Garda Revolusi Klaim Kuasai Selat Hormuz, Jalur Minyak Dunia Terancam?
Pasukan Garda Revolusi Iran atau IRGC mengklaim telah menguasai penuh Selat Hormuz pada Rabu (4/3/2026). Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute paling penting bagi distribusi minyak dan gas dunia.
Militer Iran menyatakan bahwa kapal yang mencoba melintasi kawasan tersebut berpotensi menghadapi ancaman kerusakan akibat rudal atau drone yang salah sasaran. Pernyataan ini muncul setelah Iran sebelumnya mengancam menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS), dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Baca Juga : Ini Respons Pertamina Terkait 19% Minyak Impor RI Lewat Selat Hormuz!
“Saat ini, Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Angkatan Laut Republik Islam,” kata pejabat Angkatan Laut IRGC Mohammad Akbarzadeh dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan di kantor berita Fars.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Selasa waktu setempat menyatakan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat siap memberikan pengawalan terhadap kapal tanker minyak yang melintasi jalur strategis tersebut. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya risiko serangan di kawasan Teluk.
“Jika perlu, Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz sesegera mungkin,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya, Selasa waktu setempat, seperti dikutip AFP.
Trump juga menginstruksikan pemerintah AS untuk menyiapkan skema asuransi bagi pengiriman komersial. Pernyataan itu sempat memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan, sehingga saham AS berhasil memangkas kerugian, meski harga minyak mentah masih menunjukkan tren kenaikan.
Di sisi lain, Trump kembali menegaskan alasan di balik operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Ia menolak anggapan bahwa Tel Aviv menekan Washington untuk bertindak, dan menyebut langkah tersebut diambil untuk mencegah serangan lebih dahulu dari Teheran.
“Saya pikir mereka (Iran) akan menyerang terlebih dahulu. Dan saya tidak ingin itu terjadi,” ujar Trump saat menjamu Kanselir Jerman Friedrich Merz di Ruang Oval.
“Jadi, jika ada, saya mungkin telah memaksa Israel untuk bertindak,” kataya.
Namun demikian, Trump tidak memaparkan secara rinci rencana politik setelah konflik di Iran. Ia bahkan menyinggung ketidakpastian kepemimpinan negara tersebut setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan pada akhir pekan lalu.
Trump juga menegaskan bahwa salah satu tujuan utama operasi tersebut adalah menghentikan program nuklir Iran. Seorang pejabat tinggi AS menyebut Teheran dinilai hampir mencapai kemampuan untuk memiliki senjata nuklir.
Baca Juga : Selat Hormuz Resmi Ditutup, Ekspor Beras ke Arab Saudi Terhenti?
