Purbaya Temui S&P, Jawab Rumor Rating Utang RI Turun
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan telah melakukan pertemuan dengan perwakilan lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) di Jakarta pada Rabu (3/6/2026) malam. Pertemuan tersebut dilakukan di tengah beredarnya rumor mengenai kemungkinan penurunan peringkat utang Indonesia.
Purbaya menjelaskan, pemerintah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi fundamental ekonomi nasional kepada S&P.
Baca Juga : DPR Tanggapi Kritik Kunjungan Prabowo ke LN, Tegaskan untuk Diplomasi
“Ya pada dasarnya kita jelaskan posisi kita semaksimal mungkin seperti apa, biar mereka mengerti fondasi ekonomi kita seperti apa. Kewajiban kita kan itu,” ungkapnya di Gedung DPR, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, salah satu fokus utama yang dibahas dalam pertemuan itu adalah komitmen pemerintah dalam menjaga kesehatan fiskal, khususnya terkait pengelolaan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pemerintah Tegaskan Komitmen Jaga Defisit di Bawah 3%
Purbaya mengakui masih terdapat keraguan dari sejumlah pihak mengenai kemampuan pemerintah menjaga defisit APBN tetap berada di bawah batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Karena itu, pemerintah menjelaskan berbagai strategi yang telah dan akan dilakukan untuk memastikan target tersebut tetap tercapai, baik pada tahun ini maupun tahun depan.
“Utamanya keseriusan kita menjaga defisit di bawah 3% dan kita jelaskan cara-cara tahun ini maupun ke tahun depan dan semua termasuk perbaikan kondisi ekonomi kita,” jelasnya.
Selain menyampaikan kondisi fiskal, pemerintah juga memaparkan perkembangan penerimaan negara yang menunjukkan tren positif sepanjang tahun berjalan.
Penerimaan Pajak Tumbuh Signifikan
Hingga akhir April 2026, pemerintah telah menghimpun penerimaan pajak sebesar Rp646,3 triliun atau setara 27,4% dari target APBN 2026 yang dipatok Rp2.357,7 triliun.
Purbaya menegaskan bahwa kinerja penerimaan negara terus membaik. Bahkan pada Mei 2026, pertumbuhan penerimaan pajak tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Mei itu pertumbuhan pajaknya 22,1%, jadi jauh lebih tinggi dibanding tahun lalu. Itu suatu hal yang menggembirakan. Jadi itu yang saya sampaikan ke mereka. Nanti mereka akan melihat,” kata Purbaya.
Kinerja penerimaan yang meningkat tersebut menjadi salah satu indikator yang disampaikan pemerintah kepada S&P sebagai bukti ketahanan ekonomi domestik.
Defisit APBN Naik Tipis, Pemerintah Sebut Masih Aman
Meski belanja negara yang ekspansif mendorong kenaikan defisit APBN pada Mei 2026, pemerintah memastikan kondisi fiskal masih berada dalam jalur yang aman.
Purbaya menyebut defisit APBN hingga Mei tercatat sekitar 0,7% terhadap PDB, sedikit lebih tinggi dibanding posisi akhir April.
“Tapi pada dasarnya aman. Di bulan Mei, defisitnya naik sedikit dibanding April ke 0,7%. Tapi kalau itu kan 5 bulan, yang itu kan 4 bulan. Kalau kita hitung 12 per 5 kali 0,7%, kasarannya ya antara 1,8% ke PDB,” paparnya.
Baca Juga : Purbaya Sebut Kemenkeu Ikut Soroti Kinerja Dadan
Menurut perhitungannya, jika tren tersebut berlanjut hingga akhir tahun, maka defisit APBN masih berada jauh di bawah batas maksimal 3% PDB yang ditetapkan pemerintah.
Purbaya menambahkan, seluruh informasi yang disampaikan pemerintah akan menjadi bahan pertimbangan bagi S&P dalam melakukan penilaian terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Selanjutnya, lembaga pemeringkat tersebut akan melakukan pembahasan internal sebelum mengumumkan keputusan terkait peringkat utang Indonesia.
Pemerintah berharap penjelasan mengenai kondisi fiskal, pertumbuhan penerimaan negara, serta komitmen menjaga defisit dapat memberikan gambaran yang utuh mengenai fundamental ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.
