Trump Desak Ukraina Berdamai dengan Rusia, Tak Peduli Caranya
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mendesak Ukraina segera mencapai kesepakatan damai dengan Rusia untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak Februari 2022.
Trump menegaskan, dirinya tidak mempersoalkan cara yang ditempuh untuk mencapai kesepakatan tersebut, di tengah perbedaan pandangan antara pemerintahannya dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa (20/10/2026), ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina kembali berlangsung.
Dilansir dari Al Jazeera, Trump menilai Zelensky harus menunjukkan kesediaan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
“Zelensky harus mau mengakhiri perang ini. Jika tidak, saya pikir akibatnya akan sangat buruk,” kata Trump.
Trump juga menyinggung kemampuan Rusia untuk terus mengerahkan pasukan dalam pertempuran dan menyebut negara tersebut memiliki pasokan personel yang nyaris tidak terbatas.
Ia turut mengungkit pertemuannya dengan Zelensky di Ruang Oval Gedung Putih pada Februari 2025, tidak lama setelah kembali menjabat sebagai presiden AS.
Menurut Trump, Zelensky sebenarnya memiliki kesempatan untuk mencapai kesepakatan yang lebih menguntungkan saat itu.
“Dia harus mau membuat kesepakatan, karena saya rasa rakyatnya tidak akan mau menerima keadaan ini lebih lama lagi,” ujar Trump.
Baca Juga: Suara Arab Israel Bisa Gulingkan Netanyahu di Pemilu 2026
Trump Tak Peduli Bagaimana Kesepakatan Damai Dicapai
Dalam kesempatan yang sama, Trump ditanya mengenai kemungkinan pertemuan langsung antara Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Trump menilai hubungan kedua pemimpin tersebut diwarnai permusuhan besar sehingga pertemuan langsung mereka sulit terlaksana.
“Sulit bagi mereka untuk berada dalam satu ruangan,” kata Trump.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa format pertemuan bukanlah persoalan utama baginya.
“Saya tidak peduli bagaimana caranya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Trump terbuka terhadap berbagai format diplomasi untuk menghentikan perang Rusia-Ukraina.
Namun, ia belum menjelaskan mekanisme perundingan yang diinginkan ataupun bentuk kesepakatan yang dapat diterima kedua pihak.
Desakan terbaru itu muncul ketika Washington dan Kyiv masih memiliki perbedaan pandangan mengenai cara mengakhiri perang.
Trump berulang kali meminta Ukraina mencapai kesepakatan, sedangkan Zelensky menekankan pentingnya jaminan keamanan dan keterlibatan negara-negara Eropa dalam proses perdamaian.
Zelensky Siap Berunding, Utusan Trump Akan Bertemu Putin
Di tengah desakan Trump, Zelensky bertemu dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan sejumlah pemimpin Eropa di Oslo, Norwegia, pada Selasa (20/10/2026).
Pertemuan tersebut membahas upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Setelah pembicaraan, Zelensky menyampaikan melalui media sosial bahwa Ukraina telah memiliki sejumlah gagasan untuk mencapai perdamaian, meskipun ia tidak memerinci isi usulan tersebut.
“Kami memiliki beberapa gagasan yang jelas mengenai cara mencapai perdamaian,” kata Zelensky.
Ia juga mengatakan Ukraina dan negara-negara Eropa memiliki pandangan yang sejalan dalam upaya diplomatik tersebut.
“Kami bersatu dengan mitra-mitra Eropa dalam upaya ini, dan kami ingin pihak Amerika menyampaikan gagasan-gagasan tersebut kepada Rusia,” ujarnya.
Zelensky menyebut salah satu gagasan yang dibahas adalah kemungkinan pertemuan tiga pemimpin untuk membicarakan persoalan yang memerlukan keputusan di tingkat kepala negara.
“Salah satu gagasan penting adalah melangkah menuju kemungkinan pertemuan trilateral para pemimpin untuk membahas persoalan yang hanya bisa ditangani oleh para pemimpin,” katanya.
Pertemuan tersebut berpotensi melibatkan pemimpin AS, Ukraina, dan Rusia, tetapi belum ada kesepakatan resmi mengenai penyelenggaraannya.
Setelah pembicaraan di Oslo, Witkoff dijadwalkan melanjutkan perjalanan diplomatik ke Rusia pada Rabu (21/10/2026) untuk membahas usulan perdamaian yang telah didiskusikan bersama Ukraina dan negara-negara Eropa.
Zelensky mengatakan dirinya menunggu tanggapan Rusia terhadap gagasan yang akan disampaikan utusan Trump.
