AS Tolak Rencana Iran-Oman Kenakan Tarif di Hormuz
Amerika Serikat menolak keras wacana pengenaan tarif atau biaya layanan di Selat Hormuz yang tengah dibahas Iran dan Oman di tengah proses negosiasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Penolakan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio saat memulai kunjungan regional ke Uni Emirat Arab, Rabu (24/6/2026).
“Ini adalah jalur perairan internasional. Tidak ada negara yang diizinkan untuk memungut tol atau biaya di jalur perairan internasional,” kata Rubio.
Menurut dia, negara-negara di kawasan juga akan memiliki pandangan serupa terkait status Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran internasional yang harus tetap terbuka bagi seluruh pengguna.
Baca Juga: Trump Dibantah Netanyahu, Hubungan AS-Israel Memanas?
Iran dan Oman Bahas Pengelolaan Hormuz
Pernyataan Rubio muncul setelah Iran dan Oman mengumumkan rencana mempelajari pengelolaan jalur perdagangan di Selat Hormuz, termasuk kemungkinan pengaturan biaya layanan yang berkaitan dengan aktivitas pelayaran.
Pembahasan tersebut berlangsung setelah putaran pertama perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss yang menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan negosiasi selama 60 hari mengenai pencabutan sanksi, program nuklir Iran, dan masa depan Selat Hormuz.
Dalam pernyataan bersama pada Selasa (23/6/2026), Teheran dan Muscat menegaskan tetap mempertahankan kedaulatan masing-masing atas wilayah perairan tersebut sembari mengkaji tata kelola jalur perdagangan internasional.
Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang.
Meski demikian, Iran dan AS telah menyepakati pembentukan jalur komunikasi khusus guna menjaga jalur pelayaran tetap terbuka dan menghindari insiden di kawasan tersebut.
Di sisi lain, badan maritim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai mengevakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang terdampak blokade setelah memperoleh jaminan keamanan dari Iran, Oman, dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Libur Nasional 3 Hari Ditetapkan Iran, untuk Pemakaman Ali Khamenei
Data dari dua platform pelacakan maritim juga menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz pada Senin (22/6/2026) mencapai level tertinggi sejak konflik pecah.
Sementara negosiasi terus berlangsung, Iran kembali menegaskan bahwa kemampuan pertahanan, termasuk program rudal balistiknya, tidak akan menjadi bagian dari kesepakatan apa pun dengan Washington.
“Jika rudal yang kita miliki untuk pertahanan kita tidak ada, Israel dan Amerika Serikat akan menghancurkan Iran seperti halnya Gaza,” kata Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat berkunjung ke Pakistan.
“Iran tidak akan pernah bernegosiasi dengan siapa pun, dalam keadaan apa pun, kapan pun, tentang kemampuan pertahanan kami,” sambungnya.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menegaskan bahwa kesepakatan awal antara AS dan Iran tidak mencakup isu rudal balistik.
“Tidak boleh ada standar ganda mengenai negara mana yang boleh memilikinya,” ujar Sharif.
