Trump Disebut Bohong 7 Kali dalam 1 Jam oleh Iran
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Selat Hormuz dibantah keras oleh Teheran.
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai klaim Trump tidak sesuai dengan fakta di lapangan dan justru memperkeruh situasi di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung.
Baca Juga: AS Dituduh Langgar Kesepakatan Gencatan, Selat Hormuz Ditutup Lagi
Iran Sebut Klaim Trump Soal Selat Hormuz Tidak Benar
Pernyataan ini muncul setelah Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz untuk kapal komersial selama masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyatakan jalur tersebut terbuka, yang berdampak pada turunnya harga minyak global sekitar 10 persen.
Namun, keputusan itu tidak berlangsung lama. Teheran kembali menutup akses dan menegaskan bahwa kendali penuh berada di tangan militer Iran.
“Selat Hormuz telah kembali ke keadaan semula dan sekali lagi berada di bawah manajemen dan kendali ketat militer Iran,” ungkap Teheran.
Iran menyebut langkah tersebut diambil karena Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang bahkan dituding sebagai bentuk “pembajakan dan pencurian maritim”.
Baca Juga: Selat Hormuz Siap Dibuka Iran Lagi, Tapi Ada Syaratnya!
Ghalibaf: AS Tidak Akan Menang dengan Kebohongan
Menanggapi klaim Trump yang menyebut Iran tidak akan menutup Selat Hormuz lagi, Ghalibaf memberikan bantahan tegas.
“Presiden AS mengajukan tujuh klaim dalam satu jam, yang semuanya salah,” ujar Ghalibaf.
Ia juga menegaskan bahwa narasi yang dibangun AS tidak akan mempengaruhi posisi Iran, baik di medan konflik maupun meja perundingan.
“Amerika tidak memenangkan perang dengan kebohongan ini, dan mereka tentu tidak akan mendapatkan apa pun dalam negosiasi,” lanjut dia.
Menurut dia, realitas di lapangan menjadi penentu utama, bukan pernyataan di media sosial.
“Kendali atas Selat Hormuz akan ditentukan di lapangan, bukan di media sosial,” tutur dia.
Ia juga menyinggung upaya pembentukan opini publik sebagai bagian dari strategi konflik.
“Perang media dan rekayasa opini publik adalah bagian penting dari perang, dan bangsa Iran tidak terpengaruh oleh trik-trik ini,” pungkas dia.
Di sisi lain, laporan media Iran menyebut Teheran masih ragu untuk melanjutkan putaran negosiasi berikutnya dengan AS, terutama karena blokade laut yang belum dicabut dan tuntutan Washington yang dinilai berlebihan.
Baca Juga: Selat Hormuz Tutup Lagi, Pemerintah Terus Pantau Kondisi Kapal Pertamina
