Krisis Properti China Berlanjut, Bos Evergrande Dipenjara Seumur Hidup
Mantan miliarder China Hui Ka Yan, pendiri China Evergrande Group, resmi dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan setempat. Hukuman tersebut menjadi simbol jatuhnya salah satu tokoh terbesar dalam industri properti China yang kini masih menghadapi krisis berkepanjangan.
Meski hukuman terhadap Hui telah dijatuhkan, masalah sektor properti China belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Krisis yang telah berlangsung selama enam tahun itu masih menjadi tekanan besar bagi ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Dikutip dari Reuters, Senin (24/8/2026), krisis properti China telah memberikan dampak besar terhadap jutaan pemilik rumah dan kreditur. Kondisi tersebut juga membuat pemerintah China semakin bergantung pada pertumbuhan berbasis ekspor, yang kemudian memicu ketegangan perdagangan dengan negara lain.
Hui Ka Yan sebelumnya dikenal sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh di China. Ia pernah menjadi orang terkaya di Asia berkat kejayaan Evergrande sebelum perusahaan tersebut mengalami gagal bayar pada 2021.
Pengadilan menjatuhkan hukuman seumur hidup setelah Hui dinyatakan bersalah atas sejumlah pelanggaran, termasuk penyalahgunaan dana dan penyuapan.
Namun, keputusan tersebut menuai reaksi beragam dari masyarakat China. Banyak pemilik rumah dan kreditur meluapkan kekecewaan melalui media sosial karena merasa kerugian mereka belum terselesaikan.
Topik mengenai hukuman Hui bahkan mencatat lebih dari 370 juta tayangan dan 72.000 diskusi di platform Weibo.
Seorang pemilik rumah berusia 38 tahun bernama Jason Wang mengatakan nilai properti miliknya di Provinsi Shandong telah turun tajam sejak dibeli pada 2019.
“Rasa sakitnya tak tertahankan. Ketika orang-orang hampir tidak bisa memberi makan diri mereka sendiri, siapa yang mampu membeli rumah?” ungkapnya.
Baca Juga: Sebut akan Gagal, Iran Tantang Ancaman Sanksi Terberat AS
Harga Rumah Turun, Ekonomi China Ikut Tertekan
Enam tahun setelah pemerintah China memperketat aturan terhadap sektor properti yang memiliki tingkat utang tinggi, dampaknya masih terasa hingga saat ini.
Jutaan proyek perumahan yang belum selesai masih terbengkalai di berbagai wilayah. Sementara itu, pemulihan harga rumah baru di kota besar seperti Beijing dan Shanghai mengalami stagnasi.
Di kota-kota kecil, harga rumah bekas bahkan turun hampir 25 persen dibandingkan level 2020. Kondisi ini membuat masyarakat semakin menahan konsumsi karena nilai aset mereka terus mengalami penurunan.
Tekanan sektor properti turut membebani pertumbuhan ekonomi China. Ekonomi China hanya tumbuh 4,3 persen pada kuartal yang berakhir Juni dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menjadi pertumbuhan paling lambat dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Dengan melemahnya permintaan domestik, China kini semakin mengandalkan sektor ekspor sebagai mesin pertumbuhan. Surplus perdagangan China bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2019.
Namun, strategi tersebut memicu kekhawatiran di Amerika Serikat dan Uni Eropa mengenai meningkatnya arus barang murah asal China yang dapat menekan industri lokal negara lain.
Pemerintah China sebenarnya telah berupaya mengalihkan dukungan ekonomi dari sektor properti menuju industri teknologi strategis seperti robotika dan semikonduktor.
Namun, sektor tersebut dinilai belum mampu menggantikan peran properti sebagai salah satu penggerak utama ekonomi China.
Ekonom Senior Conference Board Asia Max Zenglein mengatakan perubahan tersebut membuat manfaat pertumbuhan ekonomi tidak tersebar secara luas.
“Pertumbuhan dan manfaat pertumbuhan didistribusikan secara jauh lebih sempit di seluruh ekonomi. Itulah alasan utama mengapa konsumsi tidak meningkat,” tuturnya.
Baca Juga: AS-Kanada Perang Dagang Lagi, Trump Naikkan Tarif 50 Persen
Di sisi perusahaan, sebagian besar pengembang swasta besar China telah mengalami tekanan berat. Evergrande gagal bayar pada 2021 dan memasuki proses likuidasi pada 2024.
Sementara itu, Country Garden juga mengalami gagal bayar pada 2023. China Vanke kini berupaya memperpanjang pembayaran obligasi dan telah mengganti sebagian besar manajemen puncaknya dengan eksekutif dari perusahaan milik negara.
Dengan banyaknya pengembang swasta yang melemah, perusahaan properti milik negara kini semakin mendominasi pasar.
Seorang petugas pinjaman dari bank milik negara China mengatakan keputusan pembiayaan kini lebih banyak mempertimbangkan dukungan pemerintah terhadap perusahaan.
“Pertimbangan utamanya adalah siapa yang berada di belakangnya – apakah itu badan usaha milik negara pusat atau daerah. Praktiknya, bank sudah lama berhenti memberikan pinjaman kepada pengembang swasta,” paparnya.
Chief Executive Enhance International Sam Radwan menilai pemulihan sektor properti China masih membutuhkan waktu panjang. Ia memperkirakan harga rumah masih harus turun sekitar 40 persen dari level 2025 agar pasar mencapai keseimbangan.
“Masalahnya sistemik, dan tidak banyak yang bisa Anda lakukan. Anda memiliki lebih banyak rumah daripada jumlah rumah tangga – rumah kedua digunakan sebagai investasi oleh lebih dari sepertiga populasi,” katanya.
“Warga China adalah orang-orang yang sangat pintar. Mereka tahu betul bahwa mereka belum mendekati titik terendah tetapi mereka tidak bisa melihat titik terendah,” tegasnya.
Meski demikian, Wakil Direktur Riset China di Gavekal Dragonomics Christopher Beddor menilai kondisi terburuk kemungkinan telah terlewati.
“Kami tidak memperkirakan pemburukan substansial dari sini. Namun, jalan yang paling mungkin adalah koreksi harga yang terus-menerus dan perlahan yang pada akhirnya membersihkan pasar dan membuka jalan bagi beberapa perbaikan,” pungkasnya.
