Iran Siapkan Rudal Supersonik China Antisipasi Konflik dengan AS
Iran dilaporkan hampir mencapai kesepakatan dengan China untuk membeli rudal jelajah antikapal supersonik, di tengah meningkatnya ketegangan militer dengan Amerika Serikat (AS). Langkah ini muncul ketika Washington mengerahkan kekuatan angkatan laut dalam jumlah besar di sekitar perairan Iran, sebagai bagian dari antisipasi terhadap kemungkinan eskalasi militer.
Berdasarkan keterangan enam sumber yang mengetahui proses negosiasi, kesepakatan pembelian rudal CM-302 buatan China hampir rampung. Namun, jadwal pengiriman masih belum ditentukan. Rudal tersebut memiliki jangkauan sekitar 290 kilometer dan dirancang untuk terbang rendah dengan kecepatan supersonik, dengan tujuan menghindari sistem pertahanan kapal perang.
Baca Juga : Menkes Sebut Iuran BPJS Tidak Semahal Rokok?
Dua pakar persenjataan menilai bahwa jika sistem ini benar-benar dikerahkan, kemampuan ofensif Iran akan meningkat signifikan, dan menjadi ancaman serius bagi armada laut AS di kawasan.
Pembahasan terkait sistem rudal ini sebenarnya telah berlangsung setidaknya dua tahun terakhir, tetapi mengalami percepatan setelah konflik 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu. Tiga pejabat yang menerima pengarahan dari pemerintah Iran dan tiga pejabat keamanan menyebut pembicaraan memasuki tahap akhir pada musim panas, ditandai dengan kunjungan pejabat militer senior Iran, termasuk Wakil Menteri Pertahanan, Massoud Oraei, ke China.
“Ini adalah pengubah permainan (game changer) yang lengkap jika Iran memiliki kemampuan supersonik untuk menyerang kapal-kapal di area tersebut. Rudal-rudal ini sangat sulit untuk dicegat,” kata Danny Citrinowicz, mantan perwira intelijen Israel yang kini menjadi peneliti senior Iran di Institute for National Security Studies, kepada Reuters, (24/2/2026).
Hingga kini belum diketahui jumlah rudal yang akan dibeli maupun nilai kontraknya. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran memberi sinyal positif terkait kerja sama pertahanan tersebut.
“Iran memiliki perjanjian militer dan keamanan dengan sekutu-sekutunya, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan perjanjian tersebut,” ujar pejabat Kementerian Luar Negeri Iran tersebut.
Sementara itu, pemerintah China merespons secara lebih hati-hati. Dalam pernyataan lanjutan, Kementerian Luar Negeri China menyatakan tidak mengetahui adanya pembicaraan mengenai penjualan rudal tersebut.
“Kementerian tidak mengetahui adanya pembicaraan tentang potensi penjualan rudal yang dilaporkan,” tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China.
Pihak Gedung Putih juga tidak memberikan tanggapan langsung terkait rincian negosiasi. Namun seorang pejabat menyampaikan kembali sikap Presiden Donald Trump terhadap Iran.
“Presiden Donald Trump telah menegaskan bahwa pilihannya hanya kita akan mencapai kesepakatan atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras seperti terakhir kali,” ungkap pejabat Gedung Putih tersebut merujuk pada ketegangan saat ini.
Rudal CM-302 disebut-sebut sebagai salah satu perangkat militer paling canggih yang pernah ditransfer China ke Iran. Transfer ini dinilai berpotensi menantang embargo senjata PBB yang kembali diberlakukan pada September lalu, serta memperumit upaya AS membatasi program rudal dan nuklir Iran. Langkah tersebut juga dipandang sebagai sinyal peningkatan pengaruh China di kawasan yang selama ini didominasi militer AS.
Baca Juga : Iran Klaim Kesepakatan Nuklir dengan AS “Sudah Dekat”
Dukungan China ke Iran
Dukungan politik Beijing terhadap Teheran turut terlihat saat Presiden Xi Jinping menerima Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, di Beijing pada September lalu.
“China mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, integritas wilayah, dan martabat nasional,” kata Xi Jinping kepada pemimpin Iran tersebut.
Sejumlah pihak menilai penguatan kerja sama pertahanan ini mencerminkan persaingan geopolitik yang lebih luas antara kekuatan besar dunia. Iran dinilai berada di titik persinggungan kepentingan global.
“Iran telah menjadi medan pertempuran antara AS di satu sisi dengan Rusia dan China di sisi lain,” ujar salah satu pejabat yang menerima pengarahan mengenai negosiasi rudal tersebut.
Di saat yang sama, AS mengerahkan armada tempur dalam jarak operasional ke Iran, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford yang membawa ribuan personel serta ratusan pesawat.
Danny Citrinowicz menilai China memiliki kepentingan strategis dalam menjaga stabilitas pemerintahan yang ada di Teheran.
“China tidak ingin melihat rezim pro-Barat di Iran. Itu akan menjadi ancaman bagi kepentingan mereka. Mereka berharap rezim ini akan tetap bertahan,” tambah Citrinowicz.
Kebutuhan Iran memperbarui sistem persenjataan juga dipicu oleh menipisnya persediaan arsenal pascakonflik tahun lalu. Pieter Wezeman, peneliti senior di Stockholm International Peace Research Institute, menyebut pembelian CM-302 sebagai peningkatan signifikan bagi kapabilitas militer Iran.
“Sistem persenjataan ini dapat dipasang pada kapal, pesawat, atau kendaraan darat bergerak, bahkan mampu menenggelamkan kapal induk atau kapal perusak,” jelas keterangan dalam pemasaran produk tersebut oleh China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC).
Selain rudal antikapal, sumber menyebut Iran juga membahas kemungkinan akuisisi sistem rudal permukaan-ke-udara, senjata anti-balistik, hingga teknologi anti-satelit dari China. Meski Beijing sempat mengurangi transfer senjata besar ke Iran pada akhir 1990-an akibat tekanan internasional, hubungan pertahanan kedua negara kini kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan global.
Baca Juga : Ini Penyebab Agrinas Impor Pikap dari India!

[…] Iran Siapkan Rudal Supersonik China Antisipasi Konflik dengan AS […]