Tak Gentar, Iran Sebut Ultimatum Trump Hanya Omong Kosong
Komando militer pusat Iran menanggapi ancaman Presiden Donald Trump dengan nada keras, menyusul ultimatum 48 jam terkait pembukaan Selat Hormuz dan kesepakatan perdamaian.
Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi dari Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menyebut ancaman tersebut tidak menunjukkan kekuatan.
Ia bahkan mengejek balik pernyataan Trump yang sebelumnya disampaikan melalui media sosial.
Baca Juga: BBM Tetangga RI Naik hingga Rp30 Ribu/Liter, Dipicu Perang Iran
Ancaman Trump dinilainya sebagai tindakan yang “tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh”.
Aliabadi juga menanggapi penggunaan bahasa religius oleh Trump dalam pesannya,
Ia memperingatkan, “makna sederhana dari pesan ini adalah bahwa pintu neraka akan terbuka untuk Anda”.
Sebelumnya, Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam atau menghadapi konsekuensi besar.
“Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk MEMBUAT KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
“Waktu hampir habis, 48 jam sebelum semua Neraka akan menimpa mereka,” tambah Trump.
“Segala kemuliaan bagi TUHAN!” lanjut dia.
Trump juga sempat mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi dalam batas waktu yang ditentukan.
Namun, dua hari setelah ancaman tersebut, ia menyebut adanya “percakapan yang sangat baik dan produktif” dengan otoritas Iran dan menunda rencana serangan selama lima hari.
Tenggat waktu tersebut kemudian kembali diperpanjang hingga berakhir pada pukul 20.00 Senin (00.00 GMT Selasa).
Baca Juga: Trump Ultimatum Iran 48 Jam! Pilih Damai atau Hancur
