Pakar Keuangan Ungkap Cara Efektif Keluar dari Jeratan Utang
Ketika sebagian besar gaji habis untuk membayar cicilan, banyak orang merasa seperti terjebak dalam siklus utang yang seakan tidak berujung. Situasi ini sering ditemukan pada pinjaman berbunga tinggi, karena biaya tambahan dan bunga terus bertambah setiap bulan.
Para pakar keuangan menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak selalu disebabkan oleh kesalahan pribadi, melainkan bisa terjadi akibat struktur pinjaman yang memang dibuat agar peminjam sulit melunasinya. Karena itu, dibutuhkan strategi yang tepat dan langkah-langkah terukur untuk benar-benar keluar dari tekanan utang.
1. Negosiasi dengan Pihak Pemberi Pinjaman
Perencana keuangan bersertifikat sekaligus pendiri Silicon Beach Financial, Christopher L. Stroup, menekankan bahwa masih banyak peminjam yang tidak mengetahui adanya peluang negosiasi dengan kreditur.
Sejumlah lembaga pinjaman sebenarnya bersedia menawarkan skema pembayaran baru apabila peminjam mampu menjelaskan kondisi keuangan secara terbuka.
Menurut Stroup, peluang negosiasi memang tidak selalu berhasil, tetapi risikonya sangat rendah dan justru dapat membantu mencegah utang membengkak. Negosiasi ini dapat berupa restrukturisasi pembayaran, penurunan bunga, atau perpanjangan jangka waktu pelunasan.
Baca Juga : OJK Mengungkapkan Pentingnya Perencanaan Finansial untuk Pelajar
2. Konsultasi dengan Profesional Utang
Ketua Debt.com, Howard Dvorkin, menilai bahwa peminjam juga bisa mencari bantuan melalui konselor kredit atau lembaga khusus solusi utang. Dvorkin mengatakan, mereka telah berpengalaman menangani berbagai kasus sehingga mampu memberikan strategi yang tepat.
Sementara itu, penasihat keuangan sekaligus pendiri Coaching Capability, Andi Wrenn, menambahkan bahwa konseling sering kali membantu seseorang menemukan celah penghematan yang sebelumnya tidak terlihat.
Wrenn mengungkapkan bahwa sering menemukan ratusan dolar yang dapat dihemat oleh klien tanpa harus mengorbankan seluruh aktivitas yang mereka nikmati. Bahkan, dalam beberapa kasus, kliennya bisa beralih dari kebiasaan overspending menjadi mampu melunasi utang dan mulai menabung hanya dalam waktu tiga bulan.
Walaupun layanan ini membutuhkan biaya, Wrenn menilai bahwa hasil dan penghematan yang diperoleh klien biasanya jauh lebih besar daripada biaya konsultasinya.
3. Menghentikan Akses pada Pinjaman Berbunga Tinggi
Wrenn juga menegaskan bahwa memutus ketergantungan pada pinjaman berbunga tinggi adalah langkah penting. Ia menyarankan beberapa alternatif untuk menghindari penggunaan pinjaman semacam ini, mulai dari mengajukan pinjaman pribadi dengan bunga lebih rendah dari bank, meminta penurunan bunga kartu kredit, memindahkan saldo ke kartu berbunga rendah, hingga menjual barang-barang yang sudah tidak terpakai.
Wrenn mencontohkan bahwa salah satu pasangan yang pernah dibantu, berhasil mengumpulkan sekitar US$750 hanya dalam satu bulan dengan menjual barang bekas di rumah. Menurutnya, setiap langkah kecil dapat membantu seseorang keluar dari lingkaran pinjaman berbunga tinggi.
4. Membangun Dana Darurat dari Kerja Sampingan
Stroup menilai bahwa memiliki dana darurat kecil, walau hanya sekitar US$250 atau sekitar Rp3–4 juta, sudah cukup untuk mencegah seseorang kembali berutang, ketika menghadapi keadaan mendesak. Cara tercepat untuk membangunnya ialah melalui pekerjaan sampingan.
Wrenn menyarankan, jenis pekerjaan tambahan yang tidak membutuhkan modal besar, seperti mengasuh anak, memberikan les, membuka jasa bersih-bersih, atau menawarkan layanan berbasis keterampilan yang dimiliki.
5. Pertimbangkan Konsolidasi Utang
Stroup menjelaskan bahwa konsolidasi utang bisa menjadi solusi efektif bagi mereka yang memiliki pinjaman dengan bunga sangat tinggi. Klien yang pernah ditangani mampu menggabungkan beberapa pinjaman dengan bunga hingga 300% menjadi satu pinjaman bank dengan bunga hanya 11–18%.
Namun, konsolidasi biasanya membutuhkan skor kredit yang memadai, penjamin, atau jaminan aset. Wrenn juga memperingatkan agar berhati-hati dalam memilih perusahaan konsolidasi, karena beberapa lembaga justru memungut biaya tetapi terlambat membayar kreditur, yang pada akhirnya merusak skor kredit peminjam.
6. Mengikuti Debt Management Plan (DMP)
Stroup menyebutkan bahwa program manajemen utang (DMP) yang ditawarkan lembaga nonprofit, bisa menjadi penyelamat bagi peminjam dengan kondisi utang yang sudah tidak terkendali. Program ini menggabungkan seluruh utang menjadi satu pembayaran bulanan, sekaligus menurunkan bunga dan menghapus denda.
Namun, konsekuensinya adalah kartu kredit yang didaftarkan harus ditutup, dan peminjam tidak diperbolehkan membuka kredit baru selama 3–5 tahun. Meskipun skor kredit akan turun sementara, Dvorkin menegaskan bahwa menyelesaikan utang jauh lebih penting dibanding mempertahankan skor kredit. Tanpa bantuan, skor kredit justru dapat semakin memburuk.
Baca Juga : Ahli Keuangan Larang Timbun Uang di Rekening, Apa Alasannya?
Kesimpulan
Wrenn menekankan bahwa keluar dari jeratan utang bukan hal yang mustahil, selama seseorang bersedia mengubah kebiasaan finansialnya. Ia menyarankan untuk membedakan kebutuhan dan keinginan, membuat rencana pengeluaran yang jelas, mulai menabung, dan akhirnya berinvestasi untuk masa depan yang lebih stabil.
