AS Iran Gencatan Senjata, Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz! Ini Kata Bahlil
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah Indonesia masih melakukan komunikasi intensif dengan Iran terkait dua kapal milik Pertamina yang belum dapat melintasi Selat Hormuz.
Hal ini disampaikan di tengah situasi gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama dua minggu.
“Lagi dilakukan komunikasi yang intens terkait dengan dua kapal itu, insya Allah doain bisa cepat,” ungkap Bahlil dalam jumpa pers di Istana, Jakarta, Rabu (8/4/2026) malam.
Baca Juga: Prabowo Sebut Pandemi jadi Pelajaran, RI Harus Swasembada Pangan
Ia berharap adanya jeda konflik di kawasan Timur Tengah dapat membantu mempercepat penyelesaian kendala yang dihadapi kapal tersebut.
Dia juga menegaskan bahwa Indonesia tidak mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dari kawasan Timur Tengah, melainkan hanya minyak mentah.
“Total yang kita ambil dari Selat Hormuz untuk crude, kita kan enggak pernah impor BBM jadi dari Timur Tengah, dari Middle East, yang ada itu tinggal crude-nya saja. Crude-nya itu sekitar 20-25 persen,” kata dia.
Menurut Bahlil, pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan dengan mencari sumber alternatif dari berbagai negara.
“Dan kita sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara, seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika, dan beberapa negara lain. Jadi, kita insya Allah sudah clear lah, insya Allah aman,” lanjut dia.
Sementara itu, PT Pertamina International Shipping terus mengupayakan agar dua kapal yang berada di kawasan Teluk Arab dapat segera melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga: Prabowo Nilai Selat Hormuz Tak Ada Apa-Apanya, Apa Maksudnya?
Dua kapal tersebut adalah VLCC Pertamina Pride yang mengangkut minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri serta Gamsunoro yang melayani kargo konsumen.
“Kedua kapal milik PIS yang berada di Teluk Arab saat ini masih diupayakan untuk bisa melintasi Selat Hormuz,” tutur Pjs Corporate Secretary PIS Vega Pita dalam keterangan resminya.
