Trump Ungkap Sikap soal Iran: Tak Mau Perang Lagi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut telah menyampaikan kepada para stafnya bahwa dirinya tidak ingin kembali terlibat dalam perang besar dengan Iran, meski ketegangan antara kedua pihak terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Namun, Trump juga disebut menetapkan batas tegas. Ia akan mempertimbangkan perubahan sikap jika Teheran menyerang atau membunuh pasukan Amerika Serikat dalam eskalasi konflik yang sedang berlangsung.
Eskalasi Serangan dan Ketegangan Regional
Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam salah satu bentrokan paling intens sejak gencatan senjata yang berlaku pada awal April.
Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan ke bandara internasional Kuwait yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa.
Di saat yang sama, perselisihan terkait kendali Selat Hormuz turut memperburuk situasi global. Jalur perdagangan energi strategis itu dilaporkan mengalami pembatasan arus, sementara AS memperketat blokade terhadap aktivitas pelabuhan Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut aksi tersebut belum mengarah pada perang skala penuh.
“Mereka terjadi sebagai respons terhadap tindakan Iran. Jika mereka tidak menembaki kapal-kapal itu, kami tidak akan menembak, tetapi kami harus merespons,” kata Rubio dalam sidang di DPR AS, Rabu (3/6/2026), sebagaimana dikutip The Wall Street Journal.
Meski demikian, pejabat AS menilai serangan berulang ini meningkatkan tekanan politik terhadap Trump dan memperumit masa depan gencatan senjata.
Baca Juga: Dugaan Korupsi MBG Diungkap Kejagung, Pengadaan Motor Listrik DIsorot
Upaya Diplomasi dan Posisi Trump
Di tengah ketegangan, Trump mengklaim bahwa kesepakatan damai dengan Iran sebenarnya hampir tercapai. Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, pembatasan program nuklir Iran, hingga pengelolaan cadangan uranium Teheran.
Namun, ia menegaskan tidak terburu-buru dalam proses tersebut.
Dalam wawancara dengan New York Post, Trump menyebut kemungkinan konflik dapat terus berlanjut dalam jangka waktu tertentu, meski ia masih membuka ruang negosiasi.
“Di bagian dunia itu, gencatan senjata adalah ketika Anda menembak dalam cara yang lebih terkendali,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Rabu (3/6/2026).
Ia juga menegaskan bahwa komunikasi dengan Iran masih berlangsung. “Dibutuhkan dua pihak untuk berdansa. Kami menghantam mereka dengan sangat keras terkait sesuatu yang lain, sehingga mereka merespons,” ujarnya.
Negosiasi yang Terhambat dan Dilema Politik
Di sisi lain, Gedung Putih menyebut Trump lebih memilih penyelesaian melalui jalur diplomatik, terutama terkait program nuklir Iran. Namun, perundingan masih menemui jalan buntu karena kedua pihak memiliki syarat yang sulit dipenuhi.
Iran disebut meminta pelonggaran sanksi dan keuntungan finansial sebelum melanjutkan pembicaraan, sementara AS menuntut konsesi awal yang lebih besar dari Teheran.
Sejumlah analis menilai posisi Trump semakin rumit di tengah sikap Iran yang masih mampu bertahan di bawah tekanan.
Baca Juga: Obligasi Dolar AS Senilai Rp89,5 Triliun Disiapkan Danantara
“Dia tampaknya memang terjebak,” kata Steven Cook, peneliti senior Timur Tengah di Council on Foreign Relations.
Sementara itu, Suzanne Maloney dari Brookings Institution menilai konflik ini menjadi ujian besar bagi pendekatan kebijakan luar negeri AS.
“Perang Iran tampaknya menjadi kekacauan pertama yang diciptakan oleh kecenderungan pemerintahan ini terhadap kekuatan militer, pertaruhan besar, yang tidak bisa diabaikan atau ditinggalkan begitu saja oleh presiden,” ujarnya.
