Utang Membengkak, AS Dibayangi Risiko Krisis seperti Prancis
Amerika Serikat (AS) menghadapi tekanan fiskal yang semakin berat akibat utang pemerintah dan biaya pembayaran bunga yang terus meningkat. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa AS berpotensi menghadapi krisis ekonomi yang memicu kemarahan masyarakat, seperti yang terjadi di Prancis.
Sejumlah pengamat menilai, persoalan ekonomi kedua negara mulai menunjukkan kemiripan. Meski demikian, AS masih memiliki sejumlah keunggulan ekonomi yang membuatnya lebih mampu menanggung beban utang.
Dikutip dari CNN International, Rabu (21/10/2026), profesor kebijakan sosial di University of Kent, Peter Taylor-Gooby, memperingatkan bahwa persoalan fiskal tersebut tidak bisa terus diabaikan.
“Situasinya telah mencapai titik di mana masalah ini tidak bisa lagi diabaikan,” ujar Taylor-Gooby.
“Jika terus diabaikan, kita akan menghadapi krisis yang serius,” tambahnya.
Baca Juga: China Dituding Sebar 2,5 Juta Konten Hoaks di Taiwan Jelang Pemilu
Prancis saat ini menghadapi tekanan besar dengan utang pemerintah mencapai sekitar 119 persen dari produk domestik bruto (PDB), hampir dua kali lipat dari batas acuan Uni Eropa.
Defisit anggaran negara tersebut juga mencapai 5,4 persen dari PDB, sehingga pemerintah menghadapi pilihan sulit antara menaikkan pajak dan memangkas belanja.
Kedua kebijakan itu berisiko memicu penolakan masyarakat, terutama di tengah situasi politik Prancis yang terpecah.
Tekanan serupa juga terlihat di AS. Utang pemerintah negara tersebut mencapai sekitar 32 triliun dollar AS atau Rp 576 kuadriliun, sedangkan defisit anggarannya mencapai 2 triliun dollar AS atau Rp 36 kuadriliun.
Biaya bunga utang AS bahkan telah menembus 1 triliun dollar AS atau Rp 18 kuadriliun per tahun. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 14 persen dari total anggaran federal.
AS Punya Keunggulan Ekonomi
Meski menghadapi tekanan fiskal, AS memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya lebih mampu menanggung beban utang.
Dolar AS masih menjadi mata uang cadangan utama dunia, sementara obligasi pemerintah AS atau Treasuries banyak diminati investor sebagai aset aman ketika pasar keuangan bergejolak.
Permintaan terhadap obligasi tersebut membantu pemerintah AS memperoleh pembiayaan dengan biaya yang relatif lebih terkendali dibandingkan sejumlah negara Barat lainnya.
Selain itu, ukuran ekonomi AS yang besar dan beragam menjadi penyangga pertumbuhan. Investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), khususnya, dinilai mampu menopang perekonomian ketika sejumlah sektor lain mengalami perlambatan.
Kepala Ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, mengatakan kondisi fiskal Prancis dan Inggris memiliki sejumlah kemiripan.
“Prancis dan Inggris berada dalam posisi yang cukup mirip,” kata Zandi.
“Namun, di Amerika Serikat, kontribusi AI terhadap pertumbuhan ekonomi membuat negara ini lebih mampu mengelola utangnya,” tambahnya.
Baca Juga: Suara Arab Israel Bisa Gulingkan Netanyahu di Pemilu 2026
Risiko Utang dan Kebuntuan Politik Tetap Mengintai
Keunggulan ekonomi tersebut bukan berarti AS bebas dari risiko. Zandi mengingatkan bahwa kondisi fiskal Amerika yang relatif lebih baik dibandingkan Prancis dan Inggris tidak berarti pemerintah dapat mengabaikan persoalan utang.
“Jika pertumbuhan ekonomi melambat sementara biaya bunga tetap tinggi, beban pembayaran utang dapat semakin menekan anggaran federal,” ujarnya.
Di Eropa, tekanan fiskal Prancis sejauh ini belum tentu berkembang menjadi krisis yang meluas ke seluruh kawasan. Bank Sentral Eropa memiliki instrumen untuk meredam gejolak pasar obligasi jika diperlukan, sementara sejumlah negara Eropa lainnya memiliki defisit yang lebih rendah.
Risiko utama Prancis dinilai masih berpusat pada persoalan anggaran dan kebuntuan politik di dalam negeri.
Sementara itu, salah satu ancaman bagi AS berasal dari persoalan batas utang pemerintah atau debt ceiling. Kongres AS harus mencapai kesepakatan untuk menaikkan batas tersebut agar pemerintah tetap dapat memenuhi kewajiban pembayarannya.
Jika kesepakatan tidak tercapai, kebuntuan politik berisiko membuat pemerintah kehabisan ruang untuk membayar kewajiban utang, meskipun secara ekonomi AS sebenarnya memiliki kemampuan untuk melunasinya.
“Kita bisa membayangkan skenario di mana batas utang terlampaui menjelang perayaan Halloween tahun depan,” ujar Zandi.
Jika skenario tersebut terjadi, AS dapat menghadapi gejolak serius di pasar keuangan.
Dengan demikian, meskipun belum berada dalam kondisi yang sama dengan Prancis, besarnya utang pemerintah dan polarisasi politik tetap menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan Washington.

[…] Utang Membengkak, AS Dibayangi Risiko Krisis seperti Prancis […]