Alasan Perempuan Indonesia Pilih Career Break menurut Survei
Fenomena jeda karir atau career break semakin mengemuka di Indonesia, khususnya di kalangan perempuan. Career break merujuk pada periode ketika seseorang berhenti bekerja sementara waktu, baik melalui pengunduran diri maupun cuti panjang, untuk alasan pribadi, keluarga, atau pengembangan diri.
Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, keputusan perempuan mengambil jeda karier bukan tanpa alasan. Tanggung jawab pengasuhan, perawatan keluarga, hingga keinginan meningkatkan kualitas hidup menjadi faktor dominan yang mendorong perempuan meninggalkan dunia kerja untuk sementara waktu.
Survei cepat Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) menunjukkan sekitar 40 persen perempuan memilih mengambil career break. Meskipun demikian, mayoritas dari mereka tetap ingin kembali bekerja.
“Jadi kami mensurvei bahwa ada sekitar 40 persen perempuan yang mengambil career break atau jeda karier. Keputusan ini diambil berkaitan dengan peran pengasuhan yang masih sangat terbebani pada perempuan dalam banyak keluarga,” kata Executive Director Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), Wita Krisanti, dalam acara Media Gathering “Beauty That Moves: L’Oréal Reconnect Program” di Jakarta Selatan, Jumat (12/12/2025).
Namun, keputusan mengambil jeda karier bukan tanpa konsekuensi. Ada berbagai tantangan yang kerap dihadapi perempuan selama dan setelah career break.
Baca Juga: Penyebab Ahli Keuangan Sarankan Tidak Timbun Uang di Rekening Bank
Tantangan Perempuan Saat Mengambil Career Break
Berikut ini beberapa tantangan yang dialami perempuan saat berada dalam career break:
1. Merasa kehilangan identitas profesional
Banyak perempuan yang sebelumnya aktif di dunia kerja merasakan perubahan besar pada identitas dirinya ketika berhenti bekerja. Peran sebagai profesional yang selama ini melekat perlahan bergeser, dan proses adaptasi emosional ini tidak selalu mudah dijalani.
2. Kekhawatiran tertinggal dari perkembangan dunia kerja
Perkembangan teknologi dan dinamika industri berjalan sangat cepat. Perempuan yang mengambil career break kerap dihantui rasa takut kehilangan keterampilan, tertinggal tren, atau tidak lagi relevan saat ingin kembali bekerja.
3. Bias dari perekrut dan perusahaan
Celah waktu dalam riwayat pekerjaan juga masih sering dipersepsikan negatif. Akibatnya, perempuan yang kembali ke dunia kerja harus memberikan penjelasan lebih panjang terkait jeda karier yang diambil, dibandingkan kandidat lain yang memiliki jalur karier tanpa jeda.
4. Penurunan kepercayaan diri
Minimnya interaksi profesional selama career break dapat berdampak pada kepercayaan diri. Tidak sedikit perempuan yang merasa ragu untuk kembali bersaing di lingkungan kerja yang dinamis dan kompetitif.
5. Tantangan mengatur ulang ritme hidup.
Kembali bekerja juga berarti kembali menyesuaikan jadwal, komitmen, dan tuntutan profesional, sambil tetap menjalankan peran domestik dan keluarga. Proses penyesuaian ini membutuhkan kesiapan mental dan dukungan lingkungan.
Baca Juga: Langkah Keluar dari Jeratan Utang, Ini Cara Efektifnya
Solusi Bangkit setelah Mengambil Jeda Karier
Mengambil jeda karier bukan berarti berhenti berkembang. Justru, fase ini bisa menjadi momentum bagi perempuan untuk menata ulang arah profesionalnya. Sejumlah langkah dinilai realistis untuk membantu perempuan kembali ke dunia kerja dengan lebih siap, tanpa mengabaikan pengalaman yang sudah dilalui selama career break.
1. Memperbarui keterampilan melalui pelatihan
Salah satu langkah penting yang banyak dilakukan perempuan setelah jeda karier adalah memperbarui keterampilan. Mengikuti kursus singkat, webinar, maupun pelatihan, baik gratis maupun berbayar, dapat membantu meningkatkan kompetensi sekaligus rasa percaya diri.
Pelatihan ini menjadi cara untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan industri dan teknologi yang terus berubah selama masa jeda.
2. Menyusun CV berbasis prestasi, bukan jeda waktu
Alih-alih menyoroti lamanya jeda karier, perempuan disarankan menata kembali CV dengan menekankan pencapaian dan keterampilan yang dimiliki. Keahlian yang tetap digunakan selama masa jeda, seperti manajemen waktu, pengelolaan rumah tangga, atau keterlibatan dalam organisasi komunitas, dapat ditampilkan sebagai nilai tambah.
Proyek sampingan maupun pelatihan yang diikuti selama career break juga menjadi bukti bahwa pengembangan diri tetap berjalan.
3. Membangun dan mengaktifkan kembali jaringan profesional
Jaringan profesional memiliki peran penting dalam membuka peluang kerja. Menghadiri seminar, workshop, reuni kantor, atau bergabung dengan komunitas profesional dapat membantu perempuan kembali terhubung dengan dunia industri. Interaksi ini tidak hanya memperluas kesempatan, tetapi juga membantu membangun kembali rasa percaya diri sebagai bagian dari ekosistem profesional.
4. Memulai kembali dengan pola kerja yang fleksibel
Bagi sebagian perempuan, kembali langsung ke pekerjaan penuh waktu bisa terasa berat. Karena itu, memulai dengan pola kerja yang lebih fleksibel menjadi alternatif yang realistis.
Pilihan seperti pekerjaan paruh waktu, freelance, konsultan, atau kerja jarak jauh memungkinkan proses adaptasi berjalan bertahap tanpa tekanan berlebihan, sembari menyesuaikan kembali ritme hidup dan tanggung jawab personal.
5. Menjadikan pengalaman jeda karier sebagai kekuatan
Pengalaman selama career break bukanlah kelemahan. Banyak perempuan justru kembali ke dunia kerja dengan perspektif baru, kemampuan multitasking yang lebih kuat, serta kematangan dalam mengambil keputusan.
Pengalaman hidup selama jeda karier dapat menjadi nilai tambah yang membedakan, terutama dalam peran yang membutuhkan empati, ketahanan, dan kemampuan manajemen yang baik.
Baca Juga: Tips Keuangan agar Tetap Stabil saat Liburan Akhir Tahun
