Dampak Perang Timur Tengah, Warga Mulai Panic Buying BBM
Kecemasan terhadap terganggunya pasokan energi global mulai menimbulkan aksi panic buying bahan bakar minyak (BBM) di beberapa negara.
Fenomena ini muncul setelah eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang memunculkan kekhawatiran terhadap potensi penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama. Jalur pelayaran tersebut diketahui dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Di sejumlah negara, masyarakat mulai memadati stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) karena khawatir harga BBM akan melonjak atau pasokan terganggu. Berikut sejumlah negara yang dilaporkan mengalami fenomena tersebut.
Baca Juga: Iran Diserang AS-Israel karena Nuklir, Kenapa Korut Tidak?
Korea Selatan
Gejala panic buying terlihat jelas di Korea Selatan. Antrean kendaraan dilaporkan mengular di sejumlah SPBU di Seoul pada Rabu (4/3/2026), seiring lonjakan harga minyak global dan gejolak pasar akibat konflik di Timur Tengah.
Banyak pengendara memilih mengisi penuh tangki kendaraan karena khawatir harga BBM akan terus meningkat. Operator SPBU juga melaporkan antrean yang jauh lebih panjang dibandingkan hari-hari biasanya.
“Saya isi sekarang karena takut besok lebih mahal,” tutur seorang pengemudi di Seoul kepada media lokal.
Laporan Yonhap menyebut kekhawatiran masyarakat juga dipicu tekanan ekonomi yang sedang dialami Korea Selatan.
Harga bensin rata-rata di negara tersebut dilaporkan telah melampaui 1.800 won per liter atau sekitar Rp21.000. Kondisi ini semakin meningkatkan kekhawatiran masyarakat terhadap lonjakan biaya hidup.
Korea Selatan diketahui sangat bergantung pada impor energi, dengan lebih dari 90 persen kebutuhan energinya berasal dari luar negeri. Sekitar 70,7 persen impor minyak mentah dan 20,4 persen impor gas alam cair negara itu melewati Selat Hormuz.
Situasi semakin memanas setelah muncul laporan bahwa serangan Iran membakar 10 kapal tanker minyak di kawasan tersebut. Saat ini sekitar 26 kapal tanker milik Korea Selatan dilaporkan tertahan di sekitar selat itu.
Meski pemerintah memiliki cadangan minyak sekitar enam bulan, analis memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di jalur tersebut dapat memicu kondisi darurat ekonomi.
Australia
Situasi serupa juga terjadi di Australia. Di negara bagian Australia Barat, Perth, ribuan pengendara terlihat mengantre panjang di SPBU pada Selasa malam.
Perdana Menteri Australia Barat Roger Cook mencoba menenangkan masyarakat dan meminta warga tidak melakukan panic buying.
“Jangan menaikkan harga hanya karena orang khawatir tentang masa depan mereka,” kata Roger.
“Saat ini Anda memiliki pasokan bahan bakar yang berkelanjutan,” lanjut dia.
Di negara bagian Queensland, badan otomotif setempat bahkan berencana melaporkan sejumlah pengecer bahan bakar besar ke Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC). Mereka diduga menaikkan harga secara tidak wajar setelah konflik di Timur Tengah.
Dalam 24 jam terakhir, lebih dari 210 SPBU di Queensland Tenggara menaikkan harga menjadi 219,9 sen per liter, yang merupakan level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir, termasuk di Brisbane.
Di Sydney dan Melbourne, perusahaan minyak juga dituding memanfaatkan situasi konflik untuk menaikkan harga secara berlebihan.
Namun Asosiasi Pemasar Minyak dan Gas Rumah Tangga Australasia menegaskan bahwa pasokan sebenarnya masih aman.
“Mayoritas minyak Australia berasal dari Singapura, bukan Timur Tengah, jadi meskipun harga di pasar mungkin naik, tidak akan ada masalah pasokan,” ujar perwakilan Asosiasi Pemasar Minyak dan Gas Rumah Tangga Australia, Rowan Lee.
Ia menambahkan dampak gangguan pasokan baru akan terlihat dalam beberapa minggu.
“(Juga) waktu tunda Anda hingga dua minggu… masih terlalu dini untuk melihat bagaimana ini akan terjadi.”
Menteri Energi Chris Bowen juga menyatakan Australia siap menghadapi ketidakstabilan pasokan bensin akibat konflik Timur Tengah.
