Erupsi Anak Krakatau Berjenis Strombolian, Ini Dampaknya
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal, menjelaskan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi saat ini memiliki karakter strombolian.
Jenis erupsi tersebut ditandai dengan letusan kecil yang terjadi secara berulang. Kondisi ini dipicu oleh magma cair dengan tekanan gas pada tingkat sedang.
“Untuk letusan Gunung Anak Krakatau, erupsinya berjenis strombolian akibat magma cair dengan tekanan gas sedang. Jadi, terjadi letusan-letusan kecil yang berulang secara teratur,” kata Teuku Faisal dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).
Baca Juga : Anggaran MBG 2027 Tembus Ratusan Triliun, Sasar 72 Juta Penerima
Menurutnya, erupsi strombolian dapat membawa sejumlah material vulkanik ke udara. Material yang dapat muncul di antaranya kembang api lava, bom vulkanik, dan lapili.
“Letusan tersebut memunculkan kembang api lava, bom vulkanik, dan lapili ke udara,” ujarnya.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri telah menjadi perhatian sejak beberapa waktu terakhir. PVMBG menetapkan status gunung tersebut pada Level 3 atau Siaga sejak 2 Juli 2026.
Kemudian, pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi yang berlangsung secara terus-menerus.
Erupsi Masih Berpotensi Berlangsung
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan sejumlah erupsi yang terpantau pada Minggu pagi masih merupakan bagian dari aktivitas erupsi yang berlangsung sejak 4 September.
“Untuk kejadian tadi pagi, memang ada beberapa kali erupsi seperti yang disampaikan. Sebenarnya erupsi ini merupakan erupsi yang menerus,” kata Wijayanto.
Ia menjelaskan, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berpotensi berlanjut. BMKG terus memantau frekuensi erupsi berdasarkan aktivitas di permukaan, termasuk dengan mengamati aktivitas petir.
Baca Juga : BGN Beberkan Potensi Pidana Kasus Keracunan MBG
“Memang tidak ada semburan-semburan lava, dan aktivitas ini kemungkinan masih akan terus terjadi. Sampai tadi malam terpantau, tadi pagi juga masih terpantau, dan kemungkinan akan terus terjadi,” ujarnya.
Meski masih berlangsung, Wijayanto menyebut aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan penurunan. Frekuensi erupsi juga tercatat lebih rendah dibandingkan kondisi pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.
“Jadi, aktivitasnya sudah mulai meluruh dan kami pastikan frekuensinya akan terus menurun dibandingkan dengan kondisi pada 4 September pukul 23.07 WIB,” kata Wijayanto.
