik Setelah Klaim Kemenangan Lawan Iran
Sementara itu, pemimpin oposisi Yair Lapid mempertanyakan konsistensi narasi Netanyahu terkait posisi Israel di kawasan. Ia menilai sulit menerima klaim bahwa Israel merupakan kekuatan dominan sekaligus negara yang berada di ambang kehancuran akibat ancaman Iran pada waktu yang bersamaan.
Pemimpin Partai Demokrat Yair Golan juga menyampaikan kritik serupa. Menurutnya, apabila ancaman Iran masih dianggap sebagai persoalan utama setelah bertahun-tahun menjadi fokus kebijakan Netanyahu, maka hasil perang tersebut justru mencerminkan kegagalan dalam mencapai misi yang selama ini diklaim diperjuangkan.
Perdebatan mengenai keberhasilan maupun kegagalan perang melawan Iran diperkirakan masih akan menjadi isu penting dalam dinamika politik Israel setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

[…] Netanyahu Klaim Perang Iran Berhasil Meski Ada Kesepakatan Damai AS-Iran […]
[…] Netanyahu Klaim Perang Iran Berhasil Meski Ada Kesepakatan Damai AS-Iran […]