Gara-gara Iran, Gelombang Pemakzulan Trump Menggema di AS
Gejolak politik di Amerika Serikat memanas setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman yang memicu kekhawatiran global terkait konflik dengan Iran.
Diketahui, desakan agar Trump dimakzulkan atau dicopot melalui Amandemen ke-25 kembali menguat di Washington.
Pemicunya adalah pernyataan Trump di media sosial yang menyebut bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini”, yang memunculkan kekhawatiran akan eskalasi menuju perang nuklir.
Ancaman Trump picu desakan pemakzulan
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari kalangan Demokrat. Anggota DPR AS Alexandria Ocasio-Cortez menilai ucapan Trump sebagai ancaman serius terhadap kemanusiaan.
“Ini adalah ancaman genosida dan layak menjadi alasan pencopotan dari jabatan. Kemampuan mental Presiden sedang runtuh dan tidak bisa dipercaya. Kepada setiap individu dalam rantai komando Presiden: Anda memiliki tugas untuk menolak perintah ilegal. Itu termasuk melaksanakan ancaman ini,” papar Ocasio-Cortez.
Meski Trump kemudian mengumumkan gencatan senjata dua minggu dengan Iran, kritik terhadapnya tidak mereda.
Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer bahkan menyindir langkah Trump tersebut.
“Saya senang Trump mundur dan dengan putus asa mencari jalan keluar dari gertakan konyolnya,” tulis Schumer.
Baca Juga: AS dan Iran Setuju Gencatan Senjata 2 Minggu, Ini 12 Fakta Barunya!
Amandemen ke-25 kembali disorot
Desakan pencopotan Trump juga datang dari anggota DPR lainnya, termasuk Melanie Stansbury.
“Hanya karena seorang Presiden mengumumkan dia menyetujui gencatan senjata dua minggu beberapa saat sebelum dia mengancam akan melakukan kejahatan perang, tidak berarti dia tiba-tiba fit untuk bertugas. #AmandemenKe25,” tutur Stansbury.
Selain itu, anggota DPR Ro Khanna bahkan mendorong penggunaan mekanisme konstitusional tersebut.
“Jika Kongres Amerika Serikat masih memiliki nyawa di dalamnya, setiap anggota Kongres dan senator harus menyerukan pencopotan Trump hari ini berdasarkan Amandemen ke-25. Dia mengancam seluruh kehancuran sebuah peradaban. Dia menyebut orang Iran sebagai hewan,” kata Khanna.
Sementara itu, mantan Ketua DPR Nancy Pelosi mendesak langkah cepat untuk meredakan situasi.
“Jika Kabinet tidak bersedia menggunakan Amandemen ke-25 dan memulihkan kewarasan, Partai Republik harus mengumpulkan kembali Kongres untuk mengakhiri perang ini,” tutur Pelosi.
Gedung Putih dan dinamika politik
Menanggapi desakan tersebut, Gedung Putih melalui juru bicaranya Davis Ingle memberikan pembelaan.
“Ini menyedihkan. Demokrat telah berbicara tentang memakzulkan Presiden Trump bahkan sebelum dia dilantik. Demokrat di Kongres sudah gila, lemah, dan tidak efektif, itulah sebabnya peringkat persetujuan mereka berada pada titik terendah dalam sejarah,” tulis Ingle.
Upaya pemakzulan sendiri dinilai tidak mudah dilakukan karena Partai Republik masih menguasai Kongres.
Anggota DPR Maxine Waters sebelumnya juga mengakui tantangan tersebut.
“Saya pikir ketika kita mengambil alih kendali DPR, kita akan mempertimbangkan hal itu,” ujar Waters.
Baca Juga: Dikabarkan Hasut Trump Lanjutkan Perang Iran, Apa Alasan Netanyahu?
Kritik juga datang dari internal Republik
Meski peluang pencopotan dinilai kecil, kritik juga mulai muncul dari internal Partai Republik. Politisi Marjorie Taylor Greene secara terbuka mengecam pernyataan Trump.
“AMANDEMEN KE-25!!! Tidak ada satu pun bom yang jatuh di Amerika. Kita tidak bisa membunuh seluruh peradaban,” tegas Greene.
Senator Lisa Murkowski juga menilai retorika Trump tidak dapat dibenarkan.
“Ancaman Presiden bahwa ‘seluruh peradaban akan mati malam ini’ tidak dapat dimaafkan sebagai upaya untuk mendapatkan pengaruh dalam negosiasi dengan Iran. Retorika jenis ini adalah penghinaan terhadap cita-cita yang diperjuangkan bangsa kita,” jelas Murkowski.
Kritik serupa datang dari sejumlah politisi lain, termasuk Ron Johnson dan Nathaniel Moran.
Sementara itu, anggota DPR independen Kevin Kiley menegaskan pentingnya pengawasan terhadap kebijakan militer.
Ia menyebut bahwa Amerika Serikat tidak seharusnya menghancurkan peradaban dan harus tetap berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan.

[…] Gara-gara Iran, Gelombang Pemakzulan Trump Menggema di AS […]