“Kita lihat apa yang akan dikatakan Putin,” ujar Zelensky.
Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen pada Oktober 2026
Ketegangan AS-Ukraina dan Perubahan Kebijakan terhadap Rusia
Upaya diplomatik tersebut berlangsung ketika hubungan Washington dan Kyiv menghadapi ketegangan, termasuk mengenai dukungan militer dan teknologi bagi Ukraina.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pembatasan akses terhadap sistem komunikasi satelit Starshield, teknologi militer yang dikembangkan perusahaan antariksa SpaceX.
Pekan sebelumnya, pejabat Ukraina melaporkan penurunan kecepatan layanan Starshield, yang merupakan versi militer dari jaringan internet satelit Starlink.
Ukraina menggunakan teknologi tersebut untuk mendukung komunikasi dan kegiatan intelijen dalam menghadapi serangan Rusia. Pembatasan akses pun memunculkan kekhawatiran mengenai kemampuan Ukraina menjalankan sejumlah operasi militernya.
Namun, hingga kini belum dapat dipastikan siapa yang memerintahkan pembatasan tersebut.
Pemimpin SpaceX Elon Musk, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Trump, mengatakan kendali atas Starshield berada di tangan pemerintah AS.
“Sistem Starshield dimiliki dan dikendalikan oleh pemerintah AS. Setiap pembatasan kecepatan atau penggunaan diputuskan oleh militer AS dan pada akhirnya oleh presiden,” tulis Musk pada 14 Oktober 2026.
Reuters, dengan mengutip dua pejabat AS dan seorang pejabat negara Barat, sebelumnya melaporkan bahwa perintah pembatasan berasal dari lingkungan Gedung Putih.
Namun, laporan The Wall Street Journal pada Selasa menyebut sejumlah pejabat AS justru menuding Musk sebagai pihak yang memerintahkan pembatasan tersebut.
Trump dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth telah membantah bahwa pemerintah memberikan instruksi untuk membatasi layanan Starshield. Hegseth mengarahkan persoalan tanggung jawab tersebut kepada SpaceX.
Di sisi lain, Trump juga mengambil sejumlah langkah untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia.
Pada Agustus 2025, Trump mengundang Putin ke Alaska. Kunjungan tersebut menjadi perjalanan pertama Putin ke wilayah AS dalam satu dekade.
Pada Oktober 2026, Trump juga menyatakan terbuka terhadap kemungkinan pertemuan bersama Putin dan Presiden China Xi Jinping untuk membahas persoalan senjata nuklir dan denuklirisasi.
Pemerintahannya turut mengambil langkah di bidang ekonomi. Pada Oktober ini, Trump mengumumkan kesepakatan untuk memperoleh pasokan solar dari Rusia ketika harga bahan bakar di AS mengalami kenaikan.
Trump juga menangguhkan pemberlakuan pembatasan ekonomi baru terhadap Moskwa yang sebelumnya direncanakan berdasarkan undang-undang sanksi terhadap Rusia dan Iran.
Undang-undang yang diprakarsai Senator Lindsey Graham itu memungkinkan penerapan sanksi terhadap pejabat, perbankan, dan kapal tanker Rusia, serta tarif terhadap negara-negara yang membeli minyak Rusia.
Meski telah menandatangani undang-undang tersebut sekitar satu bulan sebelumnya, Trump memilih menggunakan pengecualian atas dasar keamanan nasional untuk tidak langsung memberlakukan pembatasan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membela keputusan tersebut dalam wawancara dengan News18 India pada Selasa (20/10/2026).
“Presiden memilih menggunakan pengecualian atas dasar keamanan nasional untuk tidak segera menerapkan sanksi dan pembatasan tersebut, karena dia menyadari bahwa semua hal ini harus dilihat secara menyeluruh,” kata Rubio.
Menurut Rubio, pemerintah AS perlu mempertimbangkan dampak kebijakan ekonomi terhadap negara-negara lain.
“Ketika Anda memberikan tekanan seperti itu, terkadang dampaknya meluas dan berpengaruh negatif terhadap negara-negara lain,” ujarnya.
Rubio menegaskan, pertimbangan tersebut menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan pemerintah AS dalam menyeimbangkan tekanan ekonomi terhadap Rusia dengan dampaknya terhadap perekonomian global.
Sementara itu, perang Rusia-Ukraina masih berlangsung di tengah berbagai upaya diplomasi. Trump terus mendesak Kyiv mencapai kesepakatan dengan Moskwa, sedangkan Zelensky menyatakan Ukraina siap berunding dan berharap gagasan perdamaian yang dibahas di Oslo dapat ditindaklanjuti oleh Rusia.
