Iran Ubah Strategi Serangan di Selat Hormuz
Iran dilaporkan mengubah pola serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz untuk menjaga harga minyak dunia tetap tinggi menjelang pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat (AS) pada November 2026. Strategi ini disebut mencakup perubahan jenis dan intensitas serangan terhadap kapal yang dinilai melanggar pembatasan Teheran.
Dua pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Rabu (14/10/2026), taktik baru tersebut mulai dijalankan sekitar 10 hari lalu. Perubahan strategi itu disebut telah meningkatkan frekuensi serangan terhadap kapal di kawasan tersebut.
“Tujuannya adalah untuk menggagalkan upaya Amerika Serikat dan sekutunya dalam menurunkan harga minyak global,” kata salah satu pejabat Iran.
Keputusan tersebut disebut berasal dari pimpinan tertinggi Iran dan dikoordinasikan di berbagai tingkatan pemerintahan.
Baca Juga : Pentagon Minta Anggaran Rp 26 Kuadriliun untuk Lawan China
Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, Teheran berupaya memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz. Jalur strategis ini sebelumnya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Pembatasan pelayaran dan ancaman serangan Iran telah mengganggu lalu lintas kapal serta mendorong kenaikan harga minyak. Meski demikian, sebagian pengiriman energi masih berlangsung melalui kawasan tersebut.
Iran Gunakan Kapal Kecil untuk Memantau Target
Seorang pejabat militer AS membenarkan adanya perubahan signifikan dalam taktik Iran. Setelah sebagian besar kemampuan radar Iran dihancurkan oleh AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan mulai mengandalkan pengamat tanpa senjata yang beroperasi menggunakan kapal-kapal kecil untuk mengenali target, termasuk kapal perang AS.
Pekan lalu, militer AS menemukan sejumlah pengamat Iran yang menggunakan kapal tradisional atau dhow untuk melaporkan posisi target kepada IRGC. Pasukan AS kemudian mencegat kapal tersebut, meminta awaknya meninggalkan kapal, lalu menghancurkannya.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Pejabat militer AS itu menilai Iran menghadapi kesulitan untuk menghentikan peningkatan ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Teheran disebut enggan mengambil risiko kehilangan kapal-kapal cepat yang masih tersisa setelah serangan AS melumpuhkan angkatan lautnya.
Serangan Meluas hingga Teluk Oman
Aktivitas serangan terhadap kapal komersial di sekitar Selat Hormuz dilaporkan meningkat dalam beberapa hari terakhir. Data keamanan maritim yang disampaikan kepada United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat sedikitnya lima insiden dalam kurun 48 jam, termasuk serangan menggunakan pesawat nirawak atau drone.
Data Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunjukkan intensitas serangan tersebut hampir menyamai periode 3–5 Oktober 2026.
“Terjadi peningkatan tempo serangan, yang tampaknya dilakukan dengan sengaja,” ujar seorang sumber keamanan maritim.
Menurut salah satu pejabat Iran, operasi militer kini diperluas ke Teluk Oman dan perairan lainnya. Laporan keamanan maritim juga mengindikasikan serangan terhadap kapal di lepas pantai Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA).
“Kapal-kapal semacam itu tidak akan aman di mana pun, bahkan di luar Selat Hormuz sekalipun,” kata pejabat Iran lainnya.
Iran Ancam Tutup Total Selat Hormuz
Pejabat Iran menyatakan Teheran berupaya memastikan tidak ada kapal yang melanggar pembatasannya dapat melewati Selat Hormuz.
“Dalam waktu dekat, penutupan akan dilakukan secara total,” ujarnya.
Baca Juga : Blackout Melanda Batam, Bahlil dan PLN Beberkan Penyebabnya
Pejabat Iran lainnya menegaskan bahwa negaranya tidak akan membiarkan Presiden AS Donald Trump menurunkan harga minyak sebelum pemungutan suara pada November mendatang.
“Ini adalah permainan catur,” katanya.
Perang yang diperkirakan menelan biaya sekitar 3 miliar dollar AS atau Rp 53,8 triliun per bulan tersebut menjadi salah satu isu politik menjelang pemilu paruh waktu AS. Pemilihan itu akan menentukan partai yang mengendalikan Kongres.
Trump menyatakan tidak akan kembali menyerang Iran sebelum pemungutan suara. Namun, Washington tetap mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran sekaligus memperluas sanksi ekonomi terhadap Teheran.
Dalam laporan pada Minggu (11/10/2026), Joint Maritime Information Center (JMIC) yang dipimpin Angkatan Laut AS menetapkan ancaman terhadap kapal niaga di Selat Hormuz pada tingkat berat, yakni kategori tertinggi kedua.
JMIC mencatat bahwa serangan, aktivitas pengawasan kapal, penggunaan drone, serta komunikasi radio oleh IRGC masih terus berlangsung.
Hingga laporan tersebut disampaikan, Pentagon dan Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
