Putin Tunggu Utusan Trump ke Moskow Bahas Damai Ukraina
Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan harapannya agar utusan Amerika Serikat (AS), Steve Witkoff dan Jared Kushner, segera berkunjung ke Moskow untuk melanjutkan pembicaraan mengenai penyelesaian konflik di Ukraina. Menurutnya, proses negosiasi dapat kembali berjalan setelah perhatian Washington tidak lagi terfokus pada konflik dengan Iran.
Dalam wawancara bersama televisi pemerintah Rusia, Putin menegaskan bahwa Moskow tetap membuka pintu bagi kelanjutan dialog dengan Amerika Serikat.
Baca Juga : Putin Siapkan Langkah untuk Ukraina, Tegaskan Tak Akan Mundur!
“Kami siap untuk melanjutkan negosiasi dan diskusi tentang detail — jika bukan kesepakatan, setidaknya topik yang dibahas di Anchorage,” katanya, merujuk pada pembicaraan dengan Presiden Donald Trump tahun lalu.
Rusia Tolak Proposal Pembatasan Pertempuran
Putin mengungkapkan bahwa Rusia telah menerima dua usulan baru terkait pembatasan konflik di Ukraina.
Usulan pertama mengatur penghentian serangan jarak jauh ke wilayah Rusia maupun Ukraina. Sementara proposal kedua mengusulkan agar pertempuran dibatasi hanya di empat wilayah Ukraina yang saat ini diduduki Rusia.
Namun, Putin mengatakan dirinya menolak gagasan tersebut karena menilai pembatasan wilayah tempur justru memberi keuntungan bagi Ukraina.
Menurutnya, skenario itu memungkinkan pasukan Ukraina memindahkan kekuatan militernya dari wilayah lain menuju garis depan di empat wilayah yang menjadi pusat pertempuran.
Putin tidak mengungkapkan pihak yang mengajukan kedua proposal tersebut.
Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Presiden Rusia tersebut.
Serangan Ukraina Tekan Infrastruktur Rusia
Sepanjang tahun ini, Ukraina meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia sebagai upaya mengubah keseimbangan di medan perang.
Target serangan meliputi sejumlah kilang minyak yang berperan penting dalam pasokan energi Rusia. Akibatnya, kapasitas pengolahan minyak mengalami penurunan dan memicu gangguan distribusi bahan bakar di Moskow serta sejumlah wilayah lainnya.
Data resmi menunjukkan harga rata-rata bensin di Rusia naik sekitar 3 persen pada periode 16–22 Juni. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar dalam sedikitnya dua dekade terakhir.
Di sisi lain, masyarakat Rusia juga menghadapi biaya pinjaman yang tetap tinggi setelah Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina mengisyaratkan ruang penurunan suku bunga semakin terbatas. Ia bahkan memberi sinyal bahwa siklus pelonggaran moneter yang telah berlangsung selama setahun dapat dihentikan sementara.
Baca Juga : China-Rusia Patroli Udara, Jepang Siaga Tempur!
Meski serangan Ukraina terus meningkat, Putin menilai aksi tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap situasi di garis depan maupun posisi militer Rusia.
Sebagai respons, pemerintah Rusia berencana memperkuat perlindungan terhadap fasilitas energi dengan membangun lebih banyak sistem pertahanan udara.
Sementara itu, sekitar 75 persen wilayah Rusia dilaporkan mengalami pembatasan distribusi bahan bakar atau gangguan pasokan.
Otoritas di sejumlah wilayah seperti Bryansk, Kursk, Lipetsk, Samara, dan Tyumen telah menerapkan pembatasan distribusi bahan bakar bagi para pengendara sebagai langkah mengatasi keterbatasan pasokan.
