Danantara Mulai Negosiasi dengan Arab, Hotel Haji Segera Terwujud?
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan Badan Pengelola Investasi Danantara tengah melakukan negosiasi dengan pemerintah Arab Saudi untuk pembangunan hotel tambahan bagi jemaah haji Indonesia. Langkah ini dilakukan guna memperluas kapasitas Kampung Haji Indonesia di Tanah Suci.
Menurut Dahnil, hotel yang telah diakuisisi sebelumnya diperkirakan hanya mampu menampung sekitar 50.000 jemaah.
“Danantara juga sedang bernegosiasi terkait dengan lahan untuk membangun hotel sendiri lagi. Karena kalau di Novotel, paling bisa menampung sekitar 50.000,” kata Dahnil dalam program Naratama Kompas.com, Selasa (17/2/2025).
Baca Juga: KPK Kembali Sita Uang Tunai Rp 5 Miliar terkait Korupsi Bea Cukai
Ia menjelaskan, negosiasi tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan kompleks haji Indonesia mampu menampung hingga 200.000 jemaah. Ke depan, kawasan itu juga direncanakan dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang.
“Jadi di situ dibangun sarana hotel, rumah sakit, pasar dan macam-macam. Nah keinginan presiden seperti itu. Nah, inilah kekuatan diplomasi yang ditunjukkan oleh presiden dan pelan-pelan kita bisa mewujudkan itu,” terang dia.
Akuisisi Hotel dan Target Perluasan
Pada tahap awal, Danantara telah membeli Hotel Novotel di kawasan Thakher (Taher), Mekkah, yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram. Proyek ini mencakup akuisisi tiga tower hotel dengan total 1.461 kamar serta lahan seluas 5 hektar untuk pembangunan 13 tower tambahan beserta sarana pendukung lainnya.
“Itu dibeli oleh Danantara. Dan insya Allah di bulan Januari-April kontraknya selesai,” jelas Dahnil.
Ia menambahkan, pengembangan akan terus dilakukan seiring rencana pemerintah Arab Saudi meningkatkan kapasitas jemaah hingga 5 juta orang pada 2030. Dengan peningkatan itu, Indonesia berpotensi memperoleh tambahan kuota hingga 100-200 persen dari kuota normal.
Baca Juga: Ini Profil 8 Calon Tender WtE Danantara, Siapa Paling Kuat?
Tahun ini, Indonesia mendapatkan kuota haji terbesar, yakni 221.000 jemaah, yang terdiri dari 203.320 jemaah haji reguler dan 17.680 jemaah haji khusus.
“Memang ini akan terus berkembang, karena kalau jemaah yang akan berangkat di sana terus bertambah. Jadi coba Anda bayangkan kalau Presiden itu tidak mendorong spesialisasi keberadaan Kementerian Haji, itu akan menambah kompleksitas,” ungkap Dahnil.
Ia mengingatkan, ke depan jumlah jemaah yang ditampung di Arab Saudi bisa melampaui 500.000 orang, belum termasuk jemaah umrah yang juga diperkirakan meningkat.
“Tambah lagi ke depan jemaah haji kita yang akan ditampung di sana bisa lebih dari 500.000, belum lagi jemaah umrah yang juga otomatis juga akan bertambah. Dan itu membutuhkan tata kelola yang baik plus dengan integritas yang juga baik. Kalau tidak, potensial loss-nya akan sangat besar di satu sisi, kemudian kesemrawutan-kesemrawutan juga akan terjadi,” imbuh dia.
