Trump Sebut Rencana Selat Hormuz Jadi Wilayah AS “Ide Bagus”
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut gagasan menjadikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS sebagai ide yang bagus.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan pada Senin (17/8/2026).
Ia pun ditanya mengenai pernyataannya sebelumnya terkait kemungkinan menjadikan jalur air strategis tersebut sebagai wilayah AS.
“Saya memang berpikir itu ide yang bagus,” kata Trump.
Dia kemudian mengeklaim AS saat ini telah mengendalikan Selat Hormuz melalui blokade.
“Kami mengendalikan (Selat Hormuz) melalui blokade, dan saya menyukai gagasan untuk menyatakannya sebagai wilayah (AS),” lanjut dia, sebagaimana dilansir Sputnik via Antara.
Baca Juga: Trump Sebut Selat Hormuz Milik AS, Iran Balik Murka
Trump juga kembali mengeklaim bahwa AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.
Menurut dia, blokade yang dilakukan AS berjalan efektif. Trump juga menyebut langkah tersebut membuat jalur pelayaran tetap terbuka dan harga minyak turun.
“Blokade itu sangat efektif, dan Anda tahu. Kami mengeluarkan jutaan barel minyak per Minggu, selat itu terbuka, dan harga minyak turun, dan akan terus turun kecuali kami memutuskan melakukan sesuatu yang jauh lebih drastis daripada yang kami lakukan sekarang,” lanjut dia.
Sebelumnya, pada Jumat (14/8/2026), Trump mengeklaim akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.
Pada 8 Juli 2026, ia menyatakan gencatan senjata antara AS dan Iran yang dicapai pada malam 18 Juni tidak lagi berlaku.
Sejak saat itu, militer AS melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran.
Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) menyebut serangan tersebut sebagai respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah.
Baca Juga: Rudal Hipersonik Diuji Jepang di Australia, China DIbidik?
Teheran juga kembali menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Dalam beberapa pekan terakhir, AS dan Iran berupaya mencapai kesepakatan baru untuk mengakhiri konflik.
Upaya tersebut melibatkan sejumlah mediator dari negara-negara Timur Tengah.
Trump pada 9 Agustus mengatakan Washington masih bernegosiasi dengan Teheran.
Namun, dia menilai Iran menjalani proses negosiasi dengan langkah yang setengah hati.
Di sisi lain, kondisi ekonomi Iran disebut semakin memburuk di tengah konflik yang berlangsung.
