Konflik Timur Tengah Bikin Proyek Kabel 2Africa Meta Tertunda
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mulai merembet ke infrastruktur digital global. Salah satu proyek yang terdampak adalah pembangunan kabel bawah laut 2Africa yang dipimpin oleh Meta.
Penundaan proyek ini terjadi di tengah meningkatnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Baca Juga: Mengapa Selat Hormuz Jadi Jalur Minyak Paling Strategis di Dunia
Proyek Kabel Bawah Laut 2Africa Terdampak Konflik
Proyek 2Africa merupakan sistem kabel bawah laut terpanjang di dunia dengan panjang lebih dari 45.000 kilometer.
Jaringan ini menghubungkan 33 negara di Afrika, Eropa, dan Asia, serta dirancang untuk meningkatkan kapasitas internet bagi lebih dari 3 miliar orang.
Dengan kapasitas mencapai 180 Tbps, sistem ini mampu menangani lalu lintas data dalam jumlah sangat besar.
Sebagai gambaran, kapasitas tersebut cukup untuk menayangkan lebih dari 36 juta film HD secara bersamaan.
Namun, konflik di Timur Tengah membuat sebagian pengerjaan proyek ini terpaksa ditunda.
Meski sistem inti kabel laut telah diumumkan selesai pada akhir 2025, sejumlah aktivitas lanjutan di kawasan terdampak konflik kini terhambat.
Ancaman untuk Internet Global
Konflik yang terjadi juga mulai mengancam stabilitas internet global. Kabel bawah laut menjadi tulang punggung jaringan internet dunia karena membawa sebagian besar lalu lintas data internasional.
Banyak kabel penting melewati jalur strategis seperti Laut Merah dan Selat Hormuz yang kini berada di wilayah konflik.
Gangguan pada jalur ini berpotensi memperlambat koneksi internet antarwilayah serta meningkatkan latensi.
Selain itu, layanan digital seperti cloud, streaming, hingga layanan keuangan juga dapat terdampak.
Perbaikan kabel bawah laut pun tidak mudah dilakukan karena membutuhkan kapal khusus dan kondisi keamanan yang mendukung.
Jika konflik berlanjut, proses perbaikan bisa tertunda dalam waktu lama.
Baca Juga: Tegas ke Trump, Jerman Sebut Perang AS Bukan Urusan NATO
Dampak konflik ini juga dirasakan perusahaan teknologi lain. Amazon Web Services dilaporkan menghentikan sebagian operasional setelah dua pusat datanya di Uni Emirat Arab terkena serangan drone.
Sementara itu, satu fasilitas lain di Bahrain mengalami kerusakan akibat dampak ledakan di sekitar lokasi.
Situasi keamanan yang tidak menentu membuat sejumlah perusahaan teknologi Amerika Serikat mulai mengurangi aktivitas di kawasan Teluk, termasuk menutup kantor sementara dan membatasi perjalanan karyawan.
