Jika Republik Kalah di Pemilu Sela, Trump Diprediksi Hadapi Tekanan Politik
Hasil pemilihan umum sela (midterm elections) Amerika Serikat (AS) yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026) akan menentukan dinamika politik selama dua tahun terakhir masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.
Jika Partai Republik kehilangan kendali atas Kongres, pemerintahan Trump berpotensi menghadapi peningkatan tekanan politik dan ketidakpastian. Sejumlah analis menilai situasi tersebut dapat mendorong Trump mengambil langkah politik yang lebih agresif dalam menghadapi oposisi.
Direktur School of Media and Public Affairs di George Washington University, Peter Loge, mengatakan Trump kemungkinan tidak akan menerima kekalahan politik begitu saja.
“Saya ragu Presiden Trump akan mundur dengan tenang begitu saja,” kata Loge kepada AFP, dikutip pada Selasa (3/11/2026).
“Tidak ada preseden dalam sejarah yang menunjukkan bahwa ia akan bilang, ‘Saya kalah, masa saya sudah berakhir.’ Setiap kali Trump terpojok, ia justru akan bersuara lebih keras dan balik melawan,” tutur Loge.
Trump Ancam Veto Agenda Demokrat dan Hadapi Penyelidikan
Trump telah menunjukkan sikapnya dalam menghadapi kemungkinan Partai Demokrat menguasai salah satu atau kedua kamar Kongres. Ia bahkan mengancam akan menggunakan hak veto untuk menghambat agenda legislatif oposisi.
Baca Juga : Apa Itu Pemilu Sela AS 2026 dan Cara Kerjanya
“Kalau kami tidak menang, saya akan memveto segalanya,” tegas Trump kepada New York Post, merujuk pada rancangan kebijakan yang diajukan Partai Demokrat.
Selain ancaman veto, Gedung Putih juga bersiap menghadapi kemungkinan penyelidikan dan proses pemakzulan yang dapat didorong oleh oposisi.
Trump turut mengisyaratkan kemungkinan menginstruksikan Departemen Kehakiman untuk menyelidiki tokoh-tokoh Demokrat sebagai respons terhadap langkah politik lawannya.
“Mereka mungkin akan mengincar saya, dan saya pun akan mengincar mereka,” ujar Trump dalam wawancara dengan majalah Time.
Di sisi lain, sikap Trump yang sebelumnya menolak hasil kekalahannya dalam pemilihan presiden 2020 tanpa dasar memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan campur tangan dalam proses pemilu sela kali ini.
Trump dinilai berpotensi menggunakan gugatan terkait penghitungan suara atau mempermasalahkan sertifikasi hasil pemilu di wilayah-wilayah yang disengketakan. Namun, hal tersebut masih berupa kemungkinan yang disampaikan dalam analisis politik.
Kebijakan Luar Negeri dan Kemungkinan Operasi Militer ke Iran
Meskipun menghadapi keterbatasan politik di dalam negeri, presiden AS tetap memiliki kewenangan luas dalam menentukan arah kebijakan luar negeri dan militer.
Trump berpeluang kembali memerintahkan operasi militer berskala besar terhadap Iran, meskipun sebelumnya sempat menunjukkan keterbukaan terhadap kemungkinan perundingan baru.
Ryan Hass dari Brookings Institution menilai Trump tidak ingin warisan kepemimpinannya hanya dikenang melalui keterlibatan dalam peperangan.
“Menurut saya, ia tidak ingin warisan kepemimpinannya diingat sebagai sosok yang gemar berperang. Ia ingin warisannya dikenang sebagai upaya yang membuat Amerika menjadi lebih kuat,” jelas Hass kepada AFP.
Di tengah konflik Iran yang berkepanjangan, muncul pula spekulasi mengenai kemungkinan pencopotan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Pergantian pejabat dinilai dapat menjadi salah satu langkah yang mungkin ditempuh presiden untuk menghindari tanggung jawab politik atas perkembangan konflik.
Di luar persoalan Iran, Trump diperkirakan tetap mendorong Ukraina menerima penyelesaian damai dengan Rusia. Pembicaraan trilateral mengenai konflik tersebut dijadwalkan berlangsung pada pekan berikutnya.
Pada saat bersamaan, Trump berupaya meredakan ketegangan melalui hubungan diplomatik dengan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ketiganya berpotensi bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di China pada akhir November 2026.
Menurut Hass, Amerika Serikat juga diperkirakan mempercepat pengurangan keterlibatannya dengan sekutu NATO dan negara-negara Barat lainnya.
Namun, pendekatan agresif Trump diperkirakan tetap terlihat dalam kebijakan perdagangan. Hass menggambarkan sikap Trump terhadap Kanada belakangan ini sebagai pendekatan yang “Sangat aktif,” terutama dalam konteks ketegangan perdagangan kedua negara.
Trump Diprediksi Tetap Berperan dalam Politik Menuju Pilpres 2028
Menjelang pemilihan presiden AS 2028, Trump diperkirakan tetap berusaha mempertahankan pengaruh dan perhatian publik. Meski tidak lagi mengisyaratkan pencalonan untuk masa jabatan ketiga yang dilarang konstitusi, ia belum memberikan kepastian mengenai sosok yang akan didukung sebagai penerusnya.
Dua nama yang menjadi perhatian adalah Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Baca Juga : 4 Skenario Hasil Pemilu Sela AS dan Dampaknya untuk Trump
Profesor American University sekaligus penulis buku Great American Presidents: The Twelve Who Transformed the Nation, Allan Lichtman, menilai Trump kemungkinan akan tetap memusatkan perhatian pada dirinya sendiri dengan memainkan peran sebagai penentu dukungan terhadap kandidat atau kingmaker.
Selain mempertahankan pengaruh politik, Trump juga berupaya meninggalkan jejak melalui proyek pembangunan dan pembenahan fisik ibu kota Washington.
Dalam pidato penutup kampanyenya pada Senin (2/11/2026), Trump lebih banyak membahas rencana perbaikan infrastruktur dibandingkan persoalan politik. Salah satu proyek yang disorot adalah renovasi Lincoln Memorial Reflecting Pool.
“Kami sudah merencanakan banyak hal hebat untuk Washington,” kata Trump saat berada di kawasan Reflecting Pool.
Pernyataan tersebut menunjukkan perhatian Trump terhadap proyek-proyek fisik di ibu kota sebagai bagian dari upaya meninggalkan warisan kepemimpinannya sebelum masa jabatan berakhir.

[…] Jika Republik Kalah di Pemilu Sela, Trump Diprediksi Hadapi Tekanan Politik […]