“Perusahaan-perusahaan telah memberitahu bahwa mereka yakin akan pasokan minyak hingga bulan Mei,” ujarnya.
Baca Juga: RI Terancam Krisis Energi Bila Perang Dunia Meletus
Inggris
Di Inggris, kecemasan terhadap kemungkinan kelangkaan BBM juga memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
Laporan NDTV menyebut pengendara di London, Manchester, dan Liverpool harus menunggu lebih dari satu jam untuk mengisi bahan bakar.
Pemerintah dan otoritas energi setempat kemudian menghimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying meskipun harga BBM berpotensi meningkat.
“Harga di pompa bensin sedang naik, biaya grosir telah meningkat bahkan sebelum serangan akhir pekan lalu di Iran,” kata otoritas.
“Namun, harga rata-rata di pompa bensin hari ini masih di bawah harga awal tahun lalu,” tambahnya.
“Perdagangan bahan bakar telah melaporkan peningkatan permintaan, yang memang sudah diperkirakan, tetapi pengemudi pada umumnya mengikuti saran untuk tetap mengikuti rutinitas pengisian bahan bakar mereka seperti biasa,” jelasnya.
“Tidak ada gunanya membuang waktu, bahan bakar, dan uang untuk mengantre ketika pengemudi tidak perlu melakukannya.”’
Bangladesh
Dampak konflik Timur Tengah juga mulai terlihat di Bangladesh. Di kota-kota besar seperti Dhaka dan Chattogram, antrean kendaraan nampak memadati SPBU setelah pengendara bergegas membeli BBM karena khawatir terjadi gangguan pasokan.
Melansir The Daily Star, Bangladesh sangat bergantung pada impor energi, terutama bahan bakar minyak dan gas alam cair dari Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran karena sekitar seperlima impor minyak mentah negara tersebut melewati jalur itu.
Menurut Bangladesh Petroleum Corporation (BPC), saat ini negara tersebut memiliki cadangan bensin dan solar sekitar dua minggu serta pasokan oktan hampir empat minggu.
Meski pasokan masih tersedia, peningkatan permintaan akibat penimbunan mulai terlihat. Penjualan solar yang biasanya berkisar 12.000-13.000 ton per hari dilaporkan melonjak hingga lebih dari 20.000 ton.
Untuk meredam situasi, pemerintah melalui BPC kemudian memberlakukan pembatasan penjualan bahan bakar harian.
Selain ancaman terhadap pasokan energi, para ahli juga memperingatkan potensi dampak lanjutan terhadap sektor pertanian. Kenaikan harga gas global berpotensi meningkatkan biaya produksi pupuk, sementara beberapa pabrik pupuk domestik dilaporkan telah berhenti beroperasi akibat kekurangan gas.
Baca Juga: Senjata Canggih ini Digunakan AS untuk Serang Iran, Ribuan Orang Diincar
Myanmar
Di Myanmar, pasokan energi yang sudah rapuh semakin tertekan oleh ketidakpastian global. Negara tersebut diketahui mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan bahan bakarnya.
Pemerintah militer setempat bahkan memutuskan membatasi penggunaan kendaraan pribadi mulai akhir pekan ini. Separuh kendaraan diketahui akan dilarang beroperasi setiap hari berdasarkan nomor pelat untuk menghemat bahan bakar.
Juru bicara junta militer Zaw Min Tun mengatakan Myanmar saat ini memiliki cadangan bahan bakar sekitar 40 hari.
Pembatasan lalu lintas tersebut diberlakukan agar negara itu mampu mengatasi kesulitan pasokan minyak global dengan menggunakan bahan bakar secara lebih terukur.
Meski demikian, antrean kendaraan tetap terlihat di sejumlah SPBU di kota terbesar Yangon. Seorang jurnalis AFP melaporkan sekitar 50 kendaraan mengantre di beberapa SPBU pada Rabu.
Beberapa SPBU bahkan terpaksa menutup layanan sementara karena pasokan bahan bakar belum tiba di pelabuhan.
Di kota perbatasan Tachileik, lonjakan harga bahan bakar bahkan sempat mencapai tiga kali lipat sebelum sejumlah SPBU akhirnya ditutup akibat lonjakan permintaan.

[…] Dampak Perang Timur Tengah, Warga Mulai Panic Buying BBM […]