Trump Dicibir usai Bilang “Saya Suka Inflasi” di Tengah Harga Naik
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai kritik setelah komentarnya mengenai inflasi yang meningkat menjadi sorotan publik.
Di tengah lonjakan harga konsumen yang mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, Trump justru menyatakan dirinya menyukai inflasi.
Pernyataan itu disampaikan saat inflasi di AS meningkat akibat kenaikan harga energi yang dikaitkan dengan konflik antara AS, Israel, dan Iran.
“Angkanya bagus. Saya suka inflasi,” kata Trump.
Komentar tersebut segera memicu reaksi dari Partai Demokrat yang menjadikan kenaikan biaya hidup sebagai salah satu isu utama menjelang pemilu sela Kongres pada November mendatang.
Inflasi AS Sentuh Level Tertinggi Sejak 2023
Data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) menunjukkan inflasi tahunan AS mencapai 4,2 persen pada Mei 2026.
Angka tersebut meningkat dari 3,8 persen pada April dan menjadi yang tertinggi sejak April 2023.
Kenaikan inflasi disebut didorong oleh melonjaknya harga energi setelah konflik AS-Israel dengan Iran yang dimulai pada akhir Februari.
Situasi semakin memburuk setelah Iran hampir menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Meski demikian, Trump tetap optimistis inflasi akan segera mereda.
Ia kembali memprediksi inflasi akan “turun seperti batu” setelah konflik berakhir.
Namun, sejumlah ekonom menilai pemulihan harga energi tidak akan berlangsung cepat dan bisa memerlukan waktu berbulan-bulan, tergantung perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga: Hampir 20 Target Iran Diserang Trump, AS Ancam Balasan Keras
Demokrat Serang Pernyataan Trump
Pernyataan Trump langsung dimanfaatkan oleh Partai Demokrat untuk menyerang kebijakan ekonomi pemerintahannya.
Pemimpin Minoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menilai komentar tersebut menunjukkan ketidakpekaan terhadap kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
“Trump benar-benar mengatakan, ‘Saya suka inflasi.’ Di depan kamera. Agar seluruh Amerika mendengarnya. Penghinaannya terhadap Anda tidak mengenal batas,” tulis Schumer di X.
Partai Demokrat juga merilis iklan kampanye yang menampilkan cuplikan pernyataan Trump.
“Trump mengatakan bagian yang selama ini disembunyikan dengan lantang — dia menyukai inflasi. Setiap warga Amerika harus melihat ini,” tulis Partai Demokrat dalam unggahannya.
Di sisi lain, Ketua DPR AS dari Partai Republik Mike Johnson membela Trump dan menyebut pernyataan tersebut telah dipotong dari konteks aslinya.
Harga Energi dan Pangan Terus Meningkat
Laporan inflasi Mei menunjukkan harga energi melonjak 23,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, harga bensin naik hingga 40,5 persen secara tahunan.
Kenaikan juga terjadi pada harga bahan makanan yang meningkat 2,7 persen dibandingkan tahun lalu.
Selain itu, biaya layanan kesehatan, perawatan pribadi, tiket pesawat, dan sektor hiburan juga mengalami kenaikan.
Meski demikian, sejumlah analis melihat adanya tanda-tanda stabilisasi harga bensin yang berpotensi membantu menurunkan tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
“Energi yang lebih mahal kembali mendorong inflasi bulan lalu, tetapi kami memperkirakan inflasi telah mencapai puncaknya dan akan menurun pada paruh kedua tahun ini,” kata Kepala Ekonom Nationwide Kathy Bostjancic.
Ia menambahkan bahwa proyeksi tersebut bergantung pada adanya “penyelesaian dalam waktu dekat dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.”
Baca Juga: NATO Mulai Dipertanyakan, Kepercayaan Eropa ke AS Anjlok
The Fed Hadapi Dilema Suku Bunga
Inflasi inti AS yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi tercatat sebesar 2,9 persen pada Mei, naik dari 2,8 persen pada bulan sebelumnya.
“Untuk saat ini, tampaknya hanya ada sedikit dampak lanjutan dari kenaikan biaya energi terhadap inflasi inti, selain pada tarif penerbangan,” kata Kepala Ekonom EY-Parthenon Gregory Daco.
Kondisi tersebut menambah tekanan bagi Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang memiliki target inflasi jangka panjang sebesar 2 persen.
Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, bahkan mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Menurut Kepala Investasi Northlight Asset Management Chris Zaccarelli, konflik yang berkepanjangan dengan Iran dapat memperumit prospek ekonomi AS.
“Jika ini terus berlanjut, The Fed tidak akan berada dalam posisi untuk memangkas suku bunga,” kata Zaccarelli.

[…] Trump Dicibir usai Bilang “Saya Suka Inflasi” di Tengah Harga Naik […]