Dulu Berteman, Kini Bermusuhan: Kisah Iran vs Israel
Perang di jalur Gaza telah berlangsung hampir satu tahun, dan terus memicu ketegangan di berbagai wilayah Timur Tengah. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Gaza, tetapi juga memicu rangkaian serangan roket dan drone antara Israel dengan sejumlah negara, dan kelompok bersenjata di kawasan seperti Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman.
Ketegangan semakin meningkat pada akhir Juli, ketika pemimpin politik luar negeri Hamas, Ismail Haniyeh, dilaporkan tewas di Teheran. Kematian tokoh tersebut memicu janji balasan dari pihak Iran.
Situasi semakin memanas setelah pemimpin kelompok Syiah Lebanon Hezbollah, Hassan Nasrallah, tewas dalam serangan udara Israel di Beirut pada 27 September. Serangan tersebut juga menewaskan seorang pejabat tinggi dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran.
Sebelumnya, serangkaian ledakan perangkat pager juga melukai ratusan pejabat Hizbullah dan menewaskan sejumlah orang. Saat itu, belum jelas bagaimana Iran akan merespons rangkaian peristiwa tersebut secara militer.
Baca Juga : Perang AS-Iran: Siapa yang Lebih Cepat Kehabisan Amunisi?
Serangan balasan Iran akhirnya dimulai pada malam 1 Oktober 2025, ketika IRGC meluncurkan ratusan roket ke wilayah Israel. Televisi pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai pembalasan atas terbunuhnya Ismail Haniyeh, Hassan Nasrallah, serta seorang jenderal Iran.
Iran-Israel: Dari Sekutu Menjadi Musuh
Hubungan antara Iran dan Israel sebenarnya tidak selalu dipenuhi permusuhan. Sebelum terjadinya Revolusi Islam Iran 1979, kedua negara memiliki hubungan diplomatik yang cukup erat.
Iran bahkan termasuk salah satu negara yang pertama kali mengakui berdirinya Israel pada 1948. Pada masa itu, Israel dipandang sebagai mitra strategis bagi Teheran dalam menghadapi dinamika politik negara-negara Arab di kawasan.
Israel juga memberikan berbagai bantuan kepada Iran, termasuk pelatihan bagi para ahli pertanian, dukungan teknis, serta kerja sama dalam pembangunan dan pelatihan militer.
Sebagai imbalannya, Iran di bawah pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi memasok minyak yang sangat dibutuhkan Israel untuk menunjang pembangunan ekonominya.
Pada masa tersebut, Iran juga memiliki salah satu komunitas Yahudi terbesar di dunia di luar Israel. Namun setelah revolusi, sebagian besar komunitas tersebut meninggalkan Iran, meski hingga kini masih terdapat sekitar 20.000 warga Yahudi yang tinggal di negara itu.
Revolusi Islam Mengubah Hubungan
Situasi berubah drastis setelah Revolusi Islam 1979 yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini. Pemerintahan baru Iran langsung memutuskan seluruh hubungan diplomatik dengan Israel.
Khomeini secara terbuka mengkritik Israel terkait pendudukannya di wilayah Palestina. Sejak saat itu, retorika politik Iran terhadap Israel menjadi semakin keras.
Langkah tersebut juga dipandang sebagai upaya Teheran untuk mendapatkan simpati dari negara-negara Arab dan masyarakat di kawasan Timur Tengah.
Ketika Israel menginvasi Lebanon selatan pada 1982 dalam konflik perang saudara di negara tersebut, Iran mengirim pasukan dari IRGC ke Beirut untuk membantu milisi Syiah.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik awal munculnya kekuatan Hizbullah yang hingga kini dikenal sebagai sekutu utama Iran di Lebanon.
Baca Juga : Siapa Saja Sekutu Iran? Ini Sikap Mereka Usai Serangan AS-Israel
Konflik yang Terus Mendalam
Pemimpin tertinggi Iran saat ini, Ali Khamenei, melanjutkan kebijakan konfrontatif terhadap Israel yang diwariskan sejak masa Khomeini.
Pemerintah Iran juga sering mempertanyakan narasi sejarah tentang pembunuhan massal orang Yahudi di Eropa oleh rezim Nazi, bahkan dalam beberapa kesempatan mencoba merelatifkan atau menyangkal peristiwa Holocaust.
Di tingkat regional, Iran memperluas pengaruh militernya dengan mendukung sejumlah kelompok bersenjata seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, milisi Houthi di Yaman, serta kelompok bersenjata di Irak dan Suriah.
Tokoh penting di balik strategi tersebut adalah jenderal IRGC Qasem Soleimani yang tewas dalam serangan drone Amerika Serikat pada 2020.
Di sisi lain, Israel juga mengambil berbagai langkah untuk menekan Iran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sering menyamakan Republik Islam Iran, dengan rezim Nazi Jerman dalam berbagai pidatonya.
Netanyahu juga menilai perjanjian nuklir Iran tahun 2015 sebagai sebuah “kesalahan besar yang bersejarah”.
Israel pun dituding berulang kali melakukan operasi sabotase terhadap program nuklir Iran. Pada 2020, ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh tewas dalam serangan yang diduga sebagai operasi intelijen Israel, meskipun pemerintah Israel tidak pernah secara resmi mengkonfirmasi keterlibatannya.
Narasi Permusuhan yang Masih Diperdebatkan
Di dalam negeri Iran sendiri, sejumlah tokoh mulai mempertanyakan relevansi kebijakan permusuhan terhadap Israel.
“Iran harus mengkaji ulang hubungannya dengan Israel karena sudah tidak mutakhir lagi,” kata Faeseh Hashemi Rafsanjani dalam wawancara akhir tahun 2021.
Faeseh merupakan putri mantan Presiden Iran, Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, sekaligus mantan anggota parlemen Iran.
Kritik serupa juga disampaikan oleh ilmuwan politik Sadegh Zibakalam dari Universitas Teheran.
“Sikap itu telah mengisolasi negara ini di kancah internasional,” tegas profesor Universitas Teheran itu dalam wawancara dengan DW pada tahun 2022.
Di Israel, beberapa kelompok masyarakat sipil juga pernah mencoba membangun solidaritas dengan rakyat Iran melalui kampanye media sosial seperti “Israel Loves Iran” yang muncul pada 2012.
Pada 2023, kampanye serupa kembali muncul untuk mendukung protes warga Iran setelah kematian Mahsa Amini yang memicu demonstrasi besar di negara tersebut.
Baca Juga : Prabowo Minta Menteri Kaji Skema WFH, Demi Hemat BBM!
Namun di tingkat politik, ketegangan antara Iran dan Israel semakin mengeras sejak serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023, yang kemudian diikuti operasi militer besar-besaran Israel di Gaza.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lebih dari 41.000 warga Palestina dilaporkan tewas dalam konflik tersebut, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.
Di wilayah utara Israel dan Lebanon, saling serang antara Hizbullah dan militer Israel juga telah memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka.
Kekhawatiran akan meluasnya perang regional terus meningkat, sehingga Amerika Serikat, Uni Eropa, serta Jerman berulang kali menyerukan semua pihak untuk menahan diri.

[…] Dulu Berteman, Kini Bermusuhan: Kisah Iran vs Israel […]