Iran Serang Pangkalan AS di Kuwait, Kirim Pesan Keras ke Trump
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan serangan yang dilancarkan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait pada Selasa (2/6/2026) merupakan bentuk balasan atas tindakan militer Washington di sekitar Selat Hormuz.
Menurut IRGC, insiden bermula ketika sebuah kapal tanker minyak Iran mengalami serangan di dekat jalur pelayaran strategis tersebut. Iran menuding militer AS berada di balik aksi yang menyebabkan kerusakan pada kapal tersebut.
“Larut malam tadi, militer agresor AS menyerang sebuah kapal tanker minyak Iran di dekat Selat Hormuz menggunakan proyektil udara, yang menyebabkan kerusakan pada ruang mesin kapal tanker tersebut,” demikian bunyi pernyataan IRGC seperti dikutip Al Jazeera.
Baca Juga : Iran Siapkan Pemakaman Akbar untuk Khamenei, 20 Juta Hadir?
Sebagai respons, IRGC mengaku menargetkan kapal yang disebut berafiliasi dengan AS dan Israel.
“Sebagai respons atas tindakan agresi dan pelanggaran terhadap aturan yang mengatur Selat Hormuz, sebuah kapal milik musuh Amerika-Zionis bernama Panaya menjadi sasaran rudal yang diluncurkan Angkatan Laut IRGC,” papar IGC menambahkan.
Iran Sebut Serang Pangkalan Udara dan Armada Kelima AS
Dalam pernyataannya, IRGC juga menuduh militer AS menyerang menara komunikasi milik mereka di Pulau Qeshm.
“Sebagai balasan, Pasukan Dirgantara IRGC melancarkan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan udara dan helikopter mereka yang berada di salah satu negara di kawasan, serta terhadap markas Armada Kelima AS,” lanjut pernyataan IRGC tersebut.
Iran menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan bentuk peringatan kepada Washington agar tidak melakukan tindakan yang dinilai mengancam keamanan kawasan, khususnya di sekitar Selat Hormuz.
“Kami sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap tindakan agresi akan dibalas dengan respons yang berbeda dan lebih keras, dan kami telah bertindak sesuai peringatan itu. Respons ini harus menjadi pelajaran. Kami kembali menegaskan bahwa mengganggu keamanan Selat Hormuz akan membawa konsekuensi berat bagi militer agresor AS.”
AS Klaim Rudal Iran Gagal Mencapai Sasaran
Di sisi lain, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) memberikan versi berbeda terkait insiden tersebut. Washington menyebut tindakan militernya dilakukan untuk membela diri setelah adanya ancaman serangan dari Iran di sejumlah wilayah Timur Tengah.
CENTCOM juga mengklaim serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk tidak berhasil mencapai target yang dituju.
“Iran meluncurkan beberapa rudal balistik ke arah negara-negara tetangga di kawasan, namun seluruhnya gagal mencapai target yang dituju. Dua rudal Iran yang ditembakkan ke Kuwait jatuh sebelum mencapai sasaran atau hancur di tengah perjalanan, sementara tiga rudal yang diluncurkan ke Bahrain segera dicegat oleh sistem pertahanan udara AS dan Bahrain,” bunyi pernyataan CENTCOM.
Baca Juga : Di Tengah Ketegangan, Trump ingin Bertemu Mojtaba
Aksi saling serang antara Iran dan AS berlangsung saat kedua negara masih terlibat dalam perundingan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, sejumlah negara di kawasan Teluk Persia beberapa kali menjadi sasaran serangan Iran. Teheran memandang negara-negara tersebut sebagai bagian dari jaringan dukungan militer AS karena menjadi lokasi pangkalan dan fasilitas pertahanan Washington di kawasan.
Situasi ini menambah tantangan bagi proses diplomasi yang tengah berlangsung, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi meluasnya konflik di Timur Tengah.
