Trump Buka Peluang Temui Kim Jong Un, Latihan AS-Korsel Dipangkas
Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan memangkas durasi latihan militer gabungan tahunan mereka.
Langkah tersebut dilakukan di tengah laporan Presiden AS Donald Trump kembali membuka peluang bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Militer Korea Selatan pada Rabu (19/8/2026) mengatakan latihan Ulchi Freedom Shield (UFS) tahun ini berlangsung pada 17-21 Agustus.
Durasi tersebut lebih singkat dari jadwal awal yang direncanakan hingga 27 Agustus.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan perubahan jadwal tersebut merupakan usulan dari pihak AS.
“Keputusan untuk menyesuaikan jadwal latihan merupakan proposal AS,” kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan dalam pernyataannya, dilansir dari CNBC International.
Selain durasi latihan, sejumlah latihan lapangan gabungan juga akan dikurangi.
Pemangkasan tersebut terjadi setelah Trump dilaporkan memerintahkan Menteri Perang AS Pete Hegseth untuk mengurangi secara “substansial” latihan militer bersama.
Perintah tersebut disampaikan menjelang dimulainya latihan UFS pada Senin (17/8/2026).
Baca Juga: Juli 2026, Lebih dari 1000 Perusahaan Jepang Bangkrut!
Trump Dikabarkan Ingin Bertemu Kim Jong Un
Di tengah pengurangan latihan militer, The Wall Street Journal melaporkan Trump mendorong para pembantunya untuk mengatur pertemuan langsung dengan Kim Jong Un.
Pertemuan tersebut disebut berpotensi berlangsung paling cepat pada musim gugur tahun ini.
Trump bahkan disebut mempertimbangkan pertemuan dengan Kim saat melakukan kunjungan ke Asia pada November.
Pada periode tersebut, Trump diperkirakan menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China.
Trump dan Kim sebelumnya telah bertemu sebanyak tiga kali saat periode pertama Trump menjabat sebagai presiden AS.
Salah satu pertemuan tersebut berlangsung di Singapura pada 2018. Pertemuan itu menjadi momen bersejarah dalam hubungan AS dan Korea Utara.
Upaya terbaru Trump dinilai dapat menjadi langkah untuk menghidupkan kembali diplomasi langsung antara Washington dan Pyongyang.
Diplomasi tersebut sebelumnya terhenti setelah serangkaian perundingan nuklir tidak menghasilkan kesepakatan baru.
Dalam latihan UFS tahun ini, sekutu sebelumnya merencanakan 14 program latihan lapangan gabungan.
Baca Juga: IMF Kembali Didekati Senegal untuk Ajukan Pinjaman Baru
Latihan tersebut melibatkan sekitar 18.000 tentara Korea Selatan.
Jennifer Kavanagh, senior fellow sekaligus direktur analisis militer di Defense Priorities, menilai pengurangan keterlibatan AS dapat mendorong Seoul memperkuat kemampuan militernya sendiri.
“Sekutu akan menjadi lebih mandiri seiring waktu, dan mereka akan membutuhkan Amerika Serikat lebih sedikit,” ujar Kavanagh.
Menurut dia, peningkatan anggaran pertahanan Korea Selatan dapat memperkuat kemampuan militer negara tersebut.
Kerja sama Seoul dengan Jepang, Filipina, dan Australia juga dinilai dapat meningkatkan kapasitas pertahanan kawasan.
Sementara bagi Washington, pengurangan kehadiran militer di Asia juga memiliki keuntungan.
Beban pertahanan yang lebih kecil dapat membuat AS mengalihkan sumber daya ke kebutuhan domestik.
Langkah tersebut juga berpotensi mengurangi risiko konflik besar, termasuk kemungkinan konfrontasi dengan China